Polri Didorong Tuntaskan Kasus Kerusuhan Bawaslu

Polri Didorong Tuntaskan Kasus Kerusuhan Bawaslu
Sejumlah warga mengunjungi Kantor Bawaslu RI yang masih dibarikade kawat berduri di Jakarta Pusat, Jumat 24 Mei 2019 dini hari. ( Foto: Antara Foto / Sugiharto P )
Fana Suparman / YUD Jumat, 8 November 2019 | 07:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setara Institute mendorong kepolisian menuntaskan kasus-kasus kerusuhan, terutama yang terjadi di depan Gedung Bawaslu pada 21 Mei dan 22 Mei 2019 lalu. Polri diminta mengusut tuntas pelaku lapangan maupun aktor intelektual dalam kericuhan antara massa aksi dan aparat kepolisian tersebut.

"Kita mendorong kepolisian bertindak transparan dan terbuka dan mencari siapa pelakunya," kata Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos usai diskusi 'Kapolri Baru: Agenda Penanganan Ancaman Terhadap Negara Pancasila' di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Kerusuhan di depan Gedung Bawaslu pecah setelah polisi gagal bernegosiasi dengan massa. Tindakan tegas diambil polisi karena massa memilih bertahan di depan gedung Bawaslu.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap korban meninggal saat kerusuhan tersebut sebanyak 10 orang dari sebelumnya hanya 9 orang versi kepolisian. Sembilan di antaranya tewas karena terjangan peluru tajam, sedangkan satu korban meninggal akibat pukulan benda tumpul.

Bonar menyatakan, kepolisian sudah melakukan uji balistik untuk mengetahui senjata yang digunakan. Namun, pelaku terutama aktor intelektual dari kerusuhan tersebut belum terungkap.

"Sudah uji balistik, apakah senjata yang digunakan jenis apa, tapi pelakunya belum," katanya.

Bonar menyatakan, pihaknya mengapresiasi tindakan tegas kepolisian yang menetapkan Brigadir Ahmad Malik sebagai tersangka meninggalnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo saat unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kendari pada 26 September 2019 lalu. Dari investigasi, peluru Brigadir Ahmad Malik menembus tubuh salah seorang mahasiswa yang meninggal dunia.

Diketahui, dua korban tewas adalah La Randi (21) mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo dan mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo Yusuf Kardawi (19). Sementara satu korban luka warga bernama Maulida Putri. Ahmad Malik merupakan satu di antara enam orang anggota Polres Kendari yang kedapatan membawa senjata api saat menangani aksi demonstrasi tersebut.

Bonar menyatakan penetapan Brigadir Ahmas Malik sebagai tersangka menunjukkan kepolisian berhasil menjawab tantangan publik yang selama ini mempertanyakan kerja-kerja kepolisian dalam menangani kerusuhan. Penetapan tersangka ini menunjukkan kepolisian tak segan bertindak tegas terhadap anggotanya yang tidak profesional. Bonar berharap langkah serupa dilakukan kepolisian dalam mengusut kasus kerusuhan di depan Gedung Bawaslu.

"ini menunjukkan polisi tidak segan menindak aparatnya yang bertindak di luar kewajaran. Yang tidak profesional. Jadi hasil yang ditemukan oleh polisi Kendari bahwa Brigadir AM adalah pelakunya harus kita apresiasi. Mudah-mudahan juga kepolisian bisa membongkar siapa pelaku dalam kerusuhan bulan Mei kemarin. Sekarang kan belum kelihatan kan," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan