Penguatan Pancasila Solusi bagi Pahlawan Perdamaian

Penguatan Pancasila Solusi bagi Pahlawan Perdamaian
Hariyono. ( Foto: Antara )
Bernadus Wijayaka / BW Minggu, 10 November 2019 | 20:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Akhir-akhir ini, ruang publik makin banyak dipenuhi dengan permainan politik identitas yang mengumbar kebanggaan primordial. Lambat tetapi pasti, suasana ini membawa sesuatu yang tidak produktif dalam pergaulan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam konteks inilah, bangsa ini butuh sosok pahlawan-pahlawan baru yang melawan kerasnya penjajahan politik identitas yang dapat merusak perdamaian bangsa.

Penguatan pemahaman Pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi solusi dalam menghadirkan pahlawan perdamaian. Dengan Pancasila, beragam perbedaan bangsa bisa melebur menjadi satu kekuatan.

“Karena itu Pancasila harus terus disosialisasikan dan ditanamkan sebagai ideologi bangsa,” ujar Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Haryono dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com.

Ia menegaskan, ideologi itu bukanlah warisan biologis. Ideologi adalah warisan kultural yag harus dirawat, dibina dan disosialisasikan secara terus-menerus. Pasalnya, tidak ada jaminan bila ada orang tua yang anti-Pancasila lalu anaknya juga anti-Pancasila.

“Dengan proses edukasi dan sosialisasi kita bisa mengubah semua itu,” kata Hariyono.

Oleh karena itu, lanjutnya, Pancasila sangat ideal sebagai bekal dan inspirasi, terutama dalam membangun generasi bangsa menjadi pahlawan-pahlawan baru, terutama dalam menghadapi berbagai ancaman seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Menurutnya, radikalisme dan terorisme berkembang karena pengaruh ideologi kekerasan yang menyebar begitu masif. Baik anak muda sampai orang tua bisa terpapar. Pancasila sebagai ideologi negara bisa hadir sebagai penetralisasi terhadap ideologi-ideologi yang membahayakan tersebut.

“Indonesia lahir dari bangsa yang terjajah mental inlander menjadi bangsa yang merdeka, bangsa yang berpikir merdeka. Sedangkan terorisme itu sebenarnya bagian dari orang-orang yang tidak merdeka dalam berpikir. Seperti yang kita lihat di Suriah, di Irak, peradaban-peradaban besar manusia hancur karena pikiran yang tidak merdeka sehingga mereka saling meneror,” ujar Hariyono.

Untuk mengatasi masalah itu, kerjasama antarlembaga perlu terus diperkuat dan lebih komprehensif. Seperti antara BPIP dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang telah melakukan Memorandum of Outstanding (MoU), Jumat (1/11/2019).

“BPIP memiliki Pusat Studi Pancasila (PSP) di kampus-kampus dan BNPT memiliki Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) di daerah-daerah. Saya harap ke depan PSP dan FKPT ini bisa saling bersinergi menanggulangi masalah ini,” ungkap Hariyono.

Dia berharap kerja sama BNPT-BPIP bisa untuk memasok materi bagi para pengajar Pancasila dan pahlawan perdmaian untuk memberikan pemahaman kepada siswa, mahasiswa, dan masyarakat.

“Dengan adanya materi terkait radikalisme bisa dijadikan bahan materi dan diskusi oleh para pengajar Pancasila untuk menyadarkan mahasiswa dan muridnya bahwa ancaman itu sudah ada disekitar kita. Dan untuk melawannya tentu harus dengan merubah cara pandang dan pola pikir kita,” tutur Hariyono

Hariyono menyampaikan bahwa era globalisasi sekarang ini harus kita terima dengan terbuka tetapi tetap dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Karena para Pahlawan dan pendiri bangsa telah memberi contoh bagaimana menghadapi globalisasi dahulu kala.



Sumber: Suara Pembaruan