Cuaca Ekstrem, Jambi Waspada Diare

Cuaca Ekstrem, Jambi Waspada Diare
Asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Jambi sangat tebal, Rabu pagi, 16 Oktober 2019.Jarak pandang hanya di bawah satu kilometer dan pesawat tidak bisa mendarat di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi. ( Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / FMB Sabtu, 26 Oktober 2019 | 11:38 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Cuaca ekstrem yang mulai terjadi di Provinsi Jambi pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan saat ini menimbulkan kerawanan berbagai penyakit di tengah masyarakat. Penyakit yang cenderung meningkat di beberapa daerah Jambi sejak musim kemarau hingga memasuki peralihan musim saat ini, yaitu penyakit diare.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Afifudin di Muarojambi, Sabtu (26/10/2019) menjelaskan, faktor lingkungan cuaca ekstrem, khususnya kemarau yang silih berganti dengan hujan belakangan ini menyebabkan meningkatnya kasus diare di Muaro Jambi.

“Kasus diare meningkat di daerah ini selama musim kemarau akibat persediaan air bersih kurang. Potensi peningkatan kasus diare tersebut juga tinggi akibat suhu udara tidak stabil. Hujan dan panas yang silih berganti membuat makanan mudah terkontaminasi bakteri ataupun kuman, sehingga diare meningkat,” katanya.

Untuk mencegah dan mengatasi diare tersebut, perilaku hidup sehat warga masyarakat pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan ini perlu diperhatikan. Penggunaan air bersih perlu ditingkatkan, khususnya untuk membersihkan bahan-bahan makanan.

Dijelaskan, selama tiga bulan terakhir, penderita diare di Muaro Jambi mencapai 2.494 orang. Sebagian penderita diare tersebut ada yang dirawat di rumah sakit. Penderita diare banyak dari kalangan bayi lima tahun (balita), anak-anak dan lanjut usia.

Secara terpisah, kasus diare di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi selama musim kemarau hingga masa eralihan musim saat ini juga meningkat. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, Elfie Yennie, jumlah penderita diare di daerah itu sejak awal musim kemarau, Juni hingga Oktober ini mencapai 3.509 orang.

“Tingginya kasus diare di Batanghari selama musim kemarau hingga masa peralihan musim saat ini disebabkan kualitas air yang rendah. Krisis air bersih selama musim kemarau dan kondisi cuaca yang ekstrem saaat ini membuat kasus diare cepat meningkat,” katanya.

Untuk mencegah peningkatan kasus diare tersebut, lanjut Elfie Yennie, warga masyarakat diimbau meningkatkan pola hidup bersih. Misalnya mencuci bahan-bahan makanan dengan bersih sebelum dimasak. Kemudian membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan menjaga stamina tubuh. Anak-anak juga perlu diperhatikan agar tidak sampai mengkonsumsi jajanan yang kurang sehat di sekolah.

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi, Addi Setiadi mengatakan, suhu udara di Jambi saat ini masih berpotensi tinggi hingga 32 derajat celsius karena curah hujan masih kategori ringan hingga sedang. Curah hujan tinggi diperkirakan akan terjadi di daerah itu November mendatang.

“Saat ini curah hujan di Jambi masih kategori ringan hingga sedang. Karena itu suhu udara di Jambi masih berpotensi tetap tinggi. Curah hujan diperkirakan meningkat memasuki November nanti,” katanya. 



Sumber: Suara Pembaruan