Gubernur NTT Inginkan Festival Menipo Menjadi Agenda Tetap Pariwisata

Gubernur NTT Inginkan Festival Menipo Menjadi Agenda Tetap Pariwisata
Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) memukul gong tanda dimulaikan Festival Menipo 2019 di area Lippo Mall Kupang, Kamis, 14 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Yos Kellen )
Yoseph A Kelen / JEM Jumat, 15 November 2019 | 14:55 WIB

Kupang, Beritasatu.com - Festival Menipo 2019 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertujuan membangun kepedulian, pemahaman, dan pengetahuan bagi seluruh masyarakat dan pemerintah daerah ini untuk bagaimana merawat dan melestarikan kawasan wisata alam Menipo.

Taman Wisata Alam (TWA) Menipo seluas sekitar 2.449 hektare, merupakan kawasan konservasi alam yang dimiliki Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Taman alami ini menawarkan sejuta keindahan dengan berbagai objek menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini.

Objek menarik itu antara lain berbagai macam satwa langka mulai dari rusa timur, burung kaka tua jambul kuning, dan juga buaya muara. Wisatawan juga dapat menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) dengan keindahan alam pantai pasir putih. Wisatawan dapat juga melakukan aktivitas memancing, snorkeling, berenang, dan berselancar di laut sekitar.

Festival Menipo baru pertama kalinya diselenggarakan ini digagas oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT. Festival Menipo 2019  dibuka Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat yang ditandai dengan pemukulan gong, Kamis (14/11/2019) di area Lippo Plaza Kupang. 

Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara mengatakan, Taman Wisata Alam ( TWA) Menipo di Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu kawasan konservasi yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT.

Jarak tempuh tiga jam melalui perjalanan darat dari Kota Kupang, kata Timbul Batubara, kita akan diajak untuk menjelajahi "surga" tersembunyi yang wilayah NTT.

Dari desa tersebut, pengunjung diarahkan menuju ke dermaga dengan menyegarkan mata dengan melihat ekosistem pantai, mangrove dan savana. TWA Menipo memiliki ragam flora dan fauna yang masih terjaga. Sekelompok rusa Timor akan menyambut kehadiran Anda disana. Keindahan landscape pasir dan kicauan burung-burung membuat Anda merasa bahagia dengan kesejukan. Anda juga bisa jumpai ribuan kelelawar, burung laut, bangau putih, buaya muara dan beberapa satwa lainnya.

Ekosistem savana dari atas Bukit Menipo juga menjadi keindahan alam dari sisi yang lain. Selain itu pesisir selatan Pulau Menipo, tempat penyu bertelur menjadi pemadangan tersendiri yang sekaligus menjadi kawasan konservasi penyu di daerah ini.

Timbul Batubara, pada acara puncak Festival Menipo di Lippo Plaza, mengatakan Taman Wisata Alam Menipo merupakan "surga" kecil yang tersembunyi di Desa Enoraen.

"Dan hari ini merupakan acara puncak Festival Menipo dari Januari hingga November yang diikuti oleh masyarakat Enoraen baik dari anak-anak hingga orang tua," jelasnya.

Dengan tujuan agar masyarakat sekitar Taman Wisata Alam Menipo di Kabupaten Kupang merasa memiliki TWA Menipo dengan cara menjaga dan merawat ekosistem hewan serta tumbuh-tumbuhan di daerah tersebut dan 55 warga yang tinggal di kawasan TWA Menipo diberikan pemahaman untuk ikut ambil bagian dalam menjaga kelestarian TWA Manipo itu.

BBKSDA NTT juga melatih masyarakat untuk mempersiapkan diri saat kawasan TWA dikunjungi wisatawan dengan melatih mereka untuk menenun dan membuat kerajinan tangan sehingga bisa mengembangkan ekonomi mereka.

Ali Said, Executive Director PT Lippo Karawaci Tbk  menyatakan, Lippo sangat mendukung kegiatan yang telah dikemas dan dilaksanakan dengan baik untuk meningkatkan kemajuan sektor pariwisata NTT. Sehingga Menipo dapat dikenal sebagai objek wisata alam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara karena daya tarik Menipo sangat bagus untuk dipromosikan sebagai salah satu tujuan wisata yang menawarkan beragam keindahan alam.

Ali Said berharap kegiatan ini dapat menjadi nilai tambah bagi industri kecil dan industri kreatif khususnya sektor pariwisata di NTT. "Mudah-mudahan kami dari Lippo bisa memberikan fasilitas yang kami miliki di sini untuk bersama membangun dan meningkatkan perekonomian masyarakat Kupang dan juga wilayah Nusa Tenggara Timur," katanya.

Ali Said juga menjelaskan tentang Lippo Malls Indonesia (LMI) merupakan pengembang dan operator mal terbesar di Indonesia. LMI  memiliki dan mengelola lebih dari 72 mal dengan 13.000 tenant  tersebar di 40 kota di seluruh Indonesia. Antara lain di Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Indonesia bagian Timur seperti Makassar, Manado, Bali dan Kupang.

"Saat ini LMI juga tengah mempersiapkan berbagai proyek di berbagai kota di Indonesia barat antara lain Semarang, Medan, Padang, Bandung, Tangerang dan juga Cikarang," kata Ali Said.

Sementara Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat saat membuka festival mengatakan, berdasarkan penelitian, di mana pun alam dan budaya akan rusak jika kita tidak mempunyai kekuatan ekonomi.

"Jika masyarakat  Enoraen tidak dapat meningkatkan ekonominya dengan baik dan masih cenderung menjual burung, penyu, dan kayu, dipastikan akan merusak ekosistem alam," katanya.

Namun, lanjutnya, jika masyarakat bersama pemerintah daerah membangun sektor pariwisata di sana, maka ekosistem alam akan tetap terjaga.

"Festival Menipo ini adalah jawaban terhadap kemampuan untuk menjaga kelestarian lingkungan alam dan ekosistemnya dengan meningkatkan sektor pariwisata di area Menipo," katanya.

Viktor Laiskodat menyebut wisata di NTT dirancang untuk menjadi destinasi kelas premium. Sehingga ia berharap Festival Menipo disiapkan menjadi agenda tetap pariwisata NTT bahkan agenda wisata nasional.

"Ke depannya Menipo dapat dipersiapkan sebagai tempat pariwisata dan kuliner serta tempat tinggal yang baik," kata Viktor Laiskodat.

 



Sumber: Suara Pembaruan