Komitmen Investasi di WJIS 2019 Tembus Rp 53,8 Triliun

Komitmen Investasi di WJIS 2019 Tembus Rp 53,8 Triliun
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memberi sambutan pada acara "West Java Investment Summit 2019" di Bandung, Jawa Barat, Jumat (18/10). ( Foto: Antara )
Adi Marsiela / LES Sabtu, 19 Oktober 2019 | 13:04 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Gelaran West Java Investment Summit (WJIS) 2019 mencatatkan komitmen investasi sebesar Rp 53,8 triliun atau setara US$ 3,8 miliar untuk berbagai proyek di Jawa Barat, provinsi dengan populasi sedikitnya 46,5 juta jiwa atau yang terpadat di Indonesia.

“Ada tanda tangan MoU dengan pihak-pihak yang melakukan proyek di Jawa Barat. Ada 23 tanda tangan MoU, ada project announcement-nya juga,” ujar Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil usai memberikan sambutannya dalam WJIS 2019 di Trans Luxury Hotel, Bandung, Jumat (18/10/2019).

Dalam acara yang terselenggara atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat ini, Ridwan mengungkapkan, investasi sebesar itu bisa diikuti dengan terbukanya peluang bagi 30.000 tenaga kerja baru. Investasi itu secara umum terbagi menjadi tiga. Pembangunan industri manufaktur, investasi untuk kerja sama pembangunan berbagai proyek pemerintah tingkat daerah, hingga investasi dengan skema Public Private Partnership (PPP).

Ridwan mengklaim, komitmen investasi tersebut merupakan buah dari kunjungannya ke berbagai negara pada tahun pertamanya menjabat sebagai gubernur. Dalam berbagai kunjungannya, Ridwan menemui pelaku bisnis dari berbagai sektor di luar negeri.

“Jika dibandingkan dengan kegiatan tahun lalu, hari ini sangat berbeda. Lebih meriah, kenapa? Karena orang sudah menaruh kepercayaan. Saya tahu bagaimana menghubungkan dengan pebisnis, saya harus mengetuk pintu mereka,” imbuhnya sembari menambahkan pelaku usaha global membutuhkan kepastian hukum, profesionalitas, dan transparansi dari pemerintah di saat menanamkan modal atau memulai usahanya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat, Dadang Mohamad Masoem menyatakan investasi di Jawa Barat hingga semester pertama 2019 menyerap sedikitnya 71,573 tenaga kerja. Daya tarik investasi di Jawa Barat, kata Dadang, berkaitan dengan infrastruktur yang relatif baik dan lengkap ketimbang provinsi lainnya.

“Kemudahan berinvestasi pun terus-menerus diperbaiki dengan sistem online,” kata Dadang.

Berdasarkan data DPMPTSP Provinsi Jawa Barat, investasi terbesar masih tercatat di sektor industri. Hal ini tergambar dari adanya 25 kawasan industri di Jawa Barat yang tidak dimiliki provinsi lain. “Apalagi dengan adanya program KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi) dari presiden, jadi berlomba-lomba ke Jawa Barat dengan kemudahan itu,” tutur Dadang.

Ridwan mengungkapkan, pelambatan ekonomi global juga jadi peluang bagi pihaknya untuk menarik investor. Salah satunya berkaitan dengan rencana kepindahan pelaku usaha asal Taiwan yang selama ini berinvestasi di Tiongkok. Menurut Ridwan, para pelaku usaha itu tengah menyasar wilayah Asia Tenggara sebagai tempat untuk investasi usahanya. “Pertanyaannya, mau ke mana mereka?” imbuh Ridwan.

Hingga pertengahan 2019 ini, Ridwan memaparkan, nilai investasi yang sudah masuk mencapai Rp68 triliun. Investasi, sambung dia, merupakan salah satu cara untuk membiayai pembangunan di Jawa Barat selain PPP dan dana umat seperti zakat. “APBD (anggaran pendapatan belanja daerah) kami itu hanya maksimum 10 persen untuk membiayai pembangunan,” terang Ridwan.

Terkait komitmen proyek yang ditandatangani pada WJIS 2019, Ridwan menyatakan, sebagian besarnya sudah mengantungi perizinan. “Kalau disebut realisasi katakan itu, karena sebagian besar sudah memperoleh proses izin,” ujarnya.

Beberapa komitmen investasi itu, antara lain, PT West Java International Airport-Aerocity Development dengan Homnicen asal Tiongkok dalam Cooperation on the Development of Business Park II and Creative Technology Center sebesar Rp2 triliun. Ada juga kerja sama antara PT Tirta Gemah Ripah yang bergerak dalam layanan dan proyek penyediaan air minum dan air bersih dengan enam perusahaan yakni Adaro Water, Adhi Karya, Manila Water hingga RAF Technologi untuk pengembangan proyek SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) di Jawa Barat dengan nilai proyek hingga Rp3,6 triliun.

MoU juga dilakukan badan usaha milik daerah seperti PT Agro Jabar, PT Jaswita, PT Migas Hulu Jabar. Ada pula MoU antara Kawasan Ekonomi Khusus Pangandaran dengan lima grup perhotelan besar yakni AccorHotels, Sahid Group hingga Sintesis senilai Rp2 triliun.



Sumber: Suara Pembaruan