Bomber Medan Belajar di Belawan

Bomber Medan Belajar di Belawan
Polisi memasang garis polisi pada jalan menuju rumah dua pimpinan bomber bom Dedek di Belawan. ( Foto: dok )
Arnold H Sianturi / YUD Kamis, 14 November 2019 | 21:31 WIB

Medan, Beritasatu.com - Densus 88 Antiteror bekerja sama dengan Polda Sumut masih melakukan penyisiran bahan peledak di dua rumah yang ditempati Salman Al Farizi (40) dan Fahmi Junaidi (41). Salman dan Fahmi adalah guru pengajian pelaku bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution alias Dedek (24).

Lokasi dua rumah yang digeledah polisi di Jalan Serdang Lingkungan II GHDL Kelurahan Belawan 1, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Sampai, Kamis (14/11/2019) tengah malam, polisi masih berada di lokasi pengajian tempat Rabbial belajar tersebut.

Dari lokasi penggeledahan itu, polisi mengamankan sembilan pipa besi yang diduga berisi bahan peledak. Polisi juga masih melakukan pengejaran terhadap imam pelaku bom bunuh diri itu. Masyarakat mencurigai, bahwa sejumlah orang yang berkumpul di rumah itu adalah bomber bom Medan.

"Kita mencurigai mereka pelaku teror yang disiapkan untuk menebar teror dengan melakukan bom bunuh diri. Soalnya, Mabes Polri mengungkapkan, bahwa Dewi istri Dedek itu sudah merencanakan melakukan peledakan bom di Bali," ujar Kepala Lingkungan V, Kelurahan Belawan I, Indah Pratiwi.

Indah mengungkapkan, ada sekitar 8 sampai 10 orang yang selalu melakukan pertemuan di rumah Salman Al Farizi dan Fahmi Junaidi. Dua rumah itu juga ada istri beserta anak dari kedua pasangan suami-istri tersebut. Mereka juga orangnya sangat tertutup dan kurang bersosialisasi di masyarakat.

Menurutnya, pengajian yang dipimpin Salman Al Farizi dan Fahmi Junaidi itu tidak melibatkan masyarakat sekitar. Keluarga ini hanya melibatkan orang dari luar kampung itu, rekan kelompok Rabbial yang datang ke rumah tersebut. Mereka sudah tiga tahun menempati rumah kontrakan itu.

"Penghuni dua rumah itu sudah langsung pergi meninggalkan rumah setelah kejadian bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan. Mereka bergegas pergi pada siang hari, dan perginya tergesa-gesa tanpa ada penyampaian dengan para tetangga. Warga curiga bahwa mereka kelompok radikal," sebutnya.

Sementara itu, sejumlah petugas juga tidak menampik kecurigaan masyarakat, bahwa dua rumah yang dijadikan lokasi pengajian pelaku bom di Markas Polrestabes Medan, diduga bagian dari jaringan bomber bom Medan. Sebab, di lokasi itu ada ditemukan bahan peledak yang disiapkan melakukan teror.

"Dua pimpinan Dedek itu diduga kuat sebagai orang yang mencuci otak, memberikan perintah dan merakit bom di dalam rumah tersebut. Untuk memastikan kebenaran itu akan terbukti setelah petugas melakukan penangkapan terhadap kedua orang tersebut," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan