175 Pengungsi Wamena Tiba di Medan, Gubernur Minta Anak-anak Difasilitasi Sekolahnya

175 Pengungsi Wamena Tiba di Medan, Gubernur Minta Anak-anak Difasilitasi Sekolahnya
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi berbincang dengan pengungsi asal Wamena, Papua, yang tiba di Kota Medan. ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / LES Selasa, 22 Oktober 2019 | 12:14 WIB

Medan, Beritasatu.com - Sebanyak 175 warga asal Sumatera Utara (Sumut) yang mengungsi akibat kerusuhan di Wamena, Papua, tiba di Kantor Gubernur Sumut Jalan Diponegoro Medan, Senin (21/10/2019). Para pengungsi yang menempuh perjalanan selama 10 hari itu disambut Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.

Para pengungsi yang didampingi tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut naik kapal laut dari Jayapura menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Selanjutnya, menggunakan 8 bus angkutan umum Antar Lintas Sumatera (ALS) langsung menuju Medan. Dari 175 pengungsi, sebanyak 166 orang di antaranya merupakan warga Sumut dari 12 kabupaten/kota, yang selama ini bekerja di Wamena. Sedangkan, 5 orang lagi merupakan warga Aceh Tenggara dan 4 orang warga Riau.

Turut menyambut kedatangan pengungsi itu adalah Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting, Wakil Bupati Langkat Syah Afandin, OPD Pemprov Sumut, serta perwakilan kabupaten/kota yang menjemput pengungsi. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyampaikan, pendidikan anak-anak adalah prioritas yang harus diurus segera. Untuk itu, ia meminta pihak terkait mendata siswa SMA dan SMP agar difasilitasi administrasinya sewaktu pindah ke daerah ini.

"Saya minta tolong ini difasilitasi, kalau tidak mampu tolong sampaikan ke saya segera, nanti akan kita fasilitasi seragam sekolah, buku, dan sepatunya. Jangan sampai anak-anak putus sekolah," pesan Edy Rahmayadi.

Kemudian, ia juga menyoroti tentang kehidupan pengungsi setelah tiba di kampung halamanya masing-masing. Menurutnya, warga yang baru tiba tersebut akan kesulitan jika kehidupannya tidak dibantu dan difasilitasi. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) diharapkan segera membantu warganya yang baru tiba dari Wamena. "Saya sudah berkomunikasi dengan Pemkab/Pemkot ada warganya yang mengalami musibah ini untuk dibantu kehidupannya, paling tidak selama 3 bulan ke depan. Nanti kita fasilitasi dan monitor agar ini dilakukan," tegas Edy.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga memberikan tali asih dan bingkisan untuk para pengungsi. Selanjutnya, para pengungsi akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing, dengan didampingi oleh para penjemput yang mewakili kabupaten/kota. Edy Rahmayadi meminta para penjemput warga dari masing-masing kabupaten/kota agar memastikan warganya sampai di rumah dengan selamat. Serta diminta agar terus berkoordinasi jika masih memerlukan bantuan Pemprov Sumut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Riadil Akhir Lubis memaparkan, data awal pengungsi yang terdata dan akan dipulangkan berjumlah 264 orang, kemudian berkurang menjadi 202 orang. Awalnya kapal direncanakan mengantar pengungsi sampai Belawan, Medan.

Namun, dikarenakan kapal yang digunakan diperbaiki, maka perjalanan dilanjutkan dengan 8 bus ALS dari Tanjung Priok. Riadil mengungkapkan, ada 1 keluarga yang turun di Jakarta lantaran ada seorang ibu yang sudah hamil tua. Atas kondisi itu maka keluarga tersebut turun di Jakarta dan tidak melanjutkan ke Medan.

Sementara itu, Dahlia Hutagaol salah satu pengungsi asal Toba Samosir mengaku takut jika kembali ke Wamena. Padahal ia dan suaminya telah tinggal selama 10 tahun di Wamena. Karena itu, ia memutuskan untuk ikut ke dalam rombongan yang difasilitasi oleh Pemprov Sumut. Dahlia bersama suaminya mengelola kios. Syukurnya kios yang mereka kelola aman hingga sekarang. Bahkan suaminya masih tinggal di Wamena untuk berjaga-jaga. "Saya ketakutan, padahal langganan kita biasanya orang Wamena tapi karena itu (kerusuhan) kita jadi takut, apalagi banyak anak kecil," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan