Jelang Pelantikan Presiden, Menristekdikti Imbau Mahasiswa Tidak Berdemonstrasi

Jelang Pelantikan Presiden, Menristekdikti Imbau Mahasiswa Tidak Berdemonstrasi
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pidato sambutan saat acara Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. Seminar ini diselenggarakan untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, disamping itu untuk membekali siswa didik dengan pendidikan serta keterampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 15 Oktober 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengimbau para mahasiswa untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa pada hari pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024 yang akan berlangsung pada Minggu (20/10/2019).

“Saya harapkan kita dalam masalah demo, cobalah kembali (berpikir, red) apa yang didemokan. Kalau urusan Undang-undang, kita melalui jalan konstitusi melalui Mahkamah Konstitusi. Kalau kita urusannya pada RUU, kita ke DPR untuk memberikan masukan. Bukan menekan atau mengekang, harus diskusi,” kata Nasir di gedung Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jakarta, Senin (14/10/2019).

Nasir menuturkan, pihaknya juga telah mengimbau para rektor perguruan tinggi untuk tidak mengerahkan mahasiswa untuk demo. Mereka diimbau untuk mengajak mahasiswa berdiskusi tentang apa yang terjadi di Indonesia, khususnya yang menyangkut RUU dan apa yang terjadi di publik. “Jadi secara ilmiah nanti setelah itu berikan satu rekomendasi,” ujarnya.

Ia menuturkan, pihaknya juga telah mengantisipasi dengan mengundang rektor serta memberi surat imbauan kepada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) agar mahasiswa tidak turun ke jalan. Pasalnya, ia khawatir aksi tersebut ditunggangi oleh pihak lain.

Menurut Nasir, banyak mahasiswa yang sepakat dengan hal tersebut dan enggan untuk melakukan aksi lagi.

“Sekarang mereka tidak mau lagi (demonstrasi, red). Sekarang mereka sadar, kalau mereka demo, bisa saja ditumpangi oleh orang lain dengan kepentingannya berbeda dan akhirnya mahasiswa terganggu. Kepentingan mahasiswa tidak tercapai. Oleh karena itu, saya harapkan mahasiswa tidak berdemo dan kembali ke kampus. Kalau di kampus jelas dan bukan demo,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan