Kuasa Hukum Novel Nilai Pelaporan Dewi Tanjung Tidak Manusiawi

Kuasa Hukum Novel Nilai Pelaporan Dewi Tanjung Tidak Manusiawi
Novel Baswedan. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / RSAT Jumat, 8 November 2019 | 10:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kuasa Hukum Novel Baswedan, Saor Siagian mengaku miris dengan langkah politisi PDIP Dewi Tanjung yang melaporkan kliennya atas tudingan teror air keras merupakan rekayasa. Saor menyebut Dewi tak lagi punya perikemanusiaan lantaran Novel yang menjadi korban teror hingga matanya mengalami kecacatan justru dituding telah merekayasa peristiwa teror tersebut. Apalagi, Saor menilai pelaporan Dewi Tanjung tersebut tanpa dasar.

"Saya kira tidak ada lagi unsur kemanusiaannya si pelapor ini. Kalau memang ini tahu soal bagaimana keadaan daripada mata Novel, mestinya dia menemui Novel. Menemui keluarganya atau pergi ke rumah sakit. Apakah betul Novel itu benar diserang atau tidak," kata Saor di gedung KPK, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Dikatakan, tudingan Dewi Tanjung tersebut sangat serius. Secara tidak langsung, Dewi juga menuding kepolisian, Komnas HAM bahkan Presiden Joko Widodo yang telah memastikan adanya teror penyiraman air keras tersebut.

"Saya kira ini sangat serius, karena apa? Polisi, bahkan Presiden meminta kepada polisi agar segera mengungkap tuntas. Artinya ini adalah fakta hukum bahwa peristiwa penyerangan air keras ke mata Novel itu adalah benar adanya. Bahkan diperkuat oleh tim pencari fakta yang dibentuk komnas HAM bahwa betul saudara Novel Baswedan itu diserang dengan air keras yang berkaitan dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ada seorang warga kemudian meragukan soal peristiwa tersebut," katanya.

Saor mengungkapkan, Novel terpukul atas tudingan Dewi Tanjung. Untuk itu, Novel dan tim kuasa hukum memastikan akan menempuh langkah hukum dengan melaporkan balik Dewi Tanjung. "Mungkin pekan depan akan kita lakukan pelaporan ini," katanya.

Dalam kesempatan ini, Saor juga kembali mendesak kepolisian untuk segera menuntaskan pengusutan kasus ini. Ditegaskan, pengungkapan kasus ini penting untuk memberikan kepastian hukum kepada Novel sebagai korban.

"Kami minta polisi segera mengungkap siapa pelaku penyiraman novel sehingga tidak ada masyarakat lagi berani menerka-nerka atas peristiwa ini, sehingga peristiwa penyerangan terhadap Novel itu kemudian terang benderang," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan