Sultan Setuju Ada Tempat Istirahat di Tol Solo-Yogya-YIA

Sultan Setuju Ada Tempat Istirahat di Tol Solo-Yogya-YIA
Sri Sultan Hamengkubuwono X ( Foto: Antara )
Fuska Sani Evani / JAS Jumat, 8 November 2019 | 16:42 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengizinkan keinginan Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mendirikan tempat istirahat atau rest area di kawasan tol Solo-Yogya –Yogyakarta Internasional Airport (YIA), Namun rest area bukan bagian dari investasi jalan tol melainkan milik Pemda DIY.

Sultan HB X meminta tempat istirahat tersebut bukan bagian dari investasi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk warga lokal memasukkan produk UMKM dan proses lelang tol Yogyakarta-Bawen dan Yogyakarta-Solo saat ini telah berjalan dan dilakukan pemerintah pusat.

“Soal lelang jalan tol ada di pusat, bukan kita,” kata Sultan seusai melantik Bupati Kulonprogo di Kepatihan, Kamis (7/11/2019).

Sultan menyatakan kesiapannya jika Pemda DIY harus melakukan pengadaan lahan untuk rest area tersebut. Dan jika tempat istirahat tersebut berada di lahan Pemda DIY, maka sewa pemanfaatan untuk UMKM tidak akan mahal. Meski keberadaan tempat istirahat yang langsung dikelola daerah tidak masuk dalam perencanaan, tetapi Pemerintah Pusat memberikan peluang untuk merealisasikan usulan daerah.

“Supaya harga sewa masyarakat tidak mahal, dan rest area tidak masuk dalam perencanaan pemerintah pusat,” ucap Sultan.

Sultan menyatakan kesiapannya jika Pemda DIY harus mengadakan lahan untuk tempat istirahat tersebut. “Iya [pengadaan lahan dari Pemda DIY],” ujarnya.

Sultan menambahkan, rest area di wilayah DIY hanya akan ada satu lokasi, karena standarnya, sekitar 20 kilometer tol hanya ada satu titik rest area.

Dikatakan, salah satu titik yang memungkinkan jika ditarik dari arah Solo adalah kawasan Ringroad utara Maguwoharjo.

“Sudah sepakat nanti ada, rest area hanya 20 kilometer, dan di Yogya hanya ada satu, dan hanya di dekat Lotte Mart Maguwoharjo, kalau dari Solo 20 kilometer di situ, setelah itu ada nanti masuk Jawa Tengah, ,” katanya.

Sultan menegaskan, rest area tersebut membutuhkan lahan seluas dua hektare, dan catatan yang harus diperhatikan adalah pemilik lahan yakni masyarakat, harus bersedia lahannya dijadikan rest area.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY Krido Suprayitno, kurang-lebih 40 hektare lahan pertanian di DIY diperkirakan akan terdampak proyek tol Solo-Yogya dan Yogya-Bawen.

Kesesuaian tata ruang yang terdiri atas dua trase yaitu Yogya -Solo dan Yogya-Bawen, masih dalam proses untuk ditandatangani Gubernur DIY sekaligus sebagai syarat dibentuknya tim koordinasi penataan ruang daerah untuk kesiapan pembangunan tol.

Krido meminta kepada Pemkab Sleman untuk mencarikan lokasi pengganti. Karena keluasan lahan pertanian berkelanjutan sudah ditetapkan di Perda RTRW sehingga harus dicarikan pengganti yang juga berada di wilayah Sleman.

"Justru momentum adanya strategi nasonal ini untuk memantapkan adanya pertanian berkelanjutan, di mana Sleman termasuk lumbung pangan dan ketika jalan tol terealisasi kami sudah bergerak 10 hingga 20 tahun ke depan yaitu ada kawasan tumbuh cepat, di mana nanti kami sampaikan setelah IPL turun atau saat sosialisasi," ucapnya.

Krido mengatakan sosialisasi kepada warga terdampak akan dilakukan dengan beberapa tahapan dengan menyesuaikan kondisi lapangan, seperti dinamika masyarakat hingga jumlah warga terdampak. Etape pentahapan itu tergantung situasi dan kondisi sosialisasi yang rencananya akan digelar pada pekan ketiga November 2019. Semakin cepat selesai maka tidak banyak tahapan dalam satu etape sosialisasi.

Terkait pengadaan lahan untuk rest area, Krido belum bisa berkomentar banyak, karena akan disampaikan langsung oleh Pemerintah Pusat kepada masyarakat saat sosialisasi. Selain itu, pihaknya masih fokus pada trase yang menjadi jalur utama tol.



Sumber: Suara Pembaruan