Enam Tantangan di Sektor Pangan untuk Menteri Pertanian

Enam Tantangan di Sektor Pangan untuk Menteri Pertanian
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (berdiri), saat diperkenalkan Presiden Joko Widodo dalam pengenalan menteri kabinet Indonnesia Maju di depan tangga Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Herman / EAS Sabtu, 26 Oktober 2019 | 21:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah menyampaikan, setidaknya terdapat enam tantangan baru di sektor pangan yang harus menjadi perhatian Syahrul Yasin Limpo selaku Menteri Pertanian yang baru. Keenam tantangan tersebut adalah data pangan, sumber daya manusia (SDM), perubahan iklim, konsolidasi antar kementerian, pergeseran permintaan pangan dari karbohidrat ke protein, serta konsolidasi lahan.

Terkait tantangan data pangan, Rusli mengapresiasi target 100 hari Syahrul Yasin Limpo untuk membenahi data pangan. Sebab data pangan yang valid dan jelas akan menciptakan kebijakan di sektor pangan yang tidak gaduh dan sinkron dengan kerja kementerian/lembaga lain. Semisal Kementerian Perdagangan atau Kementerian Perindustrian dan Bulog, supaya gaduh terkait impor beras di tahun 2018 tidak terulang.

"Hemat saya, pemerintah bisa membentuk semacam Pokja untuk membenahi data pangan utama seperti jagung, kedelai, dan tanaman holtikultura dalam 100 hari kerja pertama. Pokja tersebut kemudian diberi tugas untuk membenahi data pangan seperti apa yang telah dilakukan ke komoditas padi atau beras," kata Rusli dalam diskusi online Indef, Sabtu (26/10/2019).

Terkait SDM, data sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa petani di bawah usia 35 tahun hanya 12%. Rusli menegaskan fakta ini perlu diantisipasi dengan segera. Apabila tidak ada regenerasi petani, maka akan ada kelangkaan SDM petani yang berakibat pada tingginya upah di sektor pertanian.

"Solusi untuk SDM tersebut adalah mekanisasi pertanian dan penggunaan teknologi informasi untuk sektor pertanian. Generasi milenial sangat konsen atau suka apabila ada hal-hal yang berbau teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi bisa menjadi salah satu penarik milenial untuk bertani," ujar Rusli.

Perubahan iklim juga menjadi tantangan berat di sektor pertanian. Perubahan iklim mengubah pola panen dan mengharuskan adanya benih-benih baru (varietas) yang tahan perubahan iklim. Kondisi ini perlu ada adjustment dari pemerintah agar pemenuhan pangan tidak berkurang.

"Berdamai dengan perubahan iklim tidak hanya kerja Kementan, tapi juga kerja sama dengan stakeholder lain semisal BMKG, Lapan, LIPI dan swasta dalam menghasilkan teknologi pertanian yang adaptif. Kata kuncinya adalah koordinasi. Menteri Pertanian baru harus sangat terbuka untuk berkoordinasi dengan K/L lain agar solusi akan perubahan iklim dan juga permasalahan lain bisa didapat dengan komprehensif," tuturnya.

Tantangan keempat terkait konsolidasi antar kementerian/lembaga, terutama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindutrian. Kementerian perdagangan untuk urusan distribusi dalam negeri dan ekspor/impor, sedangkan kementerian perindustrian untuk urusan bagaimana mengembangkan agroindustri dalam negeri.

Selanjutnya adalah pergeseran permintaan pangan dari sumber karbohidrat ke non karbohidrat. Menurutnya, pergeseran ini akan berdampak pada pergeseran sumber inflasi dari inflasi karbohidrat (beras) ke inflasi protein (telor, daging ayam, daging sapi, holtikultura).

"Pemerintah harus mengantisipasi pergeseran pola permintaan ini agar inflasi pangan di masa depan lebih terkendali. Tentu solusi untuk antisipasi pergeseran sumber inflasi tersebut adalah data pangan yang akurat dan valid, sehingga kebijakan turunan lainnya seperti distribusi, keputusan impor atau ekspor bisa lebih tepat," sambungnya.

Tantangan terakhir yaitu konsolidasi lahan. Rusli memaparkan, sawah di Indonesia kebanyakan berupa petak kecil-kecil berukuran kurang dari 0,5 hektar. Alhasil, masing-masing petak cenderung memiliki fungsi produksi yang berbeda-beda, sehingga hasilnya tidak optimal.

"Contoh sederhananya adalah ada lima petak sawah ukuran kurang dari 0,5 hektar. Masing-masing petak dikuasai oleh petani yang berbeda. Masing-masing petani memiliki intensi yang berbeda dalam merawat sawahnya (ada lima fungsi produksi). Oleh karena itu ada perbedaan hasil masing-masing petak sawah. Apabila kelima petak sawah tersebut digabungkan jadi satu, dan diolah dalam satu supervisi petani ataukelompok tani, maka hanya akan ada satu fungsi produksi dengan luas lahan yang lebih luas. Alhasil panen dari gabungan sawah tersebut bisa optimal. Konsolidasi lahan seperti ini memungkinkan mekanisasi pertanian lebih efektif, " ujar Rusli.



Sumber: BeritaSatu.com