"Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia" Sambut Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin

Gerobak Sapi yang menjadi simbol harapan agar kepemimpinan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, tetap bervisi kerakyatan akan ikut dalam selebrasi budaya bertajuk “Parade Merah-Putih dari Yogya untuk Indonesia” pada Sabtu 19 Oktober 2019 di Malioboro menyambut pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:11 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Penyanyi asal Papua Edo Kondologit bersama warga DI Yogyakarta menyambut pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, dalam gelaran selebrasi budaya bertajuk “Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia” pada Sabtu 19 Oktober 2019 di Malioboro. Karnaval budaya dimulai pukul 15.00 WIB dari titik star dari halaman DPRD DIY dan finis di Halaman Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Koordinator Parade Merah Putih, Widihasto Wasana Putra mengatakan, Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia diikuti puluhan komponen masyarakat dengan total peserta mencapai 2.000 orang. Terdiri dari 35 kontingen yakni Paskibraka DIY, abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman, Marching Band Universitas Gajah Mada, Bregada Niti Manggala, GK Ladies, Srikandi Idaman, Laskar Kebaya Metal, Detasemen Cobra Airsoft Gun Club Yogyakarta, Marching Band SMA Bopkri II Yogyakarta, Bregada Klono Cipto Wening, Batalyon TNI 403/Wirasada Pratista, Barongsay dan liong serta penari dari Jogja Chinese Art and Culture Centre, dan Yogyakarta Land Rover Community. Termasuk juga kereta kencana dan sepasang gerobak sapi yang akan membawa foto Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Sedang Edo Kondologit akan tampil di titik finis. "Pelantikan presiden ini menjadi momentum untuk menyongsong masa depan yang lebih baik," ujar Widihasto Wasana Putra, di DPRD DIY, Kamis (17/10/2019).

Menurut Widihasto, acara tersebut bukan sekadar parade budaya yang mempertontonkan kebinekaan dari Yogyakarta. Lebih dari itu, Parade Merah Putih ini sarat filosofi. Setidaknya ada tiga hal mendasar yakni sebagai ungkapan doa dari Yogyakarta untuk Indonesia sehingga NKRI berlandaskan Pancasila tetap jaya.

Kedua, parade ini sebagai upaya berkelanjutan merawat kebersamaan, persatuan, dan kesatuan antara komponen warga bangsa dan ketiga, warna-warni yang dihadirkan dalam parade ini juga memiliki maknanya masing-masing. Foto presiden dan wakil presiden, misalnya, akan diarak gerobak sapi yang mencerminkan harapan agar kepemimpinan Jokowi dan Ma’ruf Amin tetap bervisi kerakyatan.

Selain itu, ada pula pembagian empat gunungan kuliner yang terdiri dari gunungan sayur, salak, bakpia, dan geplak yang akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir, menggambarkan pemimpin harus membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Juga akan ada kontingen yang membawa bendera merah putih berukuran 3x50 meter serta pembagian 1.000 bendera merah putih berukuran kecil.

Menurutnya tantangan bangsa Indonesia ke depan di tengah ancaman tekanan resesi global akan makin berat. Tak ada jalan lain kecuali seluruh komponen bangsa bergotong royong bahu membahu memperkuat semua lini kehidupan, khususnya dalam rangka memantabkan stabilitas sosial politik dan keamanan serta penciptaan iklim ekonomi yang kondusif.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, sampai Kamis (17/10/2019), belum ada pihak-pihak yang mengajukan ijin atau pemberitahuan rencana aksi/demo jelang pelantikan Presiden-wakil Presiden RI.

“Sampai saat ini belum ada pemberitahun baik di Polresta Yogya maupun di Polres Sleman. Kami harap memang tidak ada aksi, karena memang dari Pusat ada himbauan untuk tidak menggelar aksi selama pelantikan,” katanya.

Namun untuk pengamanan, lanjutnya, sesuai dengan protapnya, patrol dan pengamanan tertutup akan ditingkatkan, termasuk melibatkan Babimkamtibmas dan organisasi kemasyarakatan resmi.

Terkait dengan keamanan dan Yogya yang dijadikan target bom bunuh diri, Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan DIY Agus Sumaryoto dalam keterangan tertulisnya menyatakan, dengan tertangkapnya puluhan terduga teroris yang berafiliasi dengan kelompok JAD (Jamaah Ansharud Daulah) oleh Densus 88, seluruh pengurus Dewan Paroki se kevikepan wajib meningkatkan kewaspadaan, dengan menambah personil pengamanan gereja pada saat ibadat Ekaristi Sabtu dan Minggu, 19-20 Oktober 2019 ini.

Selain itu juga harus meningkatkan jalinan komunikasi lewat jejaring URC KKPKC mengenai situasi dan kondisi di masing-masing paroki. 



Sumber: Suara Pembaruan