Kisah Sepatu Paman Ho di Pertemuan dengan Keluarga Bung Karno

Kisah Sepatu Paman Ho di Pertemuan dengan Keluarga Bung Karno
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI-P) Hasto Kristiyanto ( Foto: Beritasatu TV )
Markus Junianto Sihaloho / RSAT Sabtu, 9 November 2019 | 20:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PDI Perjuangan melihat hubungan Bapak Bangsa Indonesia Soekarno dengan Bapak Bangsa Vietnam Ho Chi Minh sangatlah dekat. Hubungan kekeluargaan di antara kedua tokoh itu memang sangat erat sejak dulu.

Hal itu diceritakan oleh Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto ketika membuka pameran peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Vietnam di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (8/11/2019) . Disebutkan sejak awal kedua tokoh itu adalah bapak bangsa bagi bangsanya masing-masing.

Ketika Ho Chi Minh berkunjung ke Indonesia pada 1959, Bung Karno membawanya ke rumah dan memperkenalkan kepada semua anggota keluarganya. Salah satu yang hadir adalah Megawati Soekarnoputri, putri sulung Soekarno yang belakangan menjadi presiden kelima serta Ketua Umum PDI Perjuangan.

Saat itu ada dialog menarik antara Megawati dengan pendiri Vietnam yang disapa akrab sebagai 'Paman Ho' itu.

Megawati bertanya kepada Paman Ho soal kebiasaannya memakai sandal. Padahal, berdasarkan pengalaman Megawati saat itu, seorang pemimpin negara biasanya memakai sepatu.

"Tapi kenapa Paman Ho begitu sederhana menggunakan sandal? Lalu Paman Ho menjawab bahwa itu adalah bagian dari perjuangan. Beliau tetap hidup sederhana mengenakan sandal sampai bangsa Vietnam benar-benar merdeka," jelas Hasto menceritakan kisah itu di sela pameran peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Vietnam.

Pameran yang dilaksanakan di Gedung Arsip Nasional itu menampilkan foto-foto pertemuan kedua pemimpin saat saling berkunjung di tahun 1959.

Kembali ke cerita awal Hasto. Megawati disebutnya bisa memahami bagaimana Paman Ho melakukan perjuangan kemerdekaan yang dilaksanakan dengan penuh semangat patriotisme.

"Jadi kita bisa belajar tentang kesedehanaan seorang pemimpin yang bergerak karena keyakinan memerdekakan bangsanya. Di situlah Bung Karno dan Paman Ho disatukan oleh cita-cita yang bisa menentukan nasib bangsa di tangan diri sendiri," kata Hasto.

Megawati sendiri tak bisa hadir di saat pembukaan pameran itu. Walau awalnya dijadwalkan hadir, pesawat yang membawa Megawati dari Jepang belum mendarat di Indonesia. Itu sebabnya Hasto yang mewakili Megawati di acara pembukaan pameran.

Apapun itu, Hasto menyatakan pameran ini menggambarkan bagaimana semangat persahabatan yang sejati dibangun di antara kedua pemimpin. "Dan hasilnya kita hadir sebagai bangsa yang disegani di dunia dan punya prinsip-prinsip sebagai negara yang berdaulat," tandas Hasto.



Sumber: BeritaSatu.com