Kemasan Pasca Konsumsi Miliki Peran Penting dalam Sirkular Ekonomi

Kemasan Pasca Konsumsi Miliki Peran Penting dalam Sirkular Ekonomi
Dalam The 3rd Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) 2019, Praise menggelar sesi diskusi pararel dengan tema “Accelerating Circular Economy in Post-Consumer Packaging - A Call to Action for Cross Sectoral Partnership”, sebagai bagian dari komitmen Praise untuk mendorong terciptanya pengelolaan kemasan paska konsumsi di Indonesia yang holistik, terintegrasi dan berkesinambungan. (Foto: Beritasatu Photo / Dok. Praise)
Indah Handayani / FER Senin, 11 November 2019 | 17:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kemasan pasca konsumsi memiliki peran penting dalam ekonomi sirkular. Berdasarkan data, potensi ekonomi sirkular dunia saat ini mencapai US$ 4,5 trilun dan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia juga menjadi bagian dari potensi tersebut. Sayangnya, dari jumlah 64 juta sampah per tahun di Indonesia, masih sedikit sekali materi yang dimanfaatkan untuk masuk di dalam mata rantai pasok produk.

Ekonomi Sirkular Jadi Kunci Keberhasilan Pengelolaan Sampah

Praise (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment/Asosiasi Untuk Kemasan & Daur Ulang Bagi Indonesia yang Berkelanjutan) mendukung ekonomi sirkular dalam penanganan kemasan paska konsumsi di Indonesia. Salah satu model penanganan kemasan paska konsumsi yang diusulkan oleh Praise dalam diskusi paralel di Indonesia Circular Economy Forum 2019 adalah PRO (Packaging Recovery Organization).

Sinta Kaniawati, Ketua Umum Praise, Sinta Kaniawati, menjelaskan, tantangan pengelolaan kemasan pasca konsumsi dimulai dari pengumpulan serta pemilahan atau segregrasi di rumah tangga. Berdasarkan indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 yang menyebut 72 persen orang Indonesia tidak peduli akan sampah.

"Penanganan kemasan pasca konsumsi yang strategis dan sistemis tidak hanya akan mencegah degradasi lingkungan, namun juga membuka peluang investasi dan lapangan pekerjaan. Sementara dari sektor industri, ekonomi sirkular dapat membantu bisnis berjalan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab," kata Sinta di sela The 3rd Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) 2019, di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Belanda Dukung Indonesia Perangi Sampah Plastik

Menurut Sinta, salah satu model penanganan kemasan pasca konsumsi yang diusulkan oleh Praise adalah PRO (Packaging Recovery Organization). Model PRO akan memungkinkan industri (consumer goods) bersama sektor lainnya untuk bergabung dalam koalisi, membangun kerja sama berkelanjutan dengan industri daur ulang yang melibatkan sektor informal, difasilitasi dan dibimbing oleh pemerintah. "Sehingga dapat terbentuk ekonomi sirkular dalam pengelolaan kemasan paska konsumsi," kata Sinta.

Lebih lanjut, Sinta menjelaskan konsep PRO telah berhasil dilakukan di beberapa negara, antara lain Eropa, Meksiko, dan Afrika Selatan. Negara-negara ini mampu menghubungkan value chain dalam ekonomi sirkular dengan efektif. Seperti misalnya industri manufaktur akan memikirkan desain kemasan dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, mempermudah untuk menghitung perkiraan jumlah kemasan pasca konsumsi yang dilepas oleh perusahaan consumer goods.

"Selain itu, konsumen juga bertanggung jawab untuk mengembalikan kemasan pasca konsumsi di tempat-tempat pemungutan sampah yang telah tersedia," tambah Sinta.

Ekonomi Sirkular juga membantu terjadinya efisiensi penggunaan bahan baku dari alam yang saat ini semakin berkurang. Oleh karena itu, Praise berharap para peserta bisa memiliki pemahaman yang lengkap mengenai pentingnya ekonomi sirkular untuk segera kita gulirkan. Pihaknya juga mengajak seluruh pemangku kepentingan turut mendukung terlaksananya ekonomi sirkular di Indonesia.

"Salah satu harapan kami yaitu pemerintah dapat mendorong partisipasi aktif para pelaku persampahan di setiap daerah untuk memulai langkah kecil mewujudkan PRO dalam konteks Indonesia agar dapat mendukung pencapaian agenda nasional terkait pengurangan dan penanganan sampah," tutup Sinta.

 



Sumber: Investor Daily