Kerja Sama Knowledge Catalyst, Unika Atma Jaya Luncurkan Aplikasi Pembelajaran Mahasiswa

Kerja Sama Knowledge Catalyst, Unika Atma Jaya Luncurkan Aplikasi Pembelajaran Mahasiswa
Rektor Unika Atma Jaya sekaligus Pengajar Graduate School of Business Magister Manajemen Ekonomi Terapan, Dr. A. Prasetyantoko dan CEO Knowledge Catalyst, Rudy Rahardjo dalam acara peluncuran program microlearning, Gnowbe di Jakarta, Senin (28/10/2019). (Foto: Universitas Atmajaya / Dokumentasi)
Unggul Wirawan / WIR Senin, 28 Oktober 2019 | 19:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya meluncurkan program microlearning dengan topik pembelajaran “Financial Crisis and Disruption” melalui aplikasi yang bernama Gnowbe di Jakarta, Senin (28/10).

Dengan bekerja sama dengan Knowledge Catalyst, perusahaan teknologi pendidikan (EdTech) berbasis di Singapura dan Jakarta, Unika Atma Jaya menyediakan media pembelajaran yang mudah diakses melalui smartphone yang melekat dengan generasi milenial.

“Perubahan teknologi membawa dampak terutama terhadap bidang keuangan dan pendidikan. Untuk itu, sebagai Universitas, kita juga harus mengikuti pergerakannya dengan mengadopsi teknologi sebagai media pembelajaran," ujar Rektor Unika Atma Jaya sekaligus Pengajar Graduate School of Business Magister Manajemen Ekonomi Terapan, Dr. A. Prasetyantoko

Peluncuran microlearning ini adalah respons dengan perkembangan teknologi yang telah membuat terjadinya disrupsi dalam berbagai bidang seperti pendidikan dan keuangan. Pada bidang keuangan, saat ini orang mengenal teknologi finansial (tekfin) yang mengubah cara bekerja dan berbisnis.

"Microlearning ini merupakan salah satu wujud nyatanya untuk membantu mahasiswa belajar dan saling berdiskusi dengan mahasiswa lain hingga mahasiswa mancanegara,” katanya.

Berbagai perusahaan tekfin bermunculan begitu juga dengan metode pembayaran dan berinvestasi yang semakin dipermudah. Sementara pada bidang pendidikan, saat ini kegiatan belajar dan mengajar mulai mengadopsi teknologi yang membuat wajah media pembelajaran menjadi baru.

“Kerja sama Knowledge Catalyst dengan Unika Atma Jaya mempunyai misi menggunakan dan mengembangkan teknologi baru untuk pemerataan pembelajaran. Kami juga turut mendukung dunia pendidikan dalam mempersiapkan lulusan yang dibutuhkan di masa depan,” papar CEO Knowledge Catalyst, Rudy Rahardjo.

Solusi Penerbitan

Knowledge Catalyst juga menawarkan Solusi untuk Penerbitan dan Verifikasi Dokumen berbasis Teknologi Blockchain berkolaborasi dengan menggunakan framework OpenCerts – satu inisiatif dari Government Technology Agency of Singapore – untuk membantu institusi pendidikan dan badan akreditasi menerbitkan sertifikat, ijazah dan transkrip dengan menggunakan teknologi Blokchain sehingga dapat menghindarkan pemalsuan dokumen dan mempermudah perusahaan dalam melakukan verifikasi untuk dokumen calon karyawan.

Topik microlearning “Financial Crisis and Disruption,” mempunyai tiga topik utama yang dibahas yaitu kaitan antara disrupsi dan krisis finansial, memahami lebih dalam industry 4.0, dan pengaruh hal tersebut dalam bisnis ke depannya dan yang akan terjadi terhadap economy of blockchain.

“Melalui microlearning ini, Unika Atma Jaya melalui salah satu fakultasnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, berkomitmen untuk mengambil peran dalam menjadi mitra pemerintah dalam peningkatan SDM yang kompeten. Salah satunya dengan materi ‘Financial Crisis and Disruption’ yang terdapat di Gnowbe, diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih tentang keadaan bidang keuangan dan kaitannya dengan teknologi dan memampukan mahasiswa untuk berinovasi,” ungkap Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, Dr.Irenius Dwinanto Bimo.

Pembelajaran microlearning melalui aplikasi Gnowbe dapat diunduh dengan mudah melalui Apple Appstore dan Google Play Store. Kelebihan utama aplikasi ini adalah materi pembelajaran sangat mobile friendly, mengikuti kebiasaan penggunaan media generasi milenial.

Mahasiswa dapat mempelajari materi kapan saja di mana saja, karena materi pembelajaran dipecah sesuai fokus pembelajaran dalam durasi yang lebih singkat sekitar 10 menit. Para peserta bukan hanya mahasiswa tapi juga umum bahkan lintas negara yang memungkinkan terjadinya transfer knowledge dan networking antarpeserta dalam forum diskusi yang juga disediakan di sana.



Sumber: Suara Pembaruan