PLTA Batang Toru Wujud Komitmen EBT Indonesia

PLTA Batang Toru Wujud Komitmen EBT Indonesia
Aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ( Foto: Istimewa / Istimewa )
Nurjoni / Rangga Prakoso / ALD Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah menargetkan kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik mencapai 23% pada 2025, dan naik menjadi 31% pada 2050. Sementara saat ini, peran EBT baru mencapai 13% dari total bauran energi nasional.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, penggunaan energi terbarukan menjadi prioritas. Sementara energi berbasis fosil seperti solar dan batu bara diminimalkan.

Untuk mengurangi kebergantungan pada energi fosil, pemerintah Indonesia konsisten mengejar target kontribusi 23% EBT pada 2025. Target tersebut dapat dicapai dengan membangun tambahan pembangkit EBT sebanyak 2.000 MW per tahun. Salah satu pembangkit EBT tersebut adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mengingat Indonesia memiliki potensi sumber energi dari air hingga 75.000 MW.

Dari total potensi 75.000 MW listrik melalui PLTA di seluruh Indonesia, Sumatera berpotensi menghasilkan listrik berkapasitas 15.600 MW dari PLTA. Salah satunya adalah aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Sungai Batang Toru menyimpan potensi energi baru terbarukan yang besar. Sungai ini memiliki panjang kurang lebih 174 kilometer dengan lebar mencapai 40-60 meter dan kemiringan tebing sungai mencapai 45-60 derajat. Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang bersumber dari Sungai Batang Toru untuk dikonversi menjadi energi listrik oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), merupakan contoh nyata dalam skema pemanfaatan jasa lingkungan yang bersumber dari air.

“Pasokan energi listrik yang dibangun NSHE juga akan memperkuat daya yang disediakan PT PLN bagi Sumatera Utara dan menyumbang 15% dari beban puncak Sumatera Utara,” ujar Communications and External Director PT NSHE Firman Taufick kepada wartawan, saat kunjungan ke lokasi proyek PLTA Batang Toru di Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, wilayah Sumatera Utara masih darurat listrik. Saat ini PLN menyewa kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) dari Turki berkapasitas 240 MW untuk mengatasi defisit listrik di Sumatera Utara. Karena itu, keberadaan PLTA Batang Toru nantinya akan meningkatkan kemandirian energi di provinsi tersebut.

Tidak hanya itu, PLTA Batang Toru juga akan mendukung upaya pemerintah mengurangi kebergantungan pada energi fosil dan sekaligus mengurangi beban keuangan negara. “Dengan memakai sumber energi air maka pemerintah bisa menghemat pengeluaran devisa hingga US$ 400 juta per tahun, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil yang mesti diimpor (fuel cost avoidance),” jelas Firman.

PLTA Batang Toru merupakan salah satu proyek (COD) pada akhir tahun 2022. Dengan kapasitas produksi hingga 510 MW, PLTA Batang Toru dapat memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara untuk mendukung beban puncak dan akan memasok energi sebesar 2.124 GWh/tahun atau 15% kebutuhan beban puncak Sumatera Utara. “Progres proyek ini sudah mencapai sekitar 11% dan ditargetkan rampung pada 2022. Nantinya, PLTA Batang Toru bakal menggantikan sebagian fungsi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di wilayah Sumatera,” jelas Firman Taufick dalam jumpa media di Jakarta, belum lama ini.

Dia menegaskan, lokasi proyek pembangkit berada di Area Penggunaan Lain (APL). Wilayah yang bakal dipakai untuk bangunan permanen seluas 122 hektare, dengan rincian untuk luas bangunan 55 hektare dan luas genangan maksimal 67 hektare. Jumlah lahan yang digunakan sekitar 0,07% dari Ekosistem Batang Toru yang seluas 163 ribu hektare.

PLTA Batang Toru sangat efisien dalam penggunaan lahan, terutama jika dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat yang membutuhkan lahan penampung air seluas 8.300 hektare untuk menghasilkan 187 megawatt (MW). Sedangkan PLTA Batang Toru membutuh- kan 67 hektare dan menghasilkan 510 MW.

Kementerian ESDM juga menilai PLTA Batang Toru akan menambah ketersediaan listrik di Sumatera Utara. Dengan beroperasinya PLTA Batang Toru maka PLN tidak lagi memerlukan kapal pembangkit dari Turki berkapasitas 240 MW yang saat ini sedang disewa PLN untuk mengatasi defisit listrik di Sumatera Utara.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana pernah mengatakan, tidak ada masalah dengan PLTA Batang Toru yang dibangun PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE).

Pertama, kehadiran pembangkit baru, apalagi PLTA, akan menambah pasokan listrik di Sumatera Utara seiring dengan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, terutama di beban puncak.

Kedua, berbagai tuduhan terhadap PT NSHE sudah lama kami dengar. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan lapangan. Tidak ada pelanggaran. Semua tuduhan tidak benar. Kalau ada protes dari sejumlah pihak itu lebih karena faktor nonteknis. Pembangunan PLTA Batang Toru harus jalan terus,” kata Rida Mulyana, belum lama ini.

Menurut dia, PLTA Batang Toru akan digunakan sebagai peaker (pemasok listrik saat beban puncak terjadi) pada sistem tenaga listrik Sumatera. Nantinya, listrik yang dihasilkan PLTA Batang Toru ini akan disalurkan melalui jaringan transmisi 275 kV milik PLN.

Tol Listrik Sumatera
Pesatnya pembangunan infrastruktur jalan dan industri di Sumatera mendorong peningkatan kebutuhan listrik. Saat ini, konsumsi listrik wilayah Sumatera tumbuh 6% atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang sebesar 4,1%.
Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan, sistem kelistrikan di Sumatera secara umum terbagi dua wilayah. Pertama, sistem Sumatera Bagian Utara yang mempunyai daya mampu 2.711 megawatt (MW) dengan beban puncak sebesar 2.263 MW. Dengan demikian, ada cadangan daya sebesar 448 MW.

Kedua, sistem Sumatera Bagian Selatan dan Tengah dengan daya mampu 3.423 MW dan beban puncak 3.342 MW. Artiannya memiliki cadangan daya 89 MW. “Cadangan di Sumatera sendiri telah terhubung antara utara dan selatan saat ini. Dengan begitu, total cadangan daya mencapai 537 MW,” kata Dwi.

Interkoneksi wilayah Sumatera itu seiring beroperasinya Saluran Udara Tegangan Ek- stra Tinggi (SUTET) 275 kilo- Volt (kV). Jaringan sepanjang 2.866 kilometer sirkit (kms) itu menjadi tulang punggung penyaluran energi listrik dari Sistem Sumatera Bagian Selatan menuju Sumatera Bagian Utara atau sebaliknya.

Tol listrik itu dinyatakan layak beroperasi setelah sebelumnya pada 29 Juni 2019 berhasil mendapatkan Rekomendasi Laik Ber tegangan (RLB) pada SUTET 275 kV. Tol Listrik Sumatera ini membentang di sepanjang jalur Lahat-Lubuk Linggau-Bangko-Muara Bungo- Kiliranjao-Paya Kumbuh-Padang Sidempuan-Sarula-Simangkok-Galang.

Manfaat dari Tol Listrik Sumatera ini adalah untuk mengevakuasi daya listrik murah yang dihasilkan oleh pembangkit mulut tambang di Sumatera Selatan menuju ke utara Sumatera, yang nantinya akan menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik di Sumatera. Selain itu juga meningkatkan keandalan karena sudah terinterkoneksinya listrik dari Selatan hingga Utara Sumatera.

Dwi menuturkan, pada akhir tahun ini atau setidaknya awal 2020 ada dua pembangkit yang bakal beroperasi. Kedua proyek itu yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Pangkalan Susu dengan kapasitas 2x400 MW dan PLTGU Sumbagut-2 peaker dengan kapasitas 240 MW.

Dia mengatakan, pembangunan infrastruktur kelistrikan selalu memperhatikan pertumbuhan listrik. Dengan ketersediaan listrik yang mencukupi menjadi modal pembangunan. Oleh sebab itu, dia meminta para investor tak perlu ragu untuk berinvestasi di Sumatera.

“PLN menyiapkan pasokan listrik di Sumatera sangat cukup agar menarik investor untuk membangun industri, pusat bisnis, manufaktur di Aceh, Sumut, Riau, hingga Lampung,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan