Peneliti Muda Undip Raih Medali Emas di Ajang IIIC 2019

Peneliti Muda Undip Raih Medali Emas di Ajang IIIC 2019
Tim peneliti muda Undip usai meraih medali emas pada ajang International Innovation and Invention Competition (IIIC) 2019, di Taipei, Taiwan. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Stefi Thenu / FER Minggu, 17 November 2019 | 20:07 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Tim peneliti muda dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berhasil meraih medali emas (gold medal) dalam ajang International Innovation and Invention Competition (IIIC) 2019, di Taipei, Taiwan.

Baca Juga: Biaya Setahun Kuliah di Australia Setara 11 Tahun di Taiwan

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Chinese Innovation and Invention Society (CIIS) bekerjasama dengan Moscow International Inventions and Innovation Innovative Technology dan International Federation of Inventor's Associations yang berlangsung pada tanggal 14 November 2019, di Taipei Ambassador Hotel, Taiwan.

Tim yang terdiri dari Annisa Istiqomah (Fakultas Peternakan dan Pertanian Program Studi Teknologi Pangan), Ade Aisyah Arifna Putri (Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri), Akhbarani (Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Ekonomi Islam), menyajikan penelitian beras analog antidiabetes dari umbi talas dan umbi jalar ungu, berjudul The Putato Rice (The Purple Taro and Sweet Potato Rice), berhasil menyisihkan ratusan peserta dari 13 negara.

Baca Juga: Kemristekdikti Batasi Kuota Mahasiswa Keguruan

Ajang ini bergerak di bidang riset yang terdiri dari beberapa bidang diantaranya, kategori inovasi di bidang lingkungan, energi, kesehatan, teknologi dan intelligent living technology.

"The Putato Rice (The Purple Taro and Sweet Potato Rice) merupakan beras analog antidiabetes yang merupakan hasil kolaborasi dari tepung umbi talas (Colocasia esculenta L Schott) dan bubuk daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) yang dibuat dengan teknik ekstrusi," jelas salah seorang anggota tim, Annisa Istiqomah, kepada Beritasatu.com, Minggu (17/11/2019).

Beras analog antidiabetes ini dibuat dari tepung umbi talas dan bubuk daun ubi jalar ungu yang dibuat dengan teknik ekstrusi yaitu pembentukan adonan dengan memberikan tekanan melalui cetakan dengan menggunakan alat bernama ekstruder.

Setelah diujicobakan, beras ini mampu menurunkan kadar gula darah tikus wistar hingga 40,51 miligram dalam waktu 2 minggu, karena mengandung indeks glikemik yang rendah disertai kemampuan dalam menghambat proses pemecahan pati menjadi glukosa oleh enzim alfaglukosidase sebesar 35,67 persen, untuk meminimalkan penumpukan kadar gula dalam darah sebagai pemicu hiperglikemia dan berbagai komplikasi pada penderita diabetes melitus tipe 2.



Sumber: Suara Pembaruan