Erupsi Merapi Jadi Momen Menarik buat Wisatawan

Erupsi Merapi Jadi Momen Menarik buat Wisatawan
Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu, 17 November 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Rudi )
Fuska Sani Evani / CAH Senin, 18 November 2019 | 09:30 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Erupsi Gunung Merapi yang terjadi  pada Minggu (17/11/2019) pukul 10.46 WIB, tak lantas membuat wisatawan yang datang saat itu menjadi panik. Salah satu pengelola Jip Wisata Lereng Merapi, Bambang mengatakan, Gunung Merapi aktif di jam wisatawan banyak yang berkunjung.

Bukannya takut, wisatawan diungkapkan Bambang justru memanfaatkan erupsi Merapi sebagai momen langka yang menarik.

"Kita sudah punya jalur aman untuk mengamati Merapi, bahkan di saat ada erupsi. Wisatawan tidak takut bahkan minta diantar untuk melihat langsung,” katanya pada Senin (18/11/2019).

Bambang mengungkapkan, jip wisata Merapi memang ramai pada hari libur, dan saat erupsi kemarin, driver sudah biasa menghadapi kondisi tersebut. “Justru kemarin, wisatawan yang hanya berkunjung, jadi minta diantar naik jip, untuk mendapatkan momen dengan berfoto," jelasnya.

Wisata jip Merapi dibatasi atau jangkauan tertingginya sampai di bunker yang jaraknya 5,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sementara itu Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida melaporkan jika dalam letusan dengan tinggi kolom 1.000 meter tersebut juga mengandung awan panas akibat material kubah lava yang terbongkar.

Baca JugaMerapi Meletus, Ganjar Minta Masyarakat Tenang dan Waspada

Hanik menambahkan, potensi ancaman bahaya saat ini masih sama yaitu berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.

"Penyebab letusan dilatarbelakangi masih adanya suplai magma yang ditandai adanya gempa vulkanik dalam ([VA] dan adanya akumulasi gas," terang Hanik Humaida dalam keterangan terrulisnya.

Berdasar data yang dirilis BPPTKG DIY, aktivitas kegempaan yang terjadi akibat letusan tersebut beramplitudo maksimal 70 kilometer dengan durasi sekitar 155 detik.

Letusan pada Minggu tersebut, mengakibatkan adanya hujan abu di sekitar Gunung Merapi dengan arah dominan ke sektor barat sejauh 15 km dari puncak, yaitu di sekitar wilayah Kecamatan Dukuh, Magelang.

Baca Juga: BPPTKG: Letusan Merapi Berpotensi Terus Terjadi

Hanik menyebutkan paska letusan 9 November 2019, pada tanggal 15-16 November 2019 kegempaan kembali meningkat.  Dari data seismograf, rata-rata vulkano tektonik dalam (VTA) 15 kali per hari, dan multiphase (MP) 75 kali per hari.

Pada tanggal 17 November tercatat gempa VTA 3 kali, VTB 4 kali, dan MP 16 kali. Menurutnya, peningkatan kegempaan tersebut mencerminkan akumulasi tekanan gas di bawah permukaan kubah yang berasal dari dapur magma di kedalaman kurang dari 3 kilometer dari pucak Merapi.

Meskipun demikian sampai dengan saat ini Gunung Merapi masih berstatus level II (waspada).

Untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik terhadap penerbangan maka VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) diterbitkan dengan kode warna Orange.

 



Sumber: Suara Pembaruan