Mantan Panglima NII Duga Bom Medan Dipicu Tewasnya Pemimpin ISIS

Mantan Panglima NII Duga Bom Medan Dipicu Tewasnya Pemimpin ISIS
Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019) ( Foto: Antara / Irsan Mulyadi )
Fana Suparman / FMB Kamis, 14 November 2019 | 10:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Panglima Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan menduga pelaku teror bom bunuh diri di Polresta Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11/2019) kemarin merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ken menyebut aksi bom bunuh diri tersebut sebagai aksi balas dendam atas tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakr al Baghdadi beberapa waktu lalu di Suriah dalam operasi khusus Amerika Serikat.

"Ini pelakunya dari kelompok JAD. Efek meninggalnya Abu Bakar al Baghdadi," kata Ken yang merupakan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center kepada SP, Kamis (14/11/2019).

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menyebut pelaku bom bunuh diri di Polresta bernama Rabbial Muslim Nasution (24) berstatus sebagai mahasiswa. Dedi menyatakan Rabbial beraksi seorang diri atau lone wolf. Pelaku meninggal karena terkena dampak dari ledakan bom yang dibawanya.

Serangan lone wolf semakin meningkat belakangan ini. Peristiwa bom bunuh diri di Polresta Medan hanya berselang sekitar sebulan dari serangan terhadap Wiranto yang saat itu masih menjabat Menko Polhukam pada Kamis (10/10/2019) lalu. Penyerangan ini terjadi saat Wiranto bersama rombongan akan meninggalkan helipad atau tempat pendaratan helikopter, tepatnya di pintu gerbang Alun-alun Menes Desa Purwaraja Kecamatan, Menes, Pandeglang, Banten.

Ken menilai ancaman teror yang dilakukan oleh individu atau lone wolf lebih berbahaya ketimbang teror yang dilancarkan oleh kelompok teroris lantaran serangan lone wolf tanpa koordinasi dan bisa lepas dari monitor aparat. Hal ini salah satu faktor yang membuat penanganan terorisme yang dilakukan aparat seperti pemadam kebakaran atau beraksi saat teror telah terjadi.

"Sebab tidak bisa terdeteksi," katanya.

Ken mengatakan, para mantan ISIS yang kembali ke Indonesia punya potensi lebih besar menjadi lone wolf. Hal ini lantaran mereka memiliki keberanian dan keterampilan. Apalagi, kelompok radikalis sedang gamang atas tewasnya Abu Bakr al Baghdadi. Mereka, kata Ken seperti putus asa walaupun tetap dengan segala upaya akan melakukan usaha pembentukan opini sebagai langkah eksistensi mereka. Salah satunya melalui aksi teror.

"Putus asa dan jihad kelompok radikal itu beda tipis, apalagi di iming-imingi puluhan bidadari dan surga tanpa hisab bersama keluarga ketika melakukan aksi bom bunuh diri, ini perlu diwaspadai," katanya.

Namun, Ken mengingatkan, tak hanya para mantan ISIS, kelompok-kelompok intoleran saat ini dapat dengan cepat menjadi radikalis bahkan melakukan aksi teror tanpa perlu komando. Dikatakan, melalui media sosial, asupan pemahaman radikal bisa didapat tanpa perlu bertemu dengan guru yang memberi materi jihad.

"Ketika sudah intoleransi, belajar dari media sosial pun bisa terpapar paham radikal dan teror bisa dilakukan secara acak oleh orang yang sudah terpapar paham intoleransi dan radikalisme. Ini yang dikhawatirkan sebab bisa jadi ini lepas dari pantauan aparat. Mereka yang punya keterampilan bikin bom dan punya keberanian maka bisa menjadi bunglon alias bisa menyaru menjadi apa saja agar tidak dicurigai sehingga mereka bisa melakukan aksi teror kapanpun dan dimanapun mereka inginkan," ungkapnya.

Untuk itu, Ken meminta aparat kepolisian meningkatkan pengamanan secara konsisten agar tidak kembali kecolongan. Bila perlu, kepolisian segera menangkap orang-orang yang sudah terindikasi akan melakukan teror. Peningkatan pengamanan secara konsisten dinilai perlu untuk mengantisipasi serangan terorisme tetutama menjelang Natal dan tahun baru mendatang.

"Terutama pengamanan di tempat-tempat umum, seperti rumah ibadah dan pusat perbelanjaan," ungkapnya.

Selain itu, aparat kepolisian juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Hal ini mengingat dalam sejumlah peristiwa, aparat kepolisian menjadi sasaran teror.

"Polisi menjadi sasaran karena dianggap menghalang-halangi gerakan mereka, bahkan polisi dianggap memadamkan cahaya Allah," kata Ken.



Sumber: Suara Pembaruan