LIPI Kembangkan Serat Alam dari Limbah Sawit

LIPI Kembangkan Serat Alam dari Limbah Sawit
Ilustrasi Kelapa Sawit ( Foto: B1/Danung / B1/Danung )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 30 Oktober 2019 | 22:42 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan lignoselulosa dari bahan serat alam nonkayu. Semakin terbatasnya jumlah kayu dan pohon, menjadikan lignoselulosa serat alam sebagai solusi alternatif.

Lignoselulosa adalah komponen utama penyusun dinding sel tumbuhan. Sumber lignoselulosa bisa berasal dari beragam sumber daya alam, seperti produk pertanian, perkebunan dan hutan.

Lignoselulosa ini dimanfaatkan untuk bahan utama produk bubur kertas (pulp) dan kertas, furnitur dan bahan bangunan. Bahkan menurut Dewan Serat Indonesia lignoselulosa merupakan bagian budaya Indonesia. Sabut kelapa bagian dari lignoselulosa ditambah komponen tertentu dapat menjadi salah satu komponen otomotif peredam pintu mobil. Bahkan sabut kelapa bisa menjadi komponen jok mobil.

Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI Iman Hidayat mengatakan, lignoseulusa adalah komponen kayu. Indonesia punya hutan yang luar biasa. Akan tetapi dulu hutan dimanfaatkan secara konvensional dengan pengambilan kayu gelondongan. Kondisi ini membuat tumbuhan kayu punah dan terancam punah.

"Saat ini Puslit Biomaterial LIPI mengembangkan serat alam nonkayu. Bahkan hingga ukuran terkecil yakni nanoselulosa," ujar Iman Hidayat di Puslit Biomaterial LIPI Cibinong, Bogor, Rabu (30/10/2019).

Serat alam nonkayu yang bisa dibuat lignoselulosa dan nanoselulosa seperti jerami, tandan kosong kelapa sawit dan pelepah sawit.

"Limbah serat jerami, kelapa sawit dan material berbahan tanaman bisa kita buat produk bernilai tinggi. Teknologi nanoselulosa tidak butuh kayu dalam bentuk pohon, kita dorong bisa kita gunakan limbah panen padi jerami, sorgum," paparnya.

Saat ini lanjutnya, tujuannya adalah meninggalkan kayu dan mencari serat alam nonkayu untuk dijadikan bioproduk.

Puslit Biomaterial saat ini bekerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita mengembangkan purwarupa atau prototipe kateter jantung dari bahan serat alam biji kelapa sawit.

Ditargetkan prototipe rampung di tahun 2020 dan dipakai di tahun 2021. Saat ini kebutuhan kateter jantung masih dipenuhi oleh barang impor buatan Jepang. Harganya pun mahal mencapai Rp 1,5 juta per alat. Jika berhasil dikembangkan di dalam negeri, harganya bisa lebih murah.



Sumber: Suara Pembaruan