Novel Dipolisikan Politisi PDIP, KPK: Sudah di Luar Rasa Kemanusiaan

Novel Dipolisikan Politisi PDIP, KPK: Sudah di Luar Rasa Kemanusiaan
Novel Baswedan. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / RSAT Kamis, 7 November 2019 | 10:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak habis pikir dengan pihak-pihak yang terus menyudutkan Novel Baswedan. Belakangan ini, jagad dunia maya diriuhkan dengan narasi kasus teror terhadap Novel merupakan rekayasa. Bahkan, politisi PDIP, Dewi Ambarwati alias Dewi Tanjung melaporkan ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penyebaran berita bohong atas teror penyiraman air keras yang dialami Novel.

Jubir KPK, Febri Diansyah menyatakan, Novel merupakan korban dari teror yang membuat matanya cacat. Tim dokter di Singapura maupun tim gabungan yang dibentuk kepolisian telah menyatakan Novel disiram air keras. Namun, pihak-pihak tertentu belakangan ini justru membangun narasi seolah Novel merekayasa kasus teror yang dialaminya. Febri menegaskan narasi tersebut sudah di luar rasa kemanusiaan.

"Kami sangat menyayangkan dan rasanya ada orang-orang yang bertindak di luar rasa kemanusiaan kita saat Novel yang sudah jadi korban. Jelas-jelas menjadi korban dari pemeriksaan dokter pertama kali sampai dibawa ke Singapura itu sangat jelas bahwa dia adalah korban dari penyiraman air keras. Bahkan bila kita dengar konferensi pers dari tim gabungan yang dibentuk oleh Polri itu jelas disebut di sana penyiraman dan karakter air keras yang terkena kepada Novel. Sekarang bagaimana mungkin Novel yang dituduh melakukan rekayasa tersebut," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (6/11/2019) malam.

Lembaga Antikorupsi telah mengklarifikasi tudingan-tudingan terhadap Novel melalui media sosial resmi KPK maupun sarana lainnya. Febri meminta semua pihak untuk menghentikan narasi tersebut. Jangan sampai, kata Febri, Novel yang menjadi korban teror, terus-menerus menjadi korban karena diserang kabar-kabar bohong.

"Novel adalah korban. Jangan sampai korban menjadi korban berulang kali karena berbagai isu hoaks begitu, kebohongan, dan lain-lain," cetusnya.

KPK meyakini pihak kepolisian akan profesional menyikapi pelaporan Dewi terhadap Novel. Febri percaya polisi tidak mungkin meningkatkan pelaporan tersebut ke tahap penyidikan bila buktinya tidak kuat. "Kami percaya polri pasti akan menghadapi laporan itu secara profesional. Jadi tidak mungkin setiap laporan harus naik ke penyidikan kalau buktinya tidak kuat," kata Febri.

Dalam kesempatan ini, KPK, kata Febri masih terus berharap aparat kepolisian mengungkap dan membekuk peneror Novel. Tak hanya pelaku lapangan, KPK berharap kepolisian juga membekuk aktor intelektual dari teror terhadap Novel yang terjadi pada 11 April 2017 atau sekitar 939 hari lalu tersebut.

"Apa lagi Presiden sudah memberikan target, meskipun kemarin (tenggat pengungkapan kasus Novel) diperpanjang," kata Febri.

Diketahui, politisi PDIP, Dewi Ambarwati alias Dewi Tanjung, melaporkan penyidik Novel Baswedan, terkait dugaan rekayasa penyiraman air keras, ke Mapolda Metro Jaya, Rabu (6/11/2019). Laporan Dewi tercatat dengan nomor: LP/7171/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus, terkait penyebaran berita bohong melalui media elektronik yang diatur dalam Pasal 26 ayat (2) junto Pasal 45 A Ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 A ayat 1 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Diberitakan, Novel diteror dengan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta bentukan Kapolri berteori jika teror terhadap Novel berkaitan dengan enam kasus yang ditanganinya, yakni kasus korupsi proyek e-KTP, kasus suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.

Novel dan pengacaranya menambahkan tak tertutup kemungkinan teror ini terkait kasus buku merah. Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik pengusaha daging Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat Basuki dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK, Roland dan Harun, belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut. Mereka juga membubuhkan tipe ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Hal ini lantaran sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi Kepolisian meski telah berulangkali dibantah.

Setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019. Dengan demikian, tenggat yang diberikan Jokowi kepada tim tersebut berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu. Namun, peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019. 



Sumber: Suara Pembaruan