Disperindag Mukomuko Masih Temukan Rumah Makan dan Hotel Pakai Gas 3 Kg

Disperindag Mukomuko Masih Temukan Rumah Makan dan Hotel Pakai Gas 3 Kg
Ilustrasi tabung gas elpiji 3 kg. ( Foto: Antara / Rahmad )
Usmin / JAS Senin, 11 November 2019 | 09:24 WIB

Bengkulu. Beritasatu.com - Sidak Dinas Perindag dan UKM Kabupaten Mukomuko bersama Pertamina Bengkulu, menemukan rumah makan dan hotel masih menggunakan gas elpiji ukuran 3 kg yang diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu alias miskin.

Padahal, sesuai peraturan Menteri Energi Sumber Daya Meneral (ESDM) No 13 Tahun 2018 tentang kegiatan penyaluran BBM, BBG dan gas elpiji bahwa gas ukuran 3 kg diperuntukkan bagi usaha mikro, nelayan kecil, dan masyarakat miskin di Tanah Air.

"Hasil sidak kita di lapangan masih ditemukan rumah makan dan penginapan, serta hotel di Kabupaten Mukomuko menggunakan gas 3 kg. Mereka kita berikan pengertian bahwa gas 3 kg untuk warga kurang mampu bukan pengusaha," kata Sekretaris Disperindag dan UKM Mukomuko, Nurdiana, di Bengkulu, Minggu (10/11/2019).

Ia mengatakan, rumah makan dan penginapan yang masih menggunakan gas 3 kg ditemukan di wilayah Kecamatan Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Sedangkan di kecamatan lainya di kabupaten yang sama sekali tidak ditemukan kasus serupa.

Dijelaskan, berdasarkan surat edaran Gubernur Bengkulu, yang berhak menggunakan gas 3 kg adalah rumah tangga yang berpenghasilan maksimal Rp 1,5 juta/bulan, dan usaha mikro. Dengan demikian, PNS, pemilik rumah makan, restoran dan penginapan jelas tidak dibenarkan menggunakan bahan bakar bersih ini.

"Kita minta rumah makan, PNS, dan pemilik penginapan, serta hotel agar beralih menggunakan gas elpiji ukuran 5,5 kg dan 12 kg. Jika mereka terbukti masih menggunakan gas subsidi 3 kg, akan dikenakan sanksi tegas sesuai peraturan yang berlaku," ujarnya.

Akibat rumah makan dan penginapan masih menggunakan gas 3 kg, masyarakat kurang mampu sulit mendapatkan bahan bakar bersubsidi di pangkalan daerah setempat.

Hal ini terjadi karena stok gas 3 kg di pangkalan mengalami kelangkaan, menyusul pasokan gas 3 kg ke pangkalan dari Pertamina Bengkulu, dalam tempo singkat habis terjual, karena permintaan bahan bakar ini masih tinggi dari masyarakat.

Akibat stok gas 3 kg di pangkalan dalam keadaan kosong harganya, maka harganya melonjok menjadi Rp 30.000/tabung dari harga semestinya hanya Rp 20.000/tabung. Kondisi ini sejak lama dikeluhkan masyarakat Bengkulu, termasuk warga Mukomuko.

Masyarakat kalangan ekonomi menegah ke bawah yang menjadi sasaran gas subsidi mengharap agar pemerintah tegas dan diberikan saksi hukum terhadap pemilik rumah makan, penginapan dan pengusaha lainnya yang kedapatan menggunakan gas 3 kg.

Dengan sikap tegas itu, mereka tidak berani lagi menggunakan gas 3 kg, sehingga stok bahan bakar subsidi ini dipangkalan tersedia dengan baik. Dengan demikian, masyarakat setiap saat bisa mendapatkan gas 3 kg di pangkalan yang ada di Bengkulu.



Sumber: Suara Pembaruan