Harimau Sumatera Sudah Tewaskan Tiga Warga di Riau

Harimau Sumatera Sudah Tewaskan Tiga Warga di Riau
Harimau sumatera ("Panthera tigris sumatrae") bernama Leony dilepas di enklosur seluas 50x50 meter di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) di Dharmasraya, Sumatera Barat, 29 Juli 2017. ( Foto: Antara/Rosa Panggabean )
/ WBP Jumat, 25 Oktober 2019 | 14:51 WIB

Pekanbaru, Beritasatu.com - Sejak awal tahun hingga kini, sebanyak tiga orang tewas akibat serangan Harimau Sumatera di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono dalam pernyataan pers di Pekanbaru, Jumat (25/10/2019) mengatakan perlu ada analisis komprehensif untuk mengatasi konflik harimau dengan manusia di wilayah tersebut. "Kita perlu melihat dari kacamata yang lebih luas karena memang itu (Pelangiran) rumah harimau," kata Suharyono.

Pada Kamis (24/10) seorang pekerja bernama Wahyu Kurniadi asal Provinsi Aceh, meninggal dalam kondisi mengenaskan setelah menjadi korban penerkaman Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrea) di konsesi PT Ria Indo Agropalma di Kecamatan Pelangiran.

Wahyu adalah korban ketiga pada tahun ini. Sebelumnya, Harimau menyerang pekerja di konsesi PT Ria bernama M. Amri pada 23 Mei 2019. Korban diserang hingga tewas oleh satwa belang itu di Kanal Sekunder 41 PT Ria di Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil. Kemudian pada Agustus 2019, seorang warga asal Sumatera Selatan bernama Darwaman alias Nang (36) tewas akibat diterkam Harimau Sumatera di konsesi PT Bhara Induk, Kabupaten Inhil.

Suharyono mengatakan pihaknya akan menganalisis apakah lokasi penyerangan ketiga korban tersebut berdekatan sehingga bisa diketahui harimau yang menyerang.

Menurutnya, diperlukan langkah-langkah perencanaan untuk mengatasi konflik tersebut. Pasalnya, selama ini daerah tersebut habitat Harimau Sumatera yakni Lanskap Kerumutan.

Daerah Pelangiran di Lanskap Kerumutan pada tahun 2018 juga mengakibatkan jatuh korban jiwa dua orang akibat serangan Harimau yang diberi nama Bonita. Harimau tersebut didiagnosa mengalami kelainan karena lebih suka berkeliaran pada siang hari dan tidak takut keramaian manusia. BBKSDA Riau menyatakan Bonita akhirnya bisa ditangkap dan sudah direlokasi dari kawasan tersebut. "Lanskap Kerumutan memang salah satu kantong harimau di Riau," ujar Suharyono.

Namun untuk kasus pada tahun ini, BBKSDA Riau menyatakan tidak akan melakukan evakuasi harimau di Lanskap Kerumutan. Dibutuhkan solusi yang bisa menyeimbangkan keberadaan Harimau di habitatnya, dan aktivitas manusia yang membuat permukiman dan perkebunan di kawasan itu.



Sumber: ANTARA