Maruarar Tekankan Pentingnya Pendidikan Pluralisme Sejak Dini

Maruarar Tekankan Pentingnya Pendidikan Pluralisme Sejak Dini
Tokoh pemuda Maruarar Sirait (berdiri) bersama mantan gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama hadir sebagai narasumber dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional dengan tema "Pahlawan Tanpa Topeng" di Aula BPK Penabur Harapan Indah pada Minggu, 10 November 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Hotman Siregar )
Hotman Siregar / JAS Senin, 11 November 2019 | 09:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anak-anak muda Gereja Kristen Indonesia (GKI) harus mampu menempatkan diri di mana pun berada. Namun pada saat yang sama harus juga menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Maruarar juga menegaskan pentingnya pendidikan pluralisme sejak dini.

Demikian disampaikan tokoh nasional Maruarar Sirait saat menjadi pembicara di hadapan ribuan pelajar dan pemuda Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Aula BPK Penabur Harapan Indah pada Minggu, (10/11/2019). Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional dengan tema "Pahlawan Tanpa Topeng."

Maruarar pun berkisah bagaimana ia, yang seorang Kristen dan bersuku Batak, bisa dipercaya menjadi anggota DPR selama 15 tahun dari daerah pemilihan Subang, Majalengka, dan Sumedang. Padahal Dapil tersebut berpenduduk lebih dari 95 persen beragama Islam dan bersuku Sunda.

"Kita harus pandai menempatkan diri," ungkap Ara, demikian ia disapa.

Maruarar melanjutkan cerita. Ia pernah ditanya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mengapa seorang Batak non-Muslim bisa menjadi juara di wilayah dengan mayoritas Sunda-Muslim. Suara Maruarar mencapai 130.000.

"Saya jawab, Gus, saya temukan Islam yang bersahabat, terbuka, dan cinta perdamaian. Dan akhirnya saya terpilih. Saya sampaikan apa adanya. Di dapil saya itu, saya temukan Islam yang ramah dan terbuka," kata Maruarar.

Maruarar mengatakan bahwa ratusan kali ia masuk musala, masjid dan Islamic Center. Di tempat-tempat itulah ia merasa aman dan nyaman. Bahkan ulang tahunnya pun dirayakan di gedung Islamic Center. Pernah juga merayakan tabligh akbar dengan penceramah Ketua Umum PBNU KH Aqil Sirad.

"Kalian, jangan jadi anak muda Kristen yang eksklusif," kata Maruarar, yang juga dikenal dekat dengan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif.

Dalam kesempatan ini, Maruarar pun mengusulkan agar ada kurikulum yang berbasis pada nilai-nilai pluralisme. Namun kurikulum ini juga harus langsung dipraktikkan di lapangan. Misalnya dengan membentuk kepanitian bersama 17 Agustusan dengan panitia dari semua unsur agama.

"Harus ada pendidikan pluralisme sejak usia ini," kata Maruarar.



Sumber: Suara Pembaruan