2 Hari Tak Turun Hujan, Karhutla Meluas Lagi di Jambi

2 Hari Tak Turun Hujan, Karhutla Meluas Lagi di Jambi
Asap yang menyelimuti Kota Jambi, Senin, 14 Oktober 2019 pagi, masih cukup tebal. Asap tebal tersebut berasal dari kebakaran hutan dan hutan (karhutla) di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. (Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih)
Radesman Saragih / JEM Jumat, 25 Oktober 2019 | 15:00 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi membara kembali menyusul tidak turunnya hujan di daerah itu dua hari terakhir. Karhutla di provinsi itu tidak lagi hanya terjadi di Kabupaten Muarojambi dan Tanjungjabung Timur, tetapi meluas ke lima kabupaten lainnya. Sebagian karhutla di Jambi tersebut berada di hutan dan lahan gambut, sehingga menyebarkan asap tebal hingga ke Kota Jambi.

Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Addi Setiadi kepada Suara Pembaruan di Jambi, Jumat (25/1/2019) pagi mengatakan, meluasnya karhutla di Jambi terindikasi dari drastisnya pertambahan titik api di daerah itu. Berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua Aqua milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), titik api di Provinsi Jambi Kamis (24/10/2019) malam hingga Jumat (25/10/2019) pagi mencapai 23 titik atau meningkat drastis dibanding titik api di Jambi hanya dua titik Kamis pagi.

Titik api tersebut, lanjut Addi Setiadi tersebar di Kabupaten Tanjungjabung Timur sebanyak lima titik, Muarojambi dan Sarolangun masing-masing empat titik, Kerinci (enam titik), Tanjungjabung Barat dan Merangin masing-masing satu titik dan Kota Sungaipenuh dua titik.

Menurut Addi Setiadi, titik api di Jambi terpantau mulai meningkat Kamis (24/10/2019) pagi hingga sore. Jumlah titik api di Provinsi Jambi Kamis pagi hingga sore mencapai 33 titik. Titik api paling banyak di Muarojambi dan Merangin masing-masing sebanyak delapan titik, Tanjungjabung Timur dan Kerinci masing-masing empat titik, Sungaipenuh dan Sarolangun masing-masing tiga titik, Batanghari dua titik dan Kota Jambi satu titik.

“Drastisnya peningkatan titik api tersebut disebabkan hujan yang tidak turun di Jambi dua hari terakhir. Hujan yang tidak turun membuat sisa kebakaran gambut yang belum padam total menyala kembali dan menyebarkan asap,”ujarnya.

Sementara itu kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk menyusul masih tebalnya asap yang menyelimuti kota itu dua hari terakhir. Pantauan SP pada pada alat pemantau kualitas udara (Air Quality Monitoring System/AQMS) di depan kantor Wali Kota Jambi, Jumat (25/10/2019) pagi, angka indeks standar pencemaran udara (ISPU) di kota itu mencapai 230 partikel per million (ppm) atau kategori kualitas udara tidak sehat.

Kendati kualitas udara memburuk, namun aktivitas kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah di Kota Jambi Jumat (25/1/2019) pagi tetap normal seperti biasa. Tidak ada instruki Dinas Pendidikan Kota Jambi dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk meliburkan sekolah terkait meningkatnya ketebalan asap dan memburuknya kualitas udara di kota itu.

Sementara itu asap yang menyelimuti Kota Jambi membatasi jarak pandang hingga 1,5 kilomter (km). Karena itu asap belum sampai mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi. Pesawat masih ada bisa berangkat dan bendarat di bandara tersebut Jumat pagi karena jarak pandang masih layak untuk penerbangan.

Warga Kota Jambi mengeluhkan masih terus munculnya asap di Kota Jambi. Asap yang setiap hari menyelimuti kota itu membuat banyak anak-anak terkena penyakit batuk dan demam. Kendati asap menimbulkan banyak warga terkena penyakit, khususnya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), tak tampak upaya serius pemerintah mengatasi masalah asap di daerah itu.

"Anak-anak kami terserang batuk dan flu akibat asap ini. Tampaknya tak ada upaya maksimal pemerintah mengatasi masalah asap ini. Penanggulangan kebakaran hutan dan asap di Jambi ini terkesan hanya mengandalkan hujan. Karena itu begitu hujan tidak turun, asap kembali muncul seperti dua hari terakhir,"kata John Silalahi (45), warga Palmerah, Kota Jambi.

Dikatakan, terjadinya karhutla setiap hujan tidak turun menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Jambi disengaja. Pembakaran hutan dan lahan tersebut tidak terpantau pihan instansi yang berwenang karena tidak ada patroli karhutla yang intensif.

"Tidak mungkin hutan dan lahan terbakar sendiri. Pastilah ada yang membakar. Pembakaran hutan dan lahan tidak terpantau karena patroli karhutla tidak dilakukan intensif,"katanya.



Sumber: Suara Pembaruan