Pemuda Papua Elemen Penting dalam Sistem Pertahanan Negara

Pemuda Papua Elemen Penting dalam Sistem Pertahanan Negara
Ketua Pemuda LIRA Provinsi Papua, Steve Rick Elson Mara. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Rabu, 13 November 2019 | 14:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Para pemuda, khususnya pemuda Papua, merupakan salah satu elemen penting dalam sistem pertahanan negara. Oleh karena itu, penting bagi para pemuda Papua untuk membangun kapasitas diri dan menjaganya tetap berkualitas untuk masa depan yang berkelas.

Hal itu dikatakan Ketua Pemuda LIRA Provinsi Papua, Steve Rick Elson Mara di Jakarta, Rabu (13/11/2019). “Dalam ciri pertahanan negara Indonesia yang kesemestaan tentunya sistem pertahanan Indonesia melibatkan pemuda sebagai agent of defence. Jika diamati, kecendurangan ancaman dewasa ini merupakan ancaman unconventional, di mana ancaman nonmiliter lebih cenderung terjadi dibanding ancaman militer seperti perang langsung yang terjadi pada perang dunia I dan II,” ujarnya.

Steve yang juga mahasiswa S2 Universitas Pertahanan Negara, Fakultas Keamanan Nasional, Program Studi Damai dan Resolusi Konflik itu mengatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem pertahanan menjadi hal yang sangat fundamental. Sistem pertahanan merupakan faktor utama bagi eksistensi sebuah negara.

Jika sebuah negara tidak mampu mempertahankan dirinya terhadap berbagai ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri, itu artinya negara tersebut gagal dalam mempertahankan eksistensi.

Indonesia, kata Steve, memiliki sistem pertahanan yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai faktor dalam perkembangan lingkungan strategis serta kondisi geografis, politik dalam dan luar negeri, kebudayaan, keadaan ekonomi, dan kehiduapan sosial dalam negara.

“Sistem pertahanan Indonesia merupakan sistem pertahanan semesta. Secara harafiah, sistem pertahanan semesta merupakan sistem yang melibatkan seluruh warga negara Indonesia sesuai dengan peran dan fungsi yang pelibatan tersebut didasari dengan nilai cinta akan Tanah Air. Pertahanan Indonesia yang dibukukan dalam ‘Buku Putih Pertahanan Indonesia’ pada 2015 itu menyebutkan bahwa sistem pertahanan semesta memiliki tiga ciri utama, yaitu kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan yang melibatkan seluruh komponen,” kata Steve Mara.

Dijelaskan, dalam suatu sistem pertahanan semesta, bentuk pertahanan yang dikembangkan melibatkan seluruh warga negara, wilayah, segenap sumber daya dan sarana prasarana nasional, dipersiapkan secara dini oleh Pemerintah, serta diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut.

Terdapat tiga komponen dalam sistem pertahanan negara, yaitu komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung. Sementara, ancaman sendiri terbagi di dalam tiga spectrum, yaitu ancaman militer, ancaman nirmiliter, serta ancaman hibrida (perpaduan antara ancaman militer dan nirmiliter).

“Jika ancaman yang datang adalah ancaman militer, maka yang menjadi komponen utama untuk menghadapi ancaman tersebut adalah militer dan yang menjadi cadangan adalah nonmiliter. Sementara, jika ancaman yang datang adalah ancaman nirmiliter, maka yang menjadi komponen utama adalah nonmiliter dan yang mendukung adalah militer,” kata Ketua BEM STIH Umel Mandiri Jayapura periode 2015-2016 itu.

Steve menambahkan, perkembangan Revolusi Industri 4.0 juga telah mengubah dimensi ancaman siber. Perang dilakukan di dunia maya dengan menggunakan teknologi sebagai senjata utama. Hal ini mendorong pendidikan bela negara untuk terus dilakukan di berbagai lapisan masyarakat, terutama bagi pemuda.

Generasi milenial atau disebut sebagai generasi Y, yang kini berusia 19-38 tahun memiliki kecenderungan yang unik dibandingkan generasi sebelumnya. Keunikan generasi ini adalah lebih tertarik dengan penggunaan internet dalam mengakses informasi dibandingkan dengan media lai. Hal ini mengakibatkan generasi hari ini berada dalam ruang “melek teknologi”.

“Hal tersebut membawa sebuah berita positif bagi Indonesia bahwa dalam hal teknologi pemuda Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, di sisi lain, penggunaan teknologi yang cukup masif dan kemudahan dalam mengakses informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, dapat mengantarkan pengguna teknologi menjadi ancaman bagi negara,” ujar dia.

Generasi Y atau generasi melek teknologi ini bukan hanya berada di daerah yang memiliki sinyal baik, tetapi juga berada di daerah terpencil di Indonesia, seperti Papua. Pemuda Papua, kata Steve, pun banyak yang menjadi korban dari revolusi teknologi.

Dalam pengamatan Steve, kemudahan dalam mengakses informasi membuat banyak sekali dari pemuda yang mengakses informasi tanpa mengetahui kebenarannya dan langsung menyebarkan sehingga menimbulkan konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat serta konflik horisontal antara masyarakat dan masyarakat.

Hal ini harus menjadi perhatian semua elemen masyarakat, terutama pemuda Papua sebagai masa depan Indonesia timur. Sistem Pertahanan Indonesia yang berbentuk semesta telah mengantarkan semua element masyarakat, termasuk pemuda Papua sebagai komponen cadangan dalam sistem pertahanan negara, sehingga perlu adanya kesadaran untuk menjaga pertahanan negara.

“Menjadi bagian dalam sistem pertahanan negara tidak untuk memegang senjata dan ikut berperang bersama militer. Kesadaran menjadi bagian dalam sistem pertahanan negara bisa dilakukan melalui beberapa langkah, yakni tidak menyebarkan berita tanpa mengetahui kebenaranya, menjaga hubungan yang baik antara masyarakat dengan pemerintah serta masyarakat dan masyarakat, membagikan pesan perdamaian untuk menciptakan suasana damai, menuntaskan pendidikan dan berkarya bagi Tanah Air, mendukung program pemerintah, serta memberikan saran dan kritikan secara bijak jika ada program pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Membangun masa depan pemuda Indonesia, khususnya Papua, kata Steve, tidak dapat dilakukan dengan menunggu apa yang pemerintah akan kasih dan programkan untuk Papua. “Membangun masa depan Papua dimulai dari kita. Kita membangun kapasitas diri kita dan menjaganya tetap berkualitas untuk masa depan yang berkelas. Sa Papua, sa juga bagian dari sistem pertahanan negara,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan