Ketergantungan pada Medsos Berpotensi Rusak Perilaku Masyarakat

Ketergantungan pada Medsos Berpotensi Rusak Perilaku Masyarakat
Gubernur Jambi, Fachrori Umar (depan) memukul gong pertanda Festival Media 2019 yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Kota Jambi dibuka, Sabtu (16/1). ( Foto: Beritasatu Photo / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / JAS Sabtu, 16 November 2019 | 21:15 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Meningkatnya ketergantungan masyarakat mendapatkan informasi melalui media sosial (medsos) perlu terus diwaspadai karena hal tersebut berpotensi merusak pola pikir dan perilaku masyarakat.

Sajian informasi medsos yang bebas tanpa sensor dan cenderung menabrak rambu-rambu etika dan norma bisa membuat warga masyarakat mudah mempercayai informasi yang menyesatkan, sehingga mereka gampang terpancing melakukan aksi-aksi bernuansa konflik.

Demikian salah satu pokok pikiran yang bisa dipetik pada Festival Media 2019 yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Balai Pendidikan dan Latihan (Diklat) Provinsi Jambi, Sabtu (16/11/2019).

Festival Media 2019 bertajuk “Literasi di Era Disrupsi” yang berlangsung hingga Minggu (17/11/2019) tersebut diikuti sekitar 2.000 orang dari 25 AJI kota se-Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perusahaan swasta, media cetak dan elektronik, serta pers kampus. Turut hadir pada kesempatan tersebut, Ketua Umum AJI, Abdul Manan, dan Gubernur Jambi, Fachrori Umar.

Festival Media 2019 tersebut diisi dengan dengan 11 workshop (lokakarya) jurnalistik, lomba lomba vlog (liputan blog video), foto spot (foto selama festival berlangsung) dan pameran.

Ketua Umum AJI, Abdul Manan, pada kesempatan tersebut mengatakan, ketergantungan pada medsos yang terus meningkat di tengah masyarakat sangat berbahaya bagi kehidupan sosial. Masalahnya, penyiaran informasi melalui medsos umumnya tanpa sensor dan tidak ada keharusan mematuhi kode etik. Kondisi demikian membuat masyarakat sering mendapat informasi yang menyesatkan dan menanggapi informsi tersebut secara negatif.

Dikatakan, warga masyarakat gampang percaya dan terpengaruh informasi dari medsos karena mereka semakin kurang tertarik mendapatkan informasi melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Warga masyarakat belakangan ini lebih tertarik mendapat informasi melalui gadget yang dipenuhi sajian – sajian informasi yang tidak digarap sesuai prinsip jurnalistik.

“Saat ini masyarakat yang pembaca koran semakin berkurang. Mereka berpindah mendapat informasi melalui medsos. Wartawan saat ini tidak bisa lagi memonopoli sumber informasi karena ada medsos dan jurnalisme warga,” katanya.

Abdul Manan menyebutkan, era disrupsi (cepatnya perubahan) saat ini dan di masa mendatang mesti disikapi secara cerdas oleh jurnalis dan seluruh elemen masyarakat. Hal itu penting agar penyebaran informasi yang begitu cepat di tengah masyarakat benar-benar senantiasa bersifat positif dan membangun.

Untuk membendung peningkatan minat masyarakat mendapat informasi melalui medsos, lanjut Abdul Manan, profesionalisme jurnalis di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Profesionalisme tersebut ditandai dengan peningkatan kemampuan jurnalis atau wartawan meliput dan menyiarkan berita sesuai dengan rambu-rambu dan kode etik jurnalistik. Berita-berita yang disiarkan jurnalis secara profesional tersebut, yakni akurat, jujur, berimbang, berbahasa yang santun, independen atau tidak berpihak.

“Selain itu pengetahuan masyarakat mengenai literasi jurnalistik perlu ditingkatkan agar mereka lebih memahami mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Melalui literasi jurnalistik juga, warga masyarakat akan lebih mempercai informasi yang disampaikan jurnalis melalui media massa ketimbang informasi yang beredar di medsos,”katanya.

Abdul Manan mengatakan, AJI yang berdiri sejak 1994 kini memiliki 1.800 orang anggota di 38 cabang AJI seluruh Indonesia. AJI fokus memperjuangkan kebebasan pers, advokasi regulasi, kesejahteraan dan independensi jurnalis.

Sementara itu, Gubernur Jambi, Fachrori Umar pada kesempatan tersebut menyambut baik penyelenggaraan Festival Media 2019 yang bertujuan meningkatkan profesionalisme jurnalias dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai informasi yang baik, tepat dan terpercaya.

Fenomena pergerakan dan perubahan informasi di tengah masyarakat saat ini dan di masa mendatang semakin cepat menyusul terus berkembangnya era digitalisasi. Informasi yang disiarkan media, baik media massa maupun medos saat ini lebih cepat diakses masyarakat di mana pun mereka berada.

“Menyikapi hal tersebut, masyarakat perlu mendapat edukasi mengenai informasi yang positif dan konstruktif atau membangun. Tanpa edukasi tersebut, warga masyarakat bisa memperoleh informasi secara tidak benar dan menafsirkannya dengan keliru atau bias. Untuk itu wartawan hendaknya senantiasa menyiarkan berita yang positif, akurat, santun dan bersifat membangun,” katanya. 



Sumber: Suara Pembaruan