Terduga Anggota Teroris Ditangkap di Bungo

Terduga Anggota Teroris Ditangkap di Bungo
Ilustrasi ( Foto: Antara )
Usmin / JAS Senin, 14 Oktober 2019 | 08:25 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Tim Detasemen Khusus (Densus) Densus 88 Antiteror Mabes Polri hingga Senin (14/10/2019) masih menahan dan memeriksa seorang terduga anggota jaringan teroris berinisial R (35), warga Dusun Sungai Mengkuang, Kecamatan Rimbo tengah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penahanan dan pemeriksaan terduga anggota jaringan teroris tersebut masih dirahasiakan.

Kapolres Bungo, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Trisaksono Puspo di Bungo, Jambi, Senin (14/10/2019) menjelaskan, pihaknya belum bisa menjelaskan kasus penangkapan terduga anggota jaringan teroris di Bungo tersebut.

“Ya, memang ada penangkapan terduga anggota jaringan teroris di Bungo. Tapi penangkapan dilakukan Densus 88 Mabes Polri. Nanti Mabes Polri yang memberi keterangan resmi. Itu bukan kewenangan kami,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Densus 88 Wilayah Jambi, AKBP Januario Jose Morais mengatakan, Tim Densus 88 Mabes Polri menangkap seorang terduga anggota jaringan teroris di Bungo. Terduga anggota jaringan teroris berinisial R tersebut ditangkap di Jalan Raden Mattaher, Kelurahan Cadika, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Jumat (12/10) malam.

"Kami masih mengembangkan kasus penangkapan terduga anggota jaringan teroris tersebut. Karena itu kami belum bisa menginformasikan terduga anggota jaringan teroris tersebut berafiliasi ke jaringan teroris yang mana. Nantilah Mabes Polri yang memberi keterangan,” ujarnya.

Menurut Januario Jose Morais yang juga mantan Kapolres Bungo, dua anggota jaringan teroris pernah juga ditangkap di wilayah Bungo, Juni 2018. Kedua anggota jaringan teroris yang membakar Kantor Polres Dharmasraya, Sumatera Barat tersebut terlibat Jaringan Ansarul Tauhid (JAT).

Sementara itu, Wardi (52), mertua terduga anggota jaringan teroris yang tertangkap tersebut mengatakan, keluarganya tidak menduga menantunya tersebut terlibat jaringan teroris. Selama ini menantunya berjualan makanan berkeliling ke sekolah-sekolah menggunakan sepeda motor.

“Saya tidak mengetahui menantu saya terlibat jaringan teroris. Selama ini menantu saya hanya berjualan makanan ringan keliling ke sekolah-sekolah. Dia memilih pekerjaan itu karena tidak sanggup bekerja dengan saya membuat batu-bata,”katanya.

Wardi menjelaskan, sejak menikah dengan putrinya tahun 2009, R memboyong putrinya tinggal di kampung orangtuanya, Demak, Jawa Tengah. R dan keluarga pindak ke Bungo, Jambi tahun 2017. Selama di Bungo, R berjualan makanan secara keliling dan istrinya berjualan pakaian secara online.



Sumber: Suara Pembaruan