Ketika Bogor yang Sejuk Berubah Terik Menyengat

Ketika Bogor yang Sejuk Berubah Terik Menyengat
Memasuki musim kemarau, aliran Sungai Ciliwung, Kota Bogor menyusut hingga nol sentimeter, Selasa (2/7/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Vento Saudale )
Vento Saudale / FMB Kamis, 24 Oktober 2019 | 10:29 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Tidak seperti biasanya, siang di Bogor yang biasanya sejuk, dalam beberapa hari terakhir ini terasa terik menyengat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, cuaca terik di Bogor disebabkan matahari berada tegak lurus di atas Jawa dan masih akan berlangsung dalam satu pekan ke depan.

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Citeko, Bogor, wilayah Puncak, Cisarua yang biasanya rata-rata bersuhu adem dengan 26-28 celsius di siang hari, dalam beberapa hari terakhir mencapai 31 derajat celsius dengan kelembapan 27 persen atau kering. Sedangkan di Kota Bogor mencapai 36 derajat celsius.

"Tidak hanya di Puncak, di kota Bogor suhu udara tercatat hingga 36 celsius. Di tempat lain seperti Jakarta, Bekasi dan tempat-tempat lain pun merasakan udara panas menyengat ini," Kepala Stasiun Meteorologi BMKG, Citeko Bogor, Asep Firman Ilahi, Kamis (24/10/2019).

Asep menjelaskan, suhu panas tersebut sebenarnya rutin terjadi setiap tahunnya. Udara yang terasa panas disebabkan oleh posisi matahari yang baru saja bergulir ke selatan setelah berada tegak lurus di Pulau Jawa.

Selain itu, peluang hujan di sebagian besar Pulau Jawa juga masih rendah karena aliran masa udara dari Timuran masih kuat. Kondisi tersebut yang membuat kelembapan udara di permukaan sangat rendah, sehingga menimbulkan udara yang gerah, dan panas yang menyengat.

“Saat matahari berada di Selatan, pulau-pulau di Selatan khatulistiwa menerima cahaya matahari lebih banyak dan intensif. Ketika matahari lebih intens, suhu udara pasti meningkat, ditambah angin Timuran masih kuat, sehingga potensi hujannya semakin berkurang,” ujar Asep.

Menurut Asep, kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2017. Pada waktu itu di periode yang sama, suhu Kota Bogor bahkan mencapai 36,7 celsius. Selain di Bogor, wilayah lain seperti Jakarta, Bekasi, dan tempat lain mulai dari Sumatera bagian Selatan hingga NTT juga mengalami kenaikan suhu. Oleh karena itu, Asep mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memperbanyak aktivitas di luar ruangan.

Pasalnya, saat cuaca cerah dan pertumbuhan awan berkurang, maka tingkat radiasi matahari yang masuk ke permukaan bumi juga akan meningkat dalam semua panjang gelombang. Selain itu, cahaya matahari juga menimbulkan radiasi ultraviolet Alfa dan Beta (UV-A dan UV-B). Kedua radiasi itu, merupakan radiasi berbahaya bagi kesehatan.

“Saat cuaca panas, respon tubuh yang paling pertama adalah dehidrasi. Oleh karena itu penting bagi masyarakat yang beraktivitas di luar lapangan seperti pekerja kasar, atau ojol bisa mengonsumsi banyak cairan, dan menjaga asupan makanan bergizi,” ucap Asep.

Senada, Kepala Seksi Informasi Kesehatan dan Humas Dinkes Kota Bogor Nia Nurkania. Menurut Nia, saat suhu panas, tubuh manusia rentan terkena dehidrasi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga asupan cairan agar terhindar dari dehidrasi.

“Harus cukup minum minimal delapan gelas sehari, menghindari terlalu lama berada di luar ruangan untuk menghindari tersengat matahari, agar tidak terkena heatstroke. Kondisi heatstroke itu ketika tubuh mengalami peningkatan suhu yang drastis akibat dari paparan cuaca panas. Kalau sudah heatstroke penderita tidak hanya sakit kepala, tetapi juga organ lain seperti otak, hati, dan ginjal juga terimbas,” kata Nia.

Untuk menghindari bahaya heatstroke, Nia berharap masyarakat bisa memenuhi asupan gizi seperti sayur dan buah setiap hari, dan mendapatkan istirahat yang cukup. Saat berada di luar lapangan, masyarakat diharapkan dapat menggunakan pakaian yang longgar agar tidak menghambat tubuh dalam menurunkan suhu.

“Mungkin itu tips yang standar, tetapi kadang disepelekan orang, padahal sangat bermanfaat sekali saat cuaca panas seperti ini,” kata Nia.



Sumber: BeritaSatu.com