Suhu Panas di Indonesia Belum Melebihi 40 Derajat Celsius

Suhu Panas di Indonesia Belum Melebihi 40 Derajat Celsius
Suasana monumen Arek Lancor saat matahari berada di posisi paling atas, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu, 12 Oktober 2019. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Sabtu, 26 Oktober 2019 | 20:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepekan terakhir, suhu udara di beberapa daerah terasa lebih panas dari biasanya. Bahkan, matahari sebelum pukul 12.00 WIB pun sangat terik. Kondisi panas ini disebut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) karena gerak semu matahari yang posisinya berada di selatan ekuator. Namun, selama lima tahun terakhir saat cuaca terik, suhu di Indonesia belum mencapai 40 derajat celsius.

Namun apa yang terjadi di Indonesia ini merupakan suhu panas, bukan gelombang panas. Alasannya, suhu panas di Indonesia masih di bawah 40 derajat celsius. Sementara hantaman gelombang panas pada pertengahan tahun 2019 pernah melanda dan menyebabkan suhu udara di India, Pakistan, Afghanistan, Iran dan Saudi Arabia.

India juga pada pertengahan tahun 2019 dilanda gelombang panas. Suhu tertinggi di India tercatat di wilayah Churu, Rajasthan yang mencapai 51 derajat celsius. Sementara, suhu di ibukota New Delhi dilaporkan mencapai 48 derajat celsius. Puluhan orang dikabarkan meninggal karena hantaman gelombang panas tersebut.

Pada Juni 2019, suhu maksimum tertinggi tercatat di Stasiun Basrah Hussein Irak mencapai 50,40 derajat celsius dan di stasiun Mitribah Kuwait mencapai 51,40 derajat celsius.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari mengatakan, saat ini sebagian wilayah Indonesia dilanda suhu panas, namun bukan gelombang panas. Dalam lima tahun terakhir, suhu maksimun di Indonesia masih di bawah 40 derajat celsius.

Indra menjelaskan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

"Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia saat ini merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun," kata Indra Gustari di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Indra Gustari mengatakan, potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya. Serta kondisi cuaca yang cerah bersamaan dengan periode kemarau. Ketika ditanya, apakah fenomena ini dampak dari perubahan iklim, Indra menegaskan, untuk mengetahui apakah teriknya panas ini adalah karena perubahan iklim masih memerlukan diamati dengan data historis yang panjang dalam beberapa puluh tahun.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan, suhu panas masih akan terjadi beberapa hari ke depan. Perkiraan suhu pun bisa mencapai 39 derajat celcius. Saat ini suhu tinggi masih terpantau di beberapa wilayah khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi.

"Untuk suhu tertinggi pada Jumat (25/10/2019) teramati di Jatiwangi Cirebon 38,8 derajat celsius," ucap Fachri.

Suhu panas yang terjadi di Indonesia selain karena gerak semu matahari juga dipicu adanya massa udara yang bertiup bersifat kering dan panas dari Australia.

Sebelumnya pada 23-24 Oktober 2019, BMKG mencatat suhu tertinggi mencapai 39,6 derajat celsius. Suhu tertinggi ini, memecahkan rekor suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia sebesar 39,5 derajat celsius pada tahun 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Suhu tertinggi yang mencapai 39,6 derajat celsius itu tercatat oleh Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika wilayah II Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Untuk mengurangi paparan suhu panas tersebut, Indra menyarankan ada beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengunakan pelindung saat di luar ruangan.

"Sedangkan untuk mengurangi pemanasan global, kita dapat memperbanyak pohon, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta pola hidup ramah lingkungan lainnya," ungkapnya.

Minum Air

BMKG juga mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan. Selain itu juga perlu mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi kebakaran hutan dan lahan.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ruandha Agung Sugardiman juga pernah menyebut, apabila terjadi iklim ekstrem seperti lebih kering atau panas, maka adaptasi dan mitigasi. Adaptasi bisa dengan mencari alternatif tanaman yang tahan kering, antisipasi kekurangan air dengan membuat embung dan sumur resapan, memanen air saat hujam, menjaga gambut tetap basah agar tidak mudah terbakar.

Berdasarkan hasil simulasi proyeksi iklim multi model menggunakan skenario representative concentration pathway 4.5, pada periode 2020-2030, rata-rata wilayah daratan di Indonesia akan lebih panas 0,2-0,3 derajat celsius dibandingkan dengan rata-rata suhu udara pada periode 2005-2015.

Pada periode 2020-2030 wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan suhu tertinggi terjadi di sebagian Sumatera Selatan, bagian tengah Papua dan sebagian Papua Barat.



Sumber: Suara Pembaruan