Reini, Perempuan Pertama Rektor ITB

Reini, Perempuan Pertama Rektor ITB
Reini Wirahadikusumah. ( Foto: itb.ac.id )
Adi Marsiela / WBP Sabtu, 9 November 2019 | 12:20 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Majelis Wali Amanat (MWA) Institut Teknologi Bandung (ITB) menetapkan Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Prof NR Reini Djuhraini Wirahadikusumah sebagai rektor ITB periode 2020-2025 dalam Sidang Pemilihan dan Penetapan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (8/11/2019). Pemilihan itu turut dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Reini merupakan satu dari tiga calon rektor yang mengikuti proses akhir. Dia bersaing dengan Rektor ITB periode 2015-2020, Kadarsah Suryadi serta Dekan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Jaka Sembiring.

Dosen dari Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi ini merupakan lulusan SMA Tarakanita, Jakarta, sekolah khusus perempuan. Dia lantas melanjutkan kuliahnya ke jurusan Teknik Sipil yang didominasi pria. “Selain ayah saya yang ITB, ya kebiasaan terhadap hal-hal berbeda menjadikan saya terus ingin mencoba berbeda, intinya suka petualangan,” kata Reini seperti tertulis di laman resmi ITB.

Pemegang gelar master dan doktoral dari Purdue University The State of Indiana, Amerika Serikat ini pernah bercita-cita menjadi wanita karir dengan puncaknya sebagai direksi atau komisaris perusahaan. Impian itu harus dia pendam karena pilihannya mendampingi suami di Bandung. “Tapi saya tetap mau punya kontribusi untuk bangsa dan ITB adalah satu-satunya institusi yang paling mewadahi mimpi saya kala itu,” terang Reini soal pilihan karirnya sebagai pengajar di ITB.

Tantangan untuk melanjutkan pendidikan sempat dia alami selepas melahirkan anak pertamanya. Saat itu, Reini dan suaminya masih di Amerika Serikat. “Saya sebenarnya ingin langsung lanjut (kuliah), tapi ya saya tidak mau kuliah saya jadi berantakan dan saya juga tidak menikmati masa-masa awal menjadi seorang ibu,” tutur Reini Djuhraini Wirahadikusuma.

Keluarga jadi pilihan utamanya. Dua tahun berlalu, Reini baru aktif mengirimkan lamaran ke Amerika untuk kuliah sekaligus menjadi asisten riset hingga akhirnya diterima. Dia berangkat dengan suami dan anaknya. “Suami saya lanjut doktoral juga,” kata Reini Djuhraini Wirahadikusumah.

Saat di sana, Reini harus cermat membagi waktunya. Dia mengawalinya dengan menitipkan anaknya sebelum kuliah sekaligus jadi asisten riset di kampus. Sorenya, Reini menjemput kembali anaknya. “Prestasinya saya di kelas dulu termasuk yang terbaik, ini bentuk komitmen saya sudah diberi kesempatan jauh-jauh belajar,” ujar perempuan ketiga yang jadi professor dari Teknik Sipil ITB ini.

Ibu dua anak ini memandang gelar profesor yang mengawali penulisan namanya sebagai hadiah atas dedikasinya. “Jadi seorang guru besar kan tidak melulu soal akademik. Saya banyak mengambil bagian di kepanitian seperti menjadi Ketua dari Program Implementation Unit, dan lain-lain,” ujar Reini Djuhraini Wirahadikusuma.

Kedisiplinan dan pembagian waktu yang cermat, membuat Reini bisa menuntaskan berbagai kesempatan seperti penerbitan belasan publikasi dan memimpin penelitian, khususnya yang terkait manajemen rekayasa konstruksi.

Saat melamar jadi calon rektor, Reini mengungkapkan, dirinya ingin memberikan pengabdian terbaiknya buat ITB. “Ungkapan syukur bisa berkiprah di ITB (selama) 25 tahun lebih. ITB is a happy place for me, mau give back (menjadikannya) tempat nyaman bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan dan stakeholder lain,” kata Reini lagi.

Selain itu, dia ingin menjadi bagian dari perubahan di ITB. “Transformasi tidak mudah tapi harus bertahap. ITB adalah institut terdepan di bidang iptek (ilmu pengetahuan teknologi), seni, humaniora, dan sosial tingkat nasional tapi buat maju ke internasional perlu pembenahan,” terang perempuan yang gemar mengisi waktu luangnya dengan mendengarkan musik dari Spotify dan nonton film di Netflix.

Reini mengaku kegemarannya akan musik dan film bisa melepas stres. “Sehingga bisa kerja lebih segar dan produktif,” imbuh Reini Djuhraini Wirahadikusumah.



Sumber: Suara Pembaruan