Perlu Penelitian Menyeluruh terhadap Tanaman Kratom

Perlu Penelitian Menyeluruh terhadap Tanaman Kratom
FGD Tanaman Kratom di Pontianak, Rabu, 6 November 2019. (Foto: Beritasatu Photo / Sahat Oloan Saragih)
Sahat Oloan Saragih / RSAT Kamis, 7 November 2019 | 10:26 WIB

Pontianak, Beritasatu.com - Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, hingga saat ini aturan yang mengatur tata niaga tanaman kratom yang banyak tumbuh di Kabupaten Kapuashulu masih belum jelas. Namun masyarakat sudah banyak yang membudidayakannya hingga memperdagangkan dengan mengekspor ke luar negeri.

“Untuk itu perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh terhadap kandungan tanaman kratom dari berbagai aspek, sehingga diketahui secara pasti manfaat dan mudaratnya, dan aturannya dapat dibuat dengan jelas,” ujar Sutarmidji kepada wartawan seusai acara Focus Grup Diskusi (FGD) dengan BNN di Pontianak, Rabu (6/11/2019).

Sutarmidji mengatakan, terhadap tumbuhan kratom, semua harus diteliti secara menyeluruh dan harus dicari model penggantinya. Dikatakan demikian karena tumbuhan kratom ada manfaatnya sebagai bahan obat dan makanan.

“Jika sudah diteliti secara menyeluruh dan sudah diketahui manfaatnya maka nantinya harus diatur dengan baik dan harus diproduksi oleh farmasi. Artinya untuk mengolahnya harus melalui kajian yang mendalam dan menyeluruh, walaupun diketahui di dalamnya tanaman kratom ada kandungan untuk kebugaran dan menghilangkan rasa sakit. Karena untuk mengurai zat zat yang terkandung di dalam kratom perlu penelitian secara mendalam dan tidak secepat yang dibayangkan,” katanya.

Begitu juga masalah tata kelolanya juga harus dikaji secara menyeluruh dan diusulkan ke pusat. Dikatakan demikian karena aturan tentang kratom tidak bisa parsial karena barang ini tidak hanya ada di Kalbar, tetapi ada juga di beberapa daerah. Sehingga regulasinya harus pusat, sebab dalam pengelolaanya tidak hanya satu bagian tetapi menyangkut banyak pihak baik di kementerian, BNN dan pemerintah daerah. “Jadi banyak pihak yang terlibat dalam tata kelola kratom,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan