Ganjar: Salam Kebinekaan Jangan Dipertentangkan

Ganjar: Salam Kebinekaan Jangan Dipertentangkan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Gus Muwafiq di acara Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Kamis, 17 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JAS Selasa, 12 November 2019 | 07:21 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap pengucapan salam untuk semua agama tidak dipertentangkan. Dia merasa masih ada hal yang lebih substantif dibanding mempermasalahkan salam kebinekaan itu.

"Sebenarnya semua salam itu sama tidak perlu dipertentangkan," kata Ganjar, Senin (11/11/2019).

Menurut Ganjar spirit salam semua agama adalah sama. Assalamualaikum, Shalom, Namo Buddhaya, om Swastiastu dan lainnya. Selama ini Ganjar juga kerap menyampaikan salam tersebut dalam acara-acara resmi karena memang audiensnya tidak berasal dari satu agama.

Pengucapan salam semua agama atau salam kebinekaan tersebut sebelumnya dipertentangkan oleh MUI Jawa Timur. Melalui surat imbauan bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori, melarang pemimpin daerah mengucapkan salam semua agama. Menanggapi surat MUI Jatim itu, Ganjar mengatakan sikap MUI Jateng berbeda.

"MUI Jateng tidak apa-apa, tidak ada komentar apa-apa. Kita menghormati semuanya. Kemarin dengan Ketua MUI Jateng tidak ada cerita soal ini," katanya.

Menurut Ganjar, persoalan pengucapan salam itu memang sudah lama. Bahkan Gus Dur pun juga sempat menyinggung soal itu dengan mengucapkan salam, selamat pagi.

"Gus Dur malah bilangnya selamat pagi dulu itu," katanya.

Menurutnya, daripada mempermasalahkan salam, masih banyak hal yang lebih substantif yang bisa dibahas dan dilakukan.

"Ada yang lebih substantif untuk kita pikirkan, lebih substantif persoalan-persoalan bangsa ini," katanya.

Sebelumnya beberapa tokoh juga sempat menanggapi imbauan MUI Jatim yang melarang mengucapkan salam kebinekaan itu. Dari Buya Syafii Maarif sampai Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini.

Menurut Buya, pelarangan tersebut tidak relevan sementara PBNU mengatakan penyampaian salam itu sudah jadi budaya kebaikan dalam ranah ukhuwah wathoniyah.

"Tentang salam yang sering disampaikan oleh para pemimpin atau tokoh masyarakat seperti 'Assalamualaikum, shalom, om swastiastu, namo budaya' dan lain sebagainya dalam pandangan saya sudah menjadi budaya untuk memperkuat ukhuwah wathoniyyah atau persaudaraan kebangsaan," kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.



Sumber: Suara Pembaruan