Susi Pudjiastuti Pamit

Melihat Tak Cukup dengan Mata

Melihat Tak Cukup dengan Mata
Susi Pudjiastuti. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / AB Minggu, 20 Oktober 2019 | 06:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - "Melihat sesuatu tak cukup dengan mata. Mendengar sesuatu tak cukup dengan telinga. Merasakan sesuatu tak mesti dengan menyentuh. Jadilah orang bebas yang berpikir bebas demi meraih terbaik dalam hidupmu."

Itulah kata-kata bijak dari Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan periode 2014-2019, yang disampaikan kepada Beritasatu.com, Jumat (18/10/2019). Kata-kata bijak ini ditulisnya dalam bahasa Inggris di halaman kedua buku Laut Masa Depan Bangsa: Transformasi Kekuatan & Perikanan 2014-2019 yang diberikan kepada Beritasatu.com malam itu. Buku yang sama dibagikan kepada para pemimpin redaksi media massa nasional yang hadir acara farewell di rumah dinasnya di kawasan Widyachandra, Jakarta.

"See things not only with your eyes. Listen to things not only with your ear. Feel things without you always to touch. Free and liberate your mind for your best." Demikian tulis tangan Susi tentang wisdom terbaik dalam hidupnya atas permintaan Beritasatu.com.


Susi Pudjiastuti.

Dua hari menjelang pelantikan Joko Widodo menjadi presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, Minggu (20/10/2019), para menteri menggelar farewell atau acara perpisahan pada siang hari di Kantor Presiden. Susi yang dekat dengan pers menggelar lagi malam perpisahan dengan para pemred. Selain testimoni sejumlah pemred dan sambutan perpisahan dari Susi, acara diramaikan dengan musik.

Susi Pudjiastusi menerima kenang-kenangan dari Forum Pemred.

Banyak capaian yang sudah diukir Susi. Namun, bagi wanita periang itu, ada dua capaian penting. Pertama, apresiasi masyarakat yang sangat besar terhadap kebijakan di bidang perikanan yang digulirkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kedua, meningkatnya kecintaan bangsa ini terhadap laut. Sejak ia memimpin KKP, laut menjadi buah bibir. Rakyat kian mencintai laut sebagai sumber kehidupan.

Susi adalah menteri Kabinet Kerja I yang paling populer. Ke mana ia pergi, ia dielu-elukan masyarakat. Dia adalah menteri yang paling banyak diminta foto selfie oleh masyarakat.

"Saya suka sama Ibu Susi karena ia punya karakter," kata Rima, ibu setengah baya yang tinggal di Jakarta, Jumat (18/10/2019) saat melihat berita dan foto farewell Susi di media sosial.

Hasil survei Center for Digital Society (CfDS) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta beberapa bulan lalu menunjukkan Susi adalah menteri dengan follower Instagram terbanyak, yakni 3,3 juta. Menkeu Sri Mulyani Indrawati di peringkat kedua dengan jumlah follower 1,4 juta. Survei dilakukan 25 Mei hingga 18 Juni 2019 terhadap 38 menteri Presiden Jokowi.

"Tenggelamkan"
Masyarakat puas terhadap kinerja KKP di bawah Menteri Susi. Kebijakan melarang kapal asing beroperasi di Indonesia dan tidak memperbolehkan penggunaan alat tangkap cantrang meningkatkan populasi ikan. Sejumlah jenis ikan yang pada masa lalu menghilang, belakangan ini mudah dijumpai nelayan di pinggir pantai. Lobster kembali ditemui nelayan. Ikan kakap di Papua masuk dari muara hingga jauh ke hulu.

Di mata masyarakat, penampilan Susi di panggung politik cukup merepresentasikan mereka. Kapal asing berpikir seribu kali untuk mengambil ikan di perairan Indonesia. Tanpa tedeng aling-aling, kapal-kapal asing yang melawan hukum itu ditahan dan dimusnahkan. "Ditenggelamkan" menjadi kosa kata paling populer selama lima tahun terakhir.

Anugerah
Susi sesungguhnya tidak lagi menjual ikan sejak awal 2000-an. Karena ikan sudah sangat langka. Ikan-ikan berkualitas ditangkap kapal asing. "Saya banting setir karena ikan sudah tidak ada lagi," kata Susi kepada Beritasatu.com pada sebuah kesempatan.

Susi Pudjiastuti bersama Direktur Pemberitaan BSMH, Primus Dorimulu.

Karena itu, ketika dipercayakan Presiden Jokowi menjadi menteri KKP, ia merasakan sebagai sebuah anugerah. "Seperti kata pepatah, pucuk dicinta, ulam tiba. Sesuatu yang sebelumnya menjadi keinginan, cita-cita, obsesi, dan harapan, kini menjadi kenyataan," ungkap Susi pada malam perpisahan dengan para pemred.

Jabatan menteri KKP langsung ia genggam erat. Semua kewenangan yang melekat di kementerian ini dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan rakyat. Sebagai orang yang memahami laut dan kekayaannya, ia yakin, kesejahteraan rakyat akan meningkat jika sektor perikanan dikelola dengan baik

Selama periode 2014-2019, demikian Susi, PDB perikanan melesat 50%. Data KKP menunjukkan, PDB perikanan pada triwulan II 2019 naik menjadi Rp 62,24 triliun. Ia yakin, jika kebijakannya diteruskan, pendapatan masyarakat akan meningkat. Ketika neraca perdagangan Indonesia didera defisit, sektor perikanan mencatat surplus.

Ekspor perikanan pada semester I 2019 sebesar Rp 40,57 triliun, naik 24,29% dibandingkan semester I 2018 yang mencapai Rp 32,64 triliun. Dengan koordinasi yang lebih baik antarkementerian dan lembaga, surplus neraca perikanan akan terus membesar.

Potensi laut Indonesia belum sungguh dikelola terpadu, yang melibatkan berbagai kementerian. Kondisi ini menyebabkan illegal fishing dan ekspor ilegal masih terus terjadi. "Kekayaan terbesar di ASEAN ada di Indonesia. Masa, ekspor kita kalah dari Vietnam," ujar Susi.

Ekspor ikan Vietnam tahun 2018 mencapai US$ 8,9 miliar, sedang Sedangkan Indonesia baru memproyeksikan ekspor ikan US$ 5,9 miliar tahun 2020. Vietnam pun sangat rajin mencari bibit ikan dan udang dari perairan Indonesia.

Kembali ke Habitat
Susi mengaku tak mendapatkan sinyal apa pun dari Presiden Jokowi untuk tetap berada di kabinet. "Bagi saya, kesempatan lima tahun yang diberikan sudah merupakan anugerah dan saya sudah menjalankan dengan serius," ungkapnya.

Banyak suka dan duka yang dialaminya selama menjadi menteri. Kegembiraan didapatkan saat melihat apresiasi masyarakat atas kinerja KKP dan tingginya perhatian masyarakat terhadap laut.

Namun, di balik suka, ada duka yang acap menderanya, terutama dalam memperjuangkan kebijakan yang penting bagi masyarakat. Larangan operasi terhadap kapal asing, misalnya, mendapatkan perlawanan sengit dari para pengusaha besar, bahkan juga dari rekan sejawatnya.

Namun, Susi jalan terus. "Ini saya. Kalau menghendaki saya menjadi menteri, inilah saya." Kira-kira begitulah sikap wanita asal Pangandaran, Jabar, yang sejak remaja sudah berbisnis. Ia malah meninggalkan bangku SMA untuk merintis karier.

Malam itu, Susi menari lepas. Mungkin karena sebentar lagi ia kembali ke habitatnya. Menjadi manusia bebas, yang berpikir, dan bertindak bebas. Tak ada yang perlu disesali karena hari esok mempunyai tantangan tersendiri.

Meski tidak mengenyami pendidikan tinggi, wanita yang fasih berbahasa Inggris ini memiliki wawasan luas dan paham bidang tugasnya di KKP. Susi dilihat publik sebagai menteri berprestasi. Ibarat sepak bola, ia telah memberikan perbedaan di dalam tim Presiden Jokowi.

Lebih dari itu, ia memiliki social intelligence, kecerdasan sosial yang tinggi. Seperti best quotes yang disukainya, ia terbiasa untuk tak hanya melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dan merasakan dengan sentuhan. Karena untuk menangkap kondisi riil masyarakat, seseorang harus bisa melihat, mendengar, dan merasakan dengan hati. 



Sumber: BeritaSatu.com