LIPI Gali Masukan Riset dan Inovasi dari Korsel

LIPI Gali Masukan Riset dan Inovasi dari Korsel
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko. ( Foto: Beritasatu Photo/Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 22 Oktober 2019 | 16:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggali masukan terkait penerapan riset teknologi dan inovasi dari Korea Selatan (Korsel). Untuk mendorong iptek dan inovasi terus terdepan dan menciptakan daya saing, diperlukan penguatan ekosistem riset.

Hal inilah yang menjadi semangat dari lahirnya Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek).

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko mengatakan, dalam penerapan iptek dan inovasi juga perlu didukung sumber daya manusia (SDM). Dalam konteks ini, Indonesia masih belum optimal membentuk SDM iptek.

"Itulah sebenarnya tujuan utama dari UU Nomor 11 Tahun 2019 itu. Jadi kita ingin menciptakan supaya SDM yang tangguh. Karena tidak cukup hanya disekolahkan saja. SDM iptek harus learning by doing. Selain itu, ekosistem riset perlu dibangun dan menarik industri melalui insentif industri lewat tax deduction," kata Handoko di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Saat ini, LIPI melalui program K-Innovation menjalin kerja sama antara LIPI dan Science and Technology Policy Institute (STEFI) Korea Selatan untuk memperkuat sinergi iptek di Indonesia dengan belajar aktif dari pengalaman negeri ginseng tersebut.

"Dari STEFI ini kita tidak berharap bahwa apa yang mereka pernah lakukan itu kita bisa tiru, mungkin ada tapi sebagian kecil karena kondisi itu selalu berubah karena ini kan social changes," ucap Handoko.

Chief Director STEPI, Deok Soon Yim melihat dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia telah menekankan tumbuhnya inovasi. Dalam rencana pembangunan, Indonesia negara yang berbasis pertanian berusaha menuju negara berbasis inovasi. "Secara ide sangat sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat sulit," imbuhnya.

Ditambah lagi tantangan pasca revolusi industri, yang membutuhkan adaptasi. Untuk itu kebijakan iptek bukan hanya kebijakan penelitian dan pengembangan semata tetapi harus diarahkan ke inovasi.

Kebijakan inovasi juga mencakup perubahan sosial, STEPI pun berharap Indonesia dapat memiliki lembaga pemikir yang baik terhadap kebijakan tidak hanya untuk sains dan teknologi, tapi juga memimpin industri nasional Indonesia.

Pelaksana tugas Pusat Penelitian Kebijakan Manajemen Iptek dan Inovasi LIPI, Dudi Hidayat mengatakan, kebijakan iptek saat ini dinilai memiliki kecenderungan bias pada sisi penghasil iptek.

"Kebijakan yang ada belum mampu mendorong terbangunnya sinergi antarpelaku iptek seperti akademisi, bisnis, pemerintah maupun masyarakat," ungkap Dudi.



Sumber: Suara Pembaruan