Banyak yang Rindu Jonan Kembali ke Kemhub

Banyak yang Rindu Jonan Kembali ke Kemhub
Ignasius Jonan. ( Foto: Antara )
Yuliantino Situmorang / YS Selasa, 15 Oktober 2019 | 21:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Nama Ignasisus Jonan kembali hadir di bursa kabinet kedua Joko Widodo (Jokowi). Ternyata, banyak insan perhubungan yang rindu Jonan kembali menjabat sebagai Menhub. Saat ini, Jonan masih menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hal itu disampaikan sejumlah kalangan menanggapi kabar yang beredar bahwa Jonan akan kembali menjabat sebagai Menhub.

“Beliau bagus banget waktu di Kereta Api. Lebih bagus lagi waktu jadi menteri perhubungan,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman.

Pengusaha angkutan logistik itu mengemukakan, beberapa kali bersama sejumlah pengusaha dan kalangan akademik diajak berdiskusi untuk membahas sejumlah isu.

“Beliau mendengarkan, membahas, lalu ikut sepakat dengan kesepakatan. Beliau kawal betul kesepakatan itu. Enggak bergeser satu senti pun. Artinya beliau taat azas. Komit dengan kesepakatan dan regulasi,” ujar dia.

Jonan juga dinilai menghadirkan "revolusi" pelayanan di Kementerian Perhubungan. Ia mendorong pelayanan publik, yang tidak hanya memudahkan publik mengakses, tetapi juga diwarnai sejumlah inovasi.

"Dan yang lebih penting bebas pungli dan korupsi. Beliau enggak segan-segan menindak bawahannya. Walau bawahan itu baru menjabat beberapa hari, bisa langsung dimutasi, malah bisa non job,” ungkapnya.

“Jadinya rindu dengan sosok Pak Jonan di Kemhub,” kata dia.

Hal senada dikatakan Direktur Eksekutif DPP Asosisi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Budi Wiyono.

"Jonan itu disiplin, tegas, enggak neko-neko, dan cepat mengambil keputusan yang bersentuhan dengan kepentingan publik,” ujarnya.

Dia mencontohkan ketika Peraturan Menteri Perhubungan (PM) Nomor 10 Tahun 1988 direvisi menjadi PM 74 Tahun 2015. Revisi itu membengkakkan modal dasar perusahaan jasa freight forwarding pengurusan dari Rp 200 juta jadi Rp 25 miliar.

“Kami protes. Satroni Jonan. Dia mau menerima. Kami bilang ke dia, Kemhub ini maunya apa. Ngerti apa enggak kalau freight forwarding itu lebih ke skill business, lebih banyak orang ketimbang aset. Enggak perlu modal besar. Lagipula di tingkat ASEAN disepakati hanya Rp 1,5 miliar. Ini Indonesia malah Rp 25 miliar.,” ujar Budi.

Karena kepada Jonan, pengurus ALFI menyampaikan, “Apakah keputusan menteri itu bisa didiskusikan atau kita tempur saja. Anggota ALFI ada 3.000 lebih.”

Setelah diskusi cukup alot, kisah Budi, akhirnya Jonan mengambil keputusan untuk tidak segera merevisi KM 76 Tahun 2012 karena butuh proses.

“Hanya saja Jonan, bilang untuk sementara cukup rekomendasi dari ALFI soal modal dasar anggota. Jonan akhirnya merevisi menjadi PM 78 Tahun 2015. Malah belakangan revisi lagi menjadi PM 146 tahun 2015, PM 12 tahun 2016, PM 130 tahun 2016, dan PM 49 tahun 2017,” ungkapnya.

Cepat tanggapnya Jonan sekaligus segera mengambil keputusan, Budi Wiyono menuturkan menjadi bukti bahwa Jonan merupakan sosok yang aspiratif dan tegas.

“Dia terbuka untuk diskusi. Dia terbuka untuk merevisi kebijakan dengan menyesuaikan dinamika serta tuntutan dunia usaha,” cetusnya.

Ketegasan dan disiplin dalam diri Jonan dikemukakan pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno.

Meski menerapkan kedisiplinan tinggi dan mendorong peningkatan kualitas serta kuantitas pelayanan, Jonan ternyata amat peduli terhadap jajaran Kemhub.

“Beliau yang mewajibkan tunjangan kinerja cair setiap bulan. Pak Jonan juga mengupayakan kenaikan jumlah tunjangan kinerja,” jelas Djoko Setijowarno.

Peduli Keselamatan
Ketua Umum Indonesian National Ferryowners Association (INFA) Edi Oetomo menuturkan, Jonan sebagai sosok yang sangat peduli pada keselamatan transportasi.

“Pak Jonan juga sangat tegas dalam aspek safety. Untuk urusan ini beliau berani berhadapan dengan siapapun,” cetusnya.

Dalam konteks safety bertransportasi ini, sejarah mencatat Jonan memang selalu menegaskan: “Lebih baik tidak berangkat daripada tidak pulang!"

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dan konsumen Agus Pambagio menuturkan, Kemhub perlu dipimpin oleh orang yg punya ketegasan, integritas tinggi, paham industri perhubungan.

Agus menegaskan, Kemhub tidak dapat dikelola dengan sembarangan karena tupoksi Kemhub adalah keselamatan dan keamanan transportasi.

“Sebagai leader, Jonan sudah membuktikan mampu menata PT KAI dari yang amburadul, rugi besar, dan berantakan menjadi sebuah BUMN cemerlang dengan laba fantastis dan diminati oleh anak-anak milenial sebagai tempat favorit untuk meniti karier masa depan,” ucapnya.

Kemhub merupakan Kementerian besar yang memerlukan pemimpin yang punya karakter untuk dapat menyatukan semua kepentingan di dalamnya.

"Ignasius Jonan sudah terbukti selama kepemimpinannya yang relatif singkat di Kemhub sempat menata Kemhub, hanya saja belum selesai, Jonan sudah diberhentikan. Jonan cocok untuk kembali jadi Menhub di era 2019–2024,” ujar Agus.

Sementara itu, Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas menuturkan, Jonan memang paling cocok jadi menhub mendatang, karena dengan segala kecerdasannya mampu membawa Kemhub dengan wajah pelayanan publik yang mengkilat.

Dia mengemukakan, Jonan sosok yang cocok untuk melakukan perbaikan layanan transportasi dan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi, karena selain punya pengalaman sukses membenahi perkeretaapian Indonesia sehingga menjadi lebih beradab dan manusiawi, juga pada saat menjadi Menhub lalu berhasil membangun kultur layanan di Perhubungan.

"Saat ini kita mengalami krisis angkutan umum, terutama di daerah-daerah dan untuk itu diperlukan sosok yang mampu mendorong daerah untuk membangun angkutan umum," ujar dia.

Menurut dia, pengalamannya menjadi Menteri ESDM akan semakin memperkaya khazanahnya tentang apa yang harus dilakukan untuk mendorong percepatan pembangunan angkutan umum, mengingat angkutan umum adalah jawaban jitu untuk penghematan penggunaan BBM.



Sumber: Suara Pembaruan