“Positioning” yang Tepat Kunci Kembangkan Wisata Premium

“Positioning” yang Tepat Kunci  Kembangkan Wisata Premium
Dewan Pembina Akademi Pariwisata ULCLA Toba, Frans Meroga Panggabean saat membawakan Kuliah Umum "Enjoy Thousand Eden Experience of Toba" di Kampus AkPar ULCLA Toba di Tarutung, Tapanuli Utara. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Senin, 18 November 2019 | 10:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perumusan strategi pemasaran yang tepat dan efektif harus segera dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), khususnya terhadap destinasi super prioritas. Gagasan untuk meningkatkan kualitas wisman yang berkunjung, tentu membutuhkan strategi yang berbeda.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Generasi Optimis (GO) Indonesia, Bayu Endro Winarko di Jakarta, Senin (18/11/2019). Bayu menanggapi keinginan Menparekraf Whisnutama saat Rakornas Indonesia Maju di Sentul Bogor, Jawa Barat, agar turis asing yang datang ke Indonesia adalah wisman dengan kualitas premium untuk menggenjot penerimaan devisa negara dari sektor pariwisata.

Menurut Bayu ini sangat penting, karena positioning itulah yang akan menjadi daya tarik yang menempel di benak wisman yang menjadi target market destinasi wisata tersebut. “Kalau ingin wisman yang datang adalah yang premium, positioning daerah destinasi pun harus disesuaikan dengan target market tersebut," ujarnya.

Setidaknya ada tiga hal yang harus segera ditindaklanjuti oleh Kemenparekraf. Pertama, mempertajam positioning di lima daerah destinasi super prioritas. Kedua, mempertajam diferensiasi masing-masing destinasi, yang kemudian dikomunikasikan secara konsisten kepada negara target market.

"Mempertajam diferensiasi sangatlah penting, karena itulah yang akan membedakan daerah destinasi wisata yang satu dengan yang lainnya. Daerah wisata yang didatangi oleh wisman dengan kualitas premium, harus didukung akses, amenitas, dan attraction, serta orang yang berkualitas pula," terang Bayu yang pernah menjadi tim ahli Tourism 4.0.

Ketiga, komunikasi yang tepat untuk membentuk branding dari masing-masing destinasi wisata. Positioning dan diferensiasi masing-masing destinasi wisata tersebut, selanjutnya harus dikomunikasikan dengan tepat sesuai target market, negara asal wisman.

“Selain itu juga perlu didukung produk yang inovatif, baik wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan,” tambah Bayu.

Kuliah Umum
Sementara itu Dewan Pembina Akademi Pariwisata ULCLA Toba, Frans Meroga Panggabean mengatakan positioning yang tepat untuk Toba adalah “Enjoying 1.000 Eden Experience of Toba”. Itu didukung dengan beragam wisata alam, budaya, dan kuliner yang siap untuk ditawarkan kepada wisman yang akan berkunjung ke Toba.

Dengan positioning ini, Frans menilai polemik mengenai Toba yang akan dilabel destinasi wisata ramah Muslim tidak berlanjut.

"Ini saat yang tepat untuk mempromosikan Toba sebagai destinasi tujuan wisata kepada wisman mancanegara dari berbagai latar belakang. Dukungan infrastruktur yang sudah, dan sedang dibangun akan mempermudah wisman datang ke Toba," ujar Frans saat membawakan kuliah umun dalam penyambutan mahasiswa baru Akpar ULCLA Toba.

Dengan dukungan infrastruktur yang ada, akses ke Danau Toba akan lebih mudah. Hanya tinggal melengkapi amenitas, dan meningkatkan kesiapan masyarakat, serta SDM, supaya wisman dan wisnus nyaman, dan betah menikmati indahnya Toba.

Selain itu Frans menambahkan, sektor pariwisata yang ditetapkan sebagai leading sector harus didukung oleh kementerian terkait seperti, Kementerian Koperasi dan UKM, serta BKPM. Kenapa? Karena daerah destinasi super prioritas membutuhkan investor untuk mendukung geliat pariwisata di daerah itu.

"Ribuan pengerajin kain tenun, pengerajin ukiran kayu, membutuhkan pembinaan dari pihak terkait. Karenanya SKB dari kementerian terkait sudah seharusnya dibentuk, agar percepatan pembangunan pariwisata di lima daerah super priorotas segera terwujud," pungkas Frans.



Sumber: Suara Pembaruan