159 Desa di Pati Miliki Saham di Klinik Kesehatan

159 Desa di Pati Miliki Saham di Klinik Kesehatan
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat peresmian beroperasinya klinik Pratama Bumdes Sehat Tlogowungu di Kabupaten Pati, Senin (4/11). Klinik yang dibangun PT Maju Berdikari Sejahtera Pati ini sahamnya dimiliki Bumdesa, di mana 159 desa di Pati adalah pemilik sahamnya. ( Foto: istimewa )
Stefi Thenu / LES Selasa, 5 November 2019 | 12:40 WIB

Pati, Beritasatu.com - Klinik Pratama Bumdes Sehat Tlogowungu Kabupaten Pati adalah satu-satunya klinik kesehatan di Indonesia yang sahamnya dimiliki 159 desa. Karena PT Maju Berdikari Sejahtera Pati yang merupakan perusahaan yang menaungi klinik tersebut merupakan Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesa), di mana 159 desa se-Kabupaten Pati, Jawa Tengah adalah pemilik saham di perusahaan itu dengan sistem share holder.

Menurut Ketua Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesa) Rusgiyanto, klinik tersebut sebenarnya telah menjalani masa uji coba Sejak Agustus silam. Ada tiga dokter, sembilan perawat serta beberapa pegawai lain yang turut mendukung keberlangsungannya.

"Ini unit kelima dari target tujuh unit yang akan kami bangun. Untuk membangun satu unit menelan anggaran sebesar Rp 200 juta," ujarnya saat peresmian klinik, Senin (4/11).

Menurut Rusgiyanto, Bumdesa ini sudah satu tahun berdiri. Setiap desa berkontribusi antara Rp 50 juta sampai Rp 100 juta rupiah. Selain PT itu ada juga jasa konstruksi bangunan, co-working space dan lainnya," katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meresmikan klinik meyakini, Bumdesa memiliki mampu bertahan lama, karena pengelola didominasi oleh pemuda. Artinya banyak inovasi yang dilakukan, mampu menyesuaikan zaman. Selain itu, kata Ganjar, jika dipegang pemuda Bumdesa tersebut kecil kemungkinan akan mengandalkan jalur-jalur proposal atau jalur pintas pengembangan.

"Kebanyakan, setelah bikin Bumdesa adalah proposal. Maka manajerialnya harus ditiupkan. Kalau hari ini pilihannya adalah membuat klinik adalah pikiran cerdas. Ini agen kesehatan. Yang mengkampanyekan hidup sehat ke masyarakat," katanya.

Bahkan Ganjar yakin, pemilik saham 159 desa dalam bentuk Bumdesa tersebut merupakan satu-satunya di Jawa Tengah bahkan di Indonesia. Karena, lanjut Ganjar, ketika dana desa muncul banyak yang kebingungan. Akhirnya yang pertama mereka lakukan adalah menggarap infrastruktur, khususnya jalan.

"Tidak pernah menyentuh infrastruktur pendidikan, infrastruktur kesehatan apalagi sosial. Ini Orang-orang kreatif didominasi yang muda-muda. Yang bisa melihat perubahan zaman. ini akan berkembang luar biasa. Kalau tidak sukses, manajemennya bisa disembelih," kata Ganjar.

Ia berharap, Bumdesa tersebut dijadikan inspirasi bagi desa-desa lain di Jawa Tengah. Jika tidak tahu caranya, bisa berkunjung ke Tlogowungu untuk studi banding. Ganjar juga berharap pengelola untuk menjaga integritas agar konsumen bahkan masyarakat tidak merasa dibodohi. “Mudah-mudahan jadi contoh. Ini satu-satunya di Indonesia. Ojo larang-larang (jangan mahal-mahal) . Ojo korupsi jaga integritas. Soal BPJS belum cair, biar kami yang urus," kata Ganjar.



Sumber: Suara Pembaruan