Waspada Pengawet Makanan, Petugas Diminta Lebih Intensif

Waspada Pengawet Makanan, Petugas Diminta Lebih Intensif
Polisi tengah memeriksa barang bukti mie berformalin yang disita dari pabrik di wilayah Cianjur, Selasa (17/9/2019) ( Foto: Dok Polres Cianjur )
Heriyanto / HS Senin, 11 November 2019 | 06:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat harus semakin waspada dengan masih maraknya pemakaian sejumlah bahan pengawet pada makanan, seperti formalin. Para petugas juga perlu lebih intensif untuk meningkatkan pengawasan dalam distribusi makanan. Makanan berformalin sangat membahayakan kesehatan tubuh manusia.

Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga pakar gizi Ali Khomsan baru-baru ini menjelaskan bahwa ancaman pengawet mayat itu sangat berbahaya karena bersifat karsinogen. Formalin disebut dapat merusak sistem saraf tubuh manusia dan dikenal sebagai zat yang bersifat racun untuk persarafan tubuh (neurotoksik). Sejauh ini, informasi yang ada menyebutkan tidak ada level aman bagi formalin jika tertelan manusia.

"Pemanfaatan sejumlah bahan pengawet seperti formalin ini harus diperketat," tegasnya.

Untuk itu, kata dia, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan yang dibeli di luar rumah sendiri. Di sisi lain, perlunya penegakkan hukum kepada para pengguna dan pengedar formalin tersebut.

Informasi dari pantauan Komunitas Agrifood menyebutkan pemakaian formalin pada makanan masih marak di sejumlah daerah. Mi basah, tahu, ikan, dan makanan lainnya diduga paling sering menggunakan formalin.

Baru-baru ini, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri menangkap tiga tersangka yang memproduksi mi basah mengandung boraks dan formalin. Ketiga tersangka, yakni M (57) ditangkap di Nanggeleng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kemudian AS (53) dan RH (39) di Cianjur, Jawa Barat karena mencampur formalin dan boraks ke air rebusan mi.

Wakil Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Kombes Pol Mohamad Agung Budijono mengatakan formalin digunakan agar mi awet. Sementara boraks digunakan agar mi memiliki tekstur kenyal. Pelaku menjual mi hasil produksinya ke wilayah DKI Jakarta, Cianjur, Bogor, Bekasi dan Sukabumi. Dari hasil penyidikan diketahui para tersangka memproduksi mi sebanyak 5 ton hingga 7 ton per hari dengan omzet Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per bulan.

Selain pada mi, beberapa sentra produksi tahu juga ditengarai menggunakan formalin agar tidak mudah rusak. Informasi yang diperoleh Agrifood.id menyebutkan bahwa sebagian besar sentra produksi tahu di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan beberapa daerah lainnya semakin marak menggunakan formalin.

Dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) pada akhir Mei tahun lalu, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Pusat menemukan sebagian besar tahu di pasar tradisional banyak mengandung formalin. Formalin tersebut digunakan agar tahu bisa bertahan lebih lama. "Ada bahan pangan seperti tahu yang sering dikasih formalin supaya enggak cepat busuk," ujar Kepala Sudin KPKP Jakarta Pusat Bayu Sari Hastuti.

Hal yang sama juga dilakukan Sudin KPKP Pemkot Jakarta Selatan yang rutin mengawasi bahan pangan. Sasarannya pasar-pasar tradisional maupun modern. Namun, pengawasan dari petugas ini sepertinya belum optimal sehingga peredaran makanan mengandung pengawet ini masih saja ada.



Sumber: Suara Pembaruan