Susi Pudjiastuti Jadi Pembicara Forum Global di Jepang

Susi Pudjiastuti Jadi Pembicara Forum Global di Jepang
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pendiri Pandu Laut Nusantara (komunitas pencinta dan penjaga laut nusantara), diundang menjadi salah satu pembicara dalam forum global terkemuka Leading Women for the Ocean, yang digelar di Yokohama Jepang, 5 – 6 November 2019. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 6 November 2019 | 08:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pendiri Pandu Laut Nusantara (komunitas pencinta dan penjaga laut nusantara), diundang menjadi salah satu pembicara dalam forum global terkemuka Leading Women for the Ocean, yang digelar di Yokohama Jepang, 5 – 6 November 2019.

Dalam forum yang dihadiri ratusan pakar, swasta, politisi, dan media seluruh dunia itu, Susi membagi gagasan dan pengalamannya menjaga dan melestarikan sumber daya laut dan perikanan Indonesia dan global. 

Leading Women for the Ocean merupakan platform yang didirikan oleh Akie Abe, istri Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Maria Damanaki, terdiri dari pimpinan perempuan di seluruh dunia yang memiliki perhatian khusus terhadap kesehatan dan keberlanjutan laut. Leading Women for the Ocean bertujuan mengumpulkan pemimpin perempuan dari seluruh dunia untuk mendorong aksi yang konkret untuk menyehatkan laut.

“Saya diundang Akie Abe untuk berbicara dalam forum Leading Women for the Ocean. Saya juga diminta untuk bergabung sebagai anggota Leading Women for the Ocean tersebut,” kata Susi Pudjiastuti di Yokohama Jepang dalam keterangan resmi yang dirilis Humas Pandu Laut, Selasa (5/11/2019) di Jakarta.

Baca JugaPulang ke Pangandaran, Susi Pudjiastuti Disambut Bak Pahlawan

Selama rangkaian acara Leading Women for the Ocean, Susi berbicara dalam dua sesi acara.

Susi merupakan tokoh kelas dunia yang aktif memperjuangkan kelestarian laut dan tata kelola yang baik di sektor perikanan nasional dan global. Saat menjadi Menteri kelautan dan Perikanan periode 2014 – 2019, Susi banyak melakukan terobosan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan kunci berbasis tiga pilar yang menjadi trademark-nya, yakni kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Salah satu kebijakan Susi yang paling terkenal, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia internasional adalah memberantas penangkapan ikan ilegal (illegal, unreported, unregulated/IUU fishing) secara tegas dan tanpa kompromi karena diiringi penenggelaman kapal pelaku kejahatan. Selama periode 2014 – 2019, tercatat 556 kapal ikan ilegal, baik domestik maupun asing ditenggelamkan – terbesar sepanjang sejarah Indonesia untuk satu periode rezim kepemimpinan.

Kebijakan tersebut menyuburkan kembali perairan Indonesia yang sebelumnya mengalami overfishing akibat maraknya pencurian ikan. Melonjaknya stok ikan di perairan Indonesia berdampak langsung pada meningkatnya konsumsi ikan masyarakat serta kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.

Kepemimpinan dan pengaruh Susi di sektor kelautan dan perikanan tak hanya menggema di tingkat domestik, tetapi juga dunia internasional. Susi aktif berbicara di forum-forum internasional untuk menginisiasi dan mengampanyekan secara konsisten hak asasi manusia yang bekerja di laut, hak laut untuk tidak dieksploitasi berlebihan, transparansi penangkapan ikan melalui platform global fishing watch, dan menjaga laut dari sampah plastik.

Baca JugaSusi Pudjiastuti Raih Penghargaan Kemaritiman Tertinggi di USA

Peran dan komitmen Susi menjaga sumber daya laut dan perikanan mendapat pengakuan luas dari domestik dan dunia internasional. Beberapa di antaranya, Globe Asia Magazine pada 2019 menobatkannya menjadi 99 Most Inspring Women in Indonesia. Di tingkat global, Foreign Policy Magazine tahun ini memilihnya sebagai Top 10 Global Thinkers under the category of Defense and Security. Susi juga mendapatkan penghargaan Peter Benchley Ocean Award (2017), Leader for Living Planet Award (WWF, 2016), dan The BBC 100 Women (2017).



Sumber: BeritaSatu.com