Indonesia Butuh Pahlawan Lawan Radikalisme

Indonesia Butuh Pahlawan Lawan Radikalisme
Sebuah mawar diletakkan dengan latar gambar Monumen Pancasila Sakti saat persiapan peringatan Kesaktian Pancasila, Lubang Buaya, Jakarta, Selasa (30/9). ( Foto: Antara/Rosa Panggabean )
Yustinus Paat / WM Senin, 11 November 2019 | 20:29 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, bangsa Indonesia sekarang butuh pahlawan-pahlawan masa kini untuk melawan radikalisme yang cenderung menguat belakangan ini.

Menurut Bonar, pahlawan lawan radikalisme adalah orang-orang baik secara individu maupun bersama-sama melakukan kegiatan-kegiatan yang bernuansa merawat empat pilar kebangsaan, menjaga toleransi, dan menghargai perbedaan.

"Radikalisme itu nyata dan sudah menggejala ke berbagai sektor kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, kita butuh pahlawan-pahlawan untuk melawan radikalisme," ujar Bonar, kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Menurut Bonar, perkembangan radikalisme di Indonesia sebenarnya masih fluktuatif dan sangat tergantung pada ketegasan negara untuk mencegah dan memberantasnya. Jika negara kuat, kata dia, maka radikalisme tidak akan berkembang pesat.

"Namun, kalau negara lemah maka radikalisme akan terus menguat dan suatu saat akan menguasai kehidupan bangsa. Karena itu, kita butuh pahlawan-pahlawan yang tangguh untuk bersama negara melawan radikalisme atau terus mengingatkan negara tidak lemah menghadapi kaum radikalis," kata Bonar

Negara, kata Bonar, juga perlu menghadirkan dan menyosialisasikan secara masif para pejuang dan pendiri bangsa yang sudah dengan gigih mendirikan bangsa ini serta mampu mengatasi radikalisme.

Menurut dia, sosialisasi ini penting agar kaum muda mempunyai contoh atau model yang layak untuk diikuti.

"Selain itu, perlu memberikan ruang kepada tokoh-tokoh nasional, kepala daerah, legislator, tokoh agama, tokoh masyarakat sipil yang selama konsen melawan dan mencegah radikalisme. Karena tendensi kaum muda kita kan membutuhkan model yang bisa dijadikan idola. Kaum muda kita sekarang cenderung bergelut dengan dunia entertainment, teknologi, dan bisnis karena mereka menemukan banyak idola di bidang-bidang tersebut," terang dia.

Lebih lanjut, Bonar mengatakan, pahlawan-pahlawan untuk melawan radikalisme bisa dibentuk melalui program-program yang sudah dijalankan selama ini.

Dia mencontohkan, sosialisasi empat pilar (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI) bisa didesain sedemikian rupa sehingga dapat mencetak para pahlawan yang konsisten merawat empat pilar.

"Sayangnya program empar pilar masih insidentil atau tidak kontinyu, muncul tiba-tiba, kemudian hilang, orang-orang yang dilibatkan hanya yang punya kedekatan dengan anggota MPR, pemberian materinya searah, kurang bertolak dari pengalaman empirik dan ada yang memanfaatkan program empat pilar sebagai proyek untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok," ungkap dia.

Bonar berharap ke depan, program sosialisasi empat pilar lebih mengggali pengalaman empirik dengan menghadirkan orang-orang atau tokoh yang benar-benar telah berpengalaman merawat empat pilar kebangsaan.

Menurut dia, kehadiran mereka bisa menjadi model bagi kamu muda untuk merawat empat pilar kebangsaan termasuk menjaga toleransi dan melawan radikalisme.

"Jadi, kita berharap program empat pilar kebangsaan ini bisa melahirkan pahlawan-pahlawan yang mampu menjaga toleransi dan melawan radikalisme terutama yang muncul dari dalam bangsa kita sendiri. Perjuangan kita sekarang adalah bagaimana mencerahkan saudara-saudara kita yang terpapar radikalisme dan sama-sama menjaga bangsa ini," kata Bonar.



Sumber: BeritaSatu.com