Gelombang Masih Tinggi, Nelayan di Bengkulu Belum Melaut

Gelombang Masih Tinggi, Nelayan di Bengkulu Belum Melaut
Ilustrasi Nelayan. ( Foto: Antara/Yusuf Nugroho )
Usmin / WBP Sabtu, 2 November 2019 | 08:14 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Sebagian besar nelayan tradisional di Kota Bengkulu sampai saat ini masih belum berani melaut karena gelombang masih tinggi di atas 3 meter. Demikian pula badai setiap hari masih melanda wilayah Bengkulu.

"Sudah dua minggu ini, sebagian besar nelayan Kota Bengkulu, tidak mencari ikan, jika dipaksakan dikhawatirkan bisa tidak pulang ke darat," kata Ruslan Suhardi (37), nelayan Kota Bengkulu, di Bengkulu, Sabtu (2/11/2019).

Ia mengatakan, bukan hanya gelombang tinggi, hampir setiap hari wialyah ini diliputi badai. "Saya tidak mau mengambil risiko. Biarlah saya mencari pekerjaan lain di darat," ujar Ruslan Suhardi.

Hal senada diungkapkan Sumarlin (34), nelayan lainnya. Ia mengatalkan, meski gelombang tinggi masih ada nelayan yang melaut, meski tidak jauh atau hanya 10 mil dari pantai saja. Namun hasil tangkapan tidak sebanyak ketika mencari ikan di laut lepas. Demikian pula kualitas ikan yang didapat tidak sebagus di laut lepas, sehingga harga jualnya paling tinggi Rp 25.000 per kg. "Bagi saya tidak masalah harga ikan murah dan hasil tangkapan tidak maksimal, tapi yang penting saya ada pemasukan setiap hari," ujar Sumarlin.

Jika gelombang di laut Bengkulu sudah normal dia akan mencari ikan di laut lepas. Sebab di laut lepas hasil tangkapan biasanya bagus seperti kakap merah, gebur dan ikan kualitas ekspor lainnya. Jika dijual, harganya mahal di atas Rp 30.000 per kg.

Pantuan SP di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Pulau Baai, Kota Bengkulu, Sabtu pagi, terlihat kapal nelayan cukup ramai bersandar karena tidak melaut. Sejalan dengan itu, jumlah kapal yang bongkar muat ikan di TPI Palau Baai terlihat sepi.

Sementara Kepala BMKG Kepahiang, Bengkulu, Wardoyo memperkirakan badai dan gelombang tinggi melanda laut Bengkulu, akan kembali normal pada awal November. Tingginya gelombang sebagai dampak perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan.



Sumber: Suara Pembaruan