Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional

Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional
Ruhana Kuddus ( Foto: istimewa / istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Jumat, 8 November 2019 | 17:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sosok Ruhana Kuddus, perempuan kelahiran Koto Gadang Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional pada November 2019. Wanita yang pernah berprofesi sebagai Pemimpin Redaksi (pemred) surat kabar Soenting Malajoe ini mendapatkan gelar pahlawan sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Dalam semangat pergerakan nasional, semangat juang Ruhana pantas pantas untuk diwariskan kepada generasi bangsa Indonesia. Semasa hidup, ia tidak pernah lepas dari berbagai karya hingga akhirnya wafat pada 16 Desember 1972 di Jakarta. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Selama hidupnya, istri dari Abdul Kuddus ini menjadi pendiri Kerajinan Amai Setia (KAS) bersama dengan dua orang temannya yang bernama Rekna Puti dan Hadisah. Selanjutnya Ruhana Kuddus menjadi Direktris pertama dari sekolah Kerajinan Amai Setia tersebut pada tahun 1911.

Pada 10 Juli 1912, Ruhana Kuddus yang memiliki seorang anak Djasma Juni, pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Redactries) Soenting Melajoe, yaitu sebuah surat kabar perempuan yang terbit di kota Padang Sumatera Barat.

Tak hanya itu Ruhana Kuddus juga membuka sekolah Roehana School di Bukittinggi, dan sekaligus juga sebagai agen mesin jahit merek Singer serta mengajar perempuan Minang untuk menjahit dan border dengan menggunakan mesin jahit Singer tahun 1916.

Ruhana kemudian pindah dari Bukittinggi menuju ke Medan Sumatera Utara dan mengajar di Sekolah Dharma di Lubuk
Pakam, untuk selanjutnya pindah ke Sekolah Dharma di Medan. Ruhana Kuddus juga menjadi redaktur surat kabar
Perempoean Bergerak bersama dengan Siti Satiaman Harahap tahun 1921.

Ia pindah kembali dari Medan Sumatera Utara ke Kota Gadang Sumatera Barat, dan mengajar di Sekolah Vereeniging Studiefonds Minangkabau (VSM) Fort de Kock (Bukittinggi). Di sana, ia menjadi koresponden tetap surat kabar Dagblad Radio yang terbit di Padang serta menulis untuk surat kabar Tjahaja Soematra pada tahun 1924.



Sumber: Suara Pembaruan