Ketum PBNU: Santri Harus Melek Teknologi

Ketum PBNU: Santri Harus Melek Teknologi
KH Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan yang bertemakan “Islam, Keindonesiaan dan Kiblat Dunia” di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam. ( Foto: Suara Pembaruan / Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 23 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siraj mengatakan, pada era revolusi industri 4.0 ini, santri harus siap menyongsong era digitalisasi. Untuk itu, santri harus melek teknologi dan mahir menggunakan teknologi.

“Seperti saya katakan minggu yang lalu, santri jihad medsos bukan jihad golok, bukan,” ujar Said usai menyampaikan pidato kebudayaan yang bertemakan “Islam, Keindonesiaan dan Kiblat Dunia” di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam.

Menurut dia, santri harus melek teknologi karena mereka berperan penting dalam pembangunan bangsa Indonesia sejak awal terbentuk. Dalam sejarah bangsa, santri terlibat dalam pembangunan budaya, mencerdaskan bangsa melalui lembaga pendidikan, dan berjuang melawan penjajah.

Dengan hadirnya media sosial (medsos), santri juga memiliki peran penting. Mereka bisa meredam dampak dari penguasaan medsos oleh orang-orang yang tidak memahami agama dengan benar, yang jika dibiarkan, bisa menyuburkan ujaran kebencian sehingga mengakibatkan kehidupan berbangsa menjadi tegang.

“Di tengah revolusi gelombang keempat (4.0), santri harus kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru yang baik sekaligus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai lama yang baik. Santri tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai muslim yang berakhlakul karimah, yang hormat kepada kiai, dan menjunjung tinggi ajaran para leluhur, terutama metode dakwah dan pemberdayaan Walisongo. Santri disatukan dalam asasiyat atau dasar dan prinsip perjuangan, khalfiyat atau background sejarah, dan ghayat atau tujuan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Tanfidziyah PBNU, Masduki Baidlowi mengatakan, saat ini NU sedang merancang pendidikan berdakwah melalui medsos kepada para santri lewat gerakan Madrasah Kader NU. Tujuannya adalah untuk merespons penyebaran hoaks di medsos, termasuk terkait dengan posttruth agar kebenaran dapat berjalan secara linear.

"Salah satu materinya berisi tentang bagaimana mengubah strategi dakwah pola lama baby boomers mengarah ke Generasi Z dan milenial yang lebih friendly dengan medsos," kata Masduki.

Menurut dia, gerakan tersebut menjadi titik awal NU menangkal gerakan ekstrem kanan yang mulai menerapkan dakwah di medsos dan menjaring banyak pengikut.

Komitmen
Sementara itu, Ketua Rabhithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), Abdul Ghaffar Rozin atau akrab disapa Gus Rozin juga mengatakan, saat ini Indonesia memiliki lebih dari 29.000 pesantren, lebih dari lima juta santri, dan lebih dari 90 juta komunitas santri.

“Bukan hanya jumlah yang banyak, pesantren juga memiliki komitmen dan doktrin keberagamaan yang menekankan nasionalisme, toleransi dan perdamaian,” ujarnya.

Rozin menuturkan, besarnya kuantitas dan kualitas pesantren memberi makna bahwa pesantren bukan hanya menjadi obyek. Namun, pesantren juga sepantasnya menjadi subyek aktif bagi pencapaian cita-cita kemerdekaan seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan beberapa kebijakan seperti capaian SDGs.

Menurut dia, pesantren menyadari besarnya tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0 dan menguatnya paham dan sikap intoleran bahkan radikal. Sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara, pesantren akan menguatkan kompetensi dan secara aktif melawan radikalisme.

“Pesantren tetap menjadi bagian dari negara-bangsa untuk mencapai zaman emas 2045,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan