Geliat Tawangsari, Mandiri dan Bersinergi Bangkitkan Denyut Ekonomi

Geliat Tawangsari, Mandiri dan Bersinergi Bangkitkan Denyut Ekonomi
Salah satu wahana yang tersedia di Camp Bell 2 Edupark/ ( Foto: Suara Pembaruan / Stefy Thenu )
Stefi Thenu / LES Jumat, 8 November 2019 | 20:21 WIB

Boyolali, Beritasatu.com - Lahan seluas dua hektare milik desa itu, dulunya adalah lahan kritis, yang dipenuhi semak berduri. Bukan saja tidak produktif, keberadaan semak belukar di lahan itu memberi kesan angker, baik siang apalagi di malam hari. Bukan itu saja, semak-semak itu juga rawan kejahatan, karena kerap dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda, untuk kegiatan negatif seperti mabuk-mabukan.

Namun, siapa sangka jika dari lahan semak berduri nan angker itu kini berubah menjadi taman wisata edukasi, yang menjadi ikon sekaligus pusat kegiatan ekonomi baru bagi Desa Tawangsari, yang terletak di Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

‘’Zaman dulu, warga setempat menyebut daerah ini dengan nama Mbiloro atau Kambil (buah kelapa) Loro (dua), sehingga kemudian kami ubah namanya biar terdengar kekinian menjadi Camp Bell 2 Edupark, ” ujar Muhammad Ikhlas Mokodongan dari PT Pertamina (Persero) Fuel Terminal Boyolali Marketing Operation Region (MOR) IV, kepada Beritasatu.com, Jumat (8/11/2019).

Ikhlas, yang sehari-hari menjabat supervisor Health Safety Security Environment (HSSE), merupakan bagian dari tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Fuel Terminal Boyolali, yang telah memberi sentuhan sangat signifikan bagi perekonomian masyarakat Desa Tawangsari, sejak tiga tahun terakhir.

Operation Head PT Pertamina (Persero) Fuel Terminal Boyolali, Mangku Hidayat Basuki mengungkapkan, pada 2016, pihaknya berinisiatif untuk mengembangkan lahan kritis tersebut menjadi pusat kegiatan ekonomi baru di Desa Tawangsari, yang berada di ring 1 TBBM Boyolali. Melalui koordinasi yang baik dengan masyarakat, pemerintah serta tokoh desa setempat, akhirnya pembangunan taman wisata edukasi itu dapat terwujud dan diresmikan pada 25 Oktober 2018.

Pada 2015, sebagian lahan tersebut dimanfaatkan menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan tujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. "Setelah itu program berkembang dengan pemanfaatan sebagian lahan untuk ditanami tanaman buah naga dan berhasil mengundang wisatawan untuk menikmati wisata petik buah naga," ujar Mangku.

Seiring waktu, potensi lahan berangsur terlihat. Fuel Terminal Boyolali mulai mengembangkan lahan tersebut agar menjadi pusat kegiatan ekonomi di Desa Tawangsari. Bentuk pengembangan lahannya dengan membentuk wahana edukasi yang terintegrasi dengan seluruh program pemberdayaan yang ada di desa tersebut. Dimulai dari UMKM, pengelola ternak dan pengolahan susu sapi, hingga pengelolaan sampah.

"Program Camp Bell 2 hingga saat ini telah memberikan lapangan pekerjaan baru bagi sekitar 70 warga. "Target hingga akhir 2019 sebanyak 100 orang masyarakat Desa Tawangsari dapat bergabung dengan Camp Bell 2," ujar Mangku.

Area Camp Bell 2 Edupark Tawangsari yang terletak diantara Dukuh Gempol dan Dukuh Ngemplak di Desa Tawangsari, memiliki banyak fasilitas, seperti outbound, serta beragam wahana edukasi lain, yakni wahana pengolahan air KiPoLik (Kincir Pompa Hidrolik), wahana Edukasi Ternak Sapi Perah dan Biogas, serta wahana Edukasi Pengolahan Sampah Organik, dan Petik Jami (Pengubah Plastik Menjadi Minyak), termasuk juga tempat budidaya buah naga. Pengunjung dapat pula menikmati wahana river tubing secara gratis.

Desa Tawangsari sendiri terkenal sebagai salah satu penghasil susu sapi murni terbesar di Jawa Tengah. Dalam satu hari, para peternak sapi di Boyolali bahkan dapat menghasilkan hingga 30 liter susu sapi segar. Namun, melimpahnya produksi susu ini tidak diikuti harga jual yang stabil serta pemanfaatan yang maksimal. Mencermati hal itu, terobosan yang dibuat adalah memberi nilai ekonomi atas proses produksi dan pengolahan susu sapi.

Pengunjung Camp Bell 2 dapat melihat edukasi peternakan sapi yang mampu mengolah produk olahan susu dan mengubah limbah kotoran sapi menjadi energi terbarukan, yaitu biogas. “Pengunjung yang kebanyakan para pelajar, juga dapat merasakan sensasi memerah susu sapi,” ujar Ikhlas.

Biogas yang dihasilkan digunakan menjadi sumber energi untuk penerangan kawasan agrowisata, serta digunakan sebagai energi alternatif untuk memasak beragam produk susu yang dihasilkan peternakan. Produk olah susu yang dihasilkan lalu dipasarkan ke berbagai instansi di Kabupaten Boyolali. Omset yang dihasilkan mencapai hingga Rp3,2 juta perbulan.
Untuk menghijaukan kawasan edupark, Pertamina bersama warga menanam buah naga yang kemudian buahnya diolah menjadi produk karaks tanpa boraks yang dapat dinikmati oleh para pengunjung di lokasi atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Wahana lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pengolahan Sampah Terpadu Organik dan Anorganik. Pengunjung dapat melihat langsung proses pengolahan sampah organik menjadi kompos dan sampah anorganik, berupa plastik, menjadi Bahan Bakar Alternatif (BBA) dengan menggunakan mesin Petik Jami.

Taman edukasi yang menganut prinsip "zero waste" ini menggunakan BBA menjadi sumber energi untuk mesin pencacah sampah organik. Sampai akhir 2018, mesin Petik Jami telah berhasil mengubah 3,6 ton sampah plastik menjadi 1800 liter BBA pertahun. Sejumlah 24 ton sampah organik pun telah diolah dan dimanfaatkan hingga menghasilkan potensi omset sebesar Rp 48 juta pertahun.

Keberhasilan program ini berbuah manis. PT Pertamina Fuel Terminal Boyolali pada 6 September 2019, mendapatkan penghargaan Indonesia SDGs Award 2019 (ISDA) kategori Platinum. Ajang penghargaan ISDA 2019 diselenggarakan oleh Corporate Forum For Community Development (CFCD).

Difabelpreuner
Selain wisata edukasi, pengunjung yang datang ke Desa Tawangsari juga dapat melihat dari dekat pemberdayaan ekonomi yang dilakukan Pertamina Fuel Terminal Boyolali kepada warga penyandang disabilitas. Itu merupakan hasil pemetaan sosial yang dilakukan tim bekerjasama dengan Unit Pengembangan Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (UP3) Fisip Undip Semarang. Mereka melakukan pemetaan sosial untuk menentukan program CSR yang tepat untuk diterapkan.

Ikhlas menuturkan, upaya memberdayakan dan mengentaskan warga difabel tersebut bermula dari keberadaan mereka yang cukup banyak di desa itu. Tercatat, ada 29 orang difabel, terdiri atas 5 penyandang tuna daksa, 7 orang tuna rungu wicara dan 17 orang tuna grahita.

Niat untuk mengentaskan dan memberdayakan mereka, kata Ikhlas, tak sedikit mendapat halangan dari warga, khususnya orangtua mereka.

“Masih ada stigma masyarakat terhadap kaum difabel. Keberadaan mereka dianggap menjadi aib dan beban bagi keluarganya,” ujarnya.

Namun berkat pendekatan, warga pun akhirnya menerima dengan tangan terbuka. Bermula dari Yuni Lestari (30) penyandang cerebral palsy, program difabelpreuner itu pun dirintis. Sebelum program berjalan, Yuni lebih dulu menjalani fisioterapi dan psikoterapi di Pusat Rehabilitasi Yakkum Yogyakarta selama tiga bulan. Usai terapi, dia dilatih keterampilan membatik. Setelah mahir, dia bahkan diterima bekerja di sanggar kerja batik di Bantul. Namun, baru lima bulan bekerja, dia teringat rekan-rekannya di desa yang bernasib sama. Pada 9 April 2018, dirintislah sanggar belajar batik yang diberi nama Sanggar Inspirasi

Karya Inovasi Difabel (Sriekandi) Patra. Selain Yuni, yang bertindak sebagai mentor, sanggar Sriekandi Patra menampung Darmawan, Sri Sulastri, Siti Ma’rifatul Khasanah (Ifa), dan Lestari Budi Mulyani (Tari).

Puluhan karya batik para difabel Tawangsari ini pun tahun 2018 lalu berlabuh sampai ke pameran Inacraft di Jakarta. Hasilnya, karya mereka sontak menyedot minat para pembeli dari mancanegara. Order pun datang dari Jepang, Kanada dan Australia bernilai puluhan juta rupiah. Selama 2018, omset sanggar ini mencapai hingga Rp50 juta. Sriekandi Patra bahkan telah menghasilkan sebuah motif khusus batik yang sudah mendapat hak paten, yaitu batik motif Lembu Patra.

Kini, selain melayani pembeli yang datang ke sanggar, penjualan batik juga dilakukan secara online melalui toko online dan instagram. Praktis, kelima penyandang difabel itu kini dapat mandiri dan bebas dari beban keluarga. Mereka juga keluar dari belenggu stigma buruk dan aib bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Yuni, yang menjadi perintis dan percontohan dari program difabelpreuner ini, bahkan telah menikah dan memiliki anak. Dia dapat membantu membiayai ekonomi rumah tangganya, selain penghasilan dari sang suami. Begitu pula dengan Darmawan (penyandang cerebral palsy), Sri (tuna rungu wicara), Ifa (tuna wicara) dan Tari (tuna daksa). Selain mandiri, kini mereka dapat memulihkan rasa percaya dirinya, dengan membatik.

“Saya pengin kumpul sama orang-orang. Bosan di rumah terus. Biar banyak pengalaman. Alhamdulilah, dengan adanya sanggar ini, saya dan teman-teman bisa mandiri,” ujar Tari. Selain mahir membatik, Tari memiliki bakat sebagai desainer motif batik. Sekitar 40 persen karya batik Sriekandi Patra adalah ide dari Tari.

General Manager PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Semarang, Iin Febrian, mengatakan, program-program CSR yang berjalan merupakan bentuk dari konsistensi dan kontribusi nyata dari PT Pertamina (Persero) terhadap masyarakat dan lingkungannya.

"Program CSR yang kami laksanakan selalu berusaha berfokus terhadap permasalahan sosial dan lingkungan, seperti Program CSR Tawangsari Mandiri berupa Camp Bell 2 dan Difabelpreuner yang merupakan program CSR Fuel Terminal Boyolali. Ke depan tujuan program ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Tawangsari," ujar Iin.

Selama kurun waktu empat tahun terakhir, Pertamina MOR IV telah menyalurkan miliaran dana CSR. Tahun 2016, sebesar Rp4.893.335.200. Pada 2017, sebesar Rp4.988.119.900. Kemudian, Rp9.599.149.500 pada 2018 dan tahun 2019 tercatat 5.157.975.857. Khusus untuk Fuel Terminal Boyolali, MOR IV mengucurkan Rp 665.750.000 pada 2016, lalu Rp700.000.000 (2017), Rp1.529.647.500 (2018) dan Rp951.800.000 (2019).

Ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Prof Dr Andreas Lako, mengapresiasi CSR yang dilakukan Pertamina. Dia menilai, alokasi dana CSR untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di pedesaan sangat bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, yang umumnya masih hidup dalam kemiskinan, atau hidup dengan penghasilan yang pas-pasan.

"Bukan saja telah memenuhi amanah UU Nomor 40 tentang Perseroan Terbatas, CSR seperti yang dilakukan Pertamina dapat membantu masyarakat meningkatkan taraf hidupnya dengan berbagai upaya pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh kebutuhan hidup mereka," ujar Lako.

Menurut Lako, yang sangat dibutuhkan masyarakat adalah CSR yang bersifat sustainable (berkelanjutan) sehingga program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat benar-benar terwujud.

"Tidak menafikan CSR yang bersifat bantuan langsung, seperti sumbangan saat bencana alam, bantuan tempat ibadah, peralatan sekolah dll. Namun, bagi saya, CSR yang sustainable, sangat diperlukan untuk memberdayakan potensi masyarakat serta menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Masyarakat memiliki sumber penghasilan baru untuk meningkatkan taraf hidup mereka,. Jadi, setelah program selesai, masyarakat tetap berdaya dan dapat terus mandiri, tak lagi tergantung dari dana CSR," paparnya.

Lako menilai, Pertamina telah melakukan CSR sustainable untuk memberdayakan ekonomi masyarakat di Desa Tawangsari, dan yang lebih penting telah memanusiakan penyandang disabilitas di desa itu, dengan membuat mereka jadi insan yang mandiri sekaligus terbebas dari stigma negatif dan beban sosial.

Kepala Desa Tawangsari Yayuk Tutik Supriyanti mengaku sangat senang dan bersyukur dengan masuknya Pertamina ke desanya. Berbagai program CSR Pertamina telah membantu memperbaiki berbagai sektor di desanya, mulai dari pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, UMKM hingga pemberdayaan penyandang disabilitas.

"Pastinya, sejak Pertamina masuk di sini, perubahannya sangat signifikan. Masyarakat jadi lebih maju dibanding sebelumnya. Yang lebih membuat saya bangga, anak-anak muda desa yang dulunya suka mabuk-mabukan, kini insyaf dan menjadi tenaga edukasi di Camp Bell 2 Edupark," ujar Yayuk, yang memimpin 3.179 warga ini.

Kemandirian sosial dan ekonomi masyarakat, sejatinya menjadi cita-cita dan tujuan hidup dari semua lapisan masyarakat di negeri ini. Ikhtiar, niat baik, kerja keras dan sinergi yang telah dilakukan Pertamina bersama masyarakat, khususnya di Desa Tawangsari, terbukti memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat untuk bangkit dari keterpurukan akibat kemiskinan dan disabilitas, untuk menjadi manusia seutuhnya yang mandiri, sejahtera dan merdeka.



Sumber: Suara Pembaruan