Tepis Istilah "Kecolongan", Mahfud Sebut Teroris itu Memang Selalu "Nyolong"

Tepis Istilah
Mahfud MD. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / YS Rabu, 13 November 2019 | 17:42 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Pelaku terorisme selalu menyolong atau mencuri kesempatan dalam melakukan aksinya. Pemerintah menepis istilah aparat penegak hukum dan intelijen "kecolongan" menyangkut teror bom bunuh diri di Medan, Sumatera Utara (Sumut).

"Enggak (kecolongan). Memang teroris itu selalu nyolong. Ya ndak apa-apa. Istilah 'kecolongan' lalu dipolitisir lagi. Pokoknya (teroris) ditindak gitu saja nanti," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Maju antara Pemerintah Pusat dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019).

Menurut Mahfud, kasus teror bom, termasuk penelusuran jaringan teroris sepenuhnya akan menjadi tugas intelijen. Mahfud menepis anggapan pihak berwajib tidak mencermati gerak-gerik para teroris.

"Masyarakat juga jangan selalu nyinyir. Pemerintah bertindak disebut melanggar HAM (hak asasi manusia). Pemerintah enggak bertindak, disebut kecolongan. Kita sama-sama dewasa menjaga negara ini. Orang yang suka nyinyir itu kalau mengeritik. Kalau terjadi sesuatu hanya, 'loh saya kan cuma usul'. Sudah terjadi, dia tak mau tanggung jawab," tegas mantan ketua Mahkamah Konstitusi tersebut

Mahfud pun menyebutkan, "Oleh sebab itu, jangan selalu menyudutkan aparat kalau mengambil tindakan. Dikontrol saja secara proporsional. Benar atau tidak, kan nanti ada proses hukum di pengadilan yang membuktikan aparat salah atau tidak."



Sumber: Suara Pembaruan