Kelompok Teroris Sumut Diduga Memulai Gerakannya Sejak 2015

Kelompok Teroris Sumut Diduga Memulai  Gerakannya Sejak 2015
Djuhadi (75), warga Lingkungan 20, Jalan Sentosa Barat, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara (Sumut), saat diwawacara wartawan terkait penangkapan para terduga terorisme di lingkungan tempat tinggalnya, Jumat, 15 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / JEM Senin, 18 November 2019 | 14:52 WIB

Medan, Beritasatu.com - Sekitar 4-5 tahun lalu atau sekitar tahun 2015, warga sudah melihat adanya aktivitas sekelompok orang yang diduga terlibat gerakan radikalisme di Lingkungan 20, Jalan Sentosa Barat, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara (Sumut).

Djuhadi (75), warga yang paling dituakan di lingkungan itu mengungkapkan, kelompok itu berjumlah puluhan orang dan sering melakukan pengajian. “Pengajian dilaksanakan di rumah pasangan suami istri Syafri dan Ainun,” kata Djuhadi yang bertetangga dengan Syafri dan Ainun.

"Syafri itu diduga sudah lama terpapar radikal, termasuk ketika masih bekerja sebagai sekurit di Ujung Baru Belawan. Dia dipecat dari tempatnya bekerja beberapa bulan lalu. Dipecat karena tidak mau menghormat bendera," sebut Djuhadi yang ditemui di kediamannya di Sicanang.

Rumah yang ditempati Syafri bersama istri dan dua orang anaknya, lanjut Djuhadi, sebelumnya ditempati Iwan mertua Syafri. Iwan susah lama meninggalkan rumah itu menyusul istri dan anak-anaknya untuk tinggal di Bengkulu.

"Masyarakat di sini sudah lama mencurigai kelompok pengajian mereka, termasuk pelaku bom bunuh diri di kantor polisi tersebut, ikut dalam pengajian di rumah Syafri. Orang sini tidak dihiraukannya, bahkan dianggap kafir," ungkap Djuhadi.

Pelaku bom bunuh diri yang dimaksud Djuhadi adalah Rabbial Muslim Nasution (24). Ia tewas seketika setelah meledakan bom yang melekat di tubuhnya pada Rabu (13/11/2019) di Mapolrestabes Medan, Sumut.

Selama tinggal di rumah itu, kata Djuhali, kehidupan Syafri dan istriya sangat tertutup. Mereka hanya berkomunikasi dengan kelompok pengajiannya.

"Gelagat Syafri itu memang sudah lama terlihat mencurigakan. Bahkan, penampilan istrinya pun berubah. Istrinya menggunakan cadar dan juga menjadi orang yang tertutup. Mereka hanya menerima kelompok pengajiannya. Jumlahnya puluhan orang," kata Djuhadi.

Berjarak sekitar 100 meter dari tempat tinggal Syafri, ada rumah Rumah Rudi Suharto yang turut digeledah polisi. Anak Rudi yakni, Aris dan Fadli sudah diamankan polisi. Sementara Andri masih diburon.

Menurut Djuhadi, Syafri selama ini hanya menjalin komunikasi dengan Aris, Andri dan Fadli anak Rudi Suharto.

Selain berkumpul di rumah Syafri, para anggota kelompok yang suka ngumpul di rumah Syafri itu juga diketahui sering bertemu di sebuah gubuk di lokasi tambak udang dan ikan di ujung Lingkungan 20.

Lokasi tambak ini dikelola oleh keluarga Rudi Suharto yang berada di hutan bakau. Jalan menuju lokasi tambak sangat kecil namun sudah dibeton. Letaknya sekitar 40 km dari Medan di pinggir laut. Di tempat inilah kelompok tersebut diduga merakit bom bunuh diri yang digunakan Rabbial.

Setelah peristiwa ledakan bom bunuh diri oleh Rabbial di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/2019) pagi, Syafri bersama tiga orang lainnya, Rabu sore harinya, meninggalkan rumahnya dengan mengendarai dua sepeda motor. Sejak itu, Syafri menghilang.

Rudi Suharto (52) yang akrab dipanggil Ucok, mengaku mengenal Rabbial karena pernah ke rumah menemui tiga orang putranya. "Meski pandangan mata saya samar-samar, saat melihat berita ledakan bom bunuh diri di kantor polisi tersebut, saya sangat yakin bahwa pelaku itu adalah teman ketiga anak saya," ujar Rudi Suharto saat ditemui di rumahnya di Lingkungan 20, Sentosa Barat, Medan Belawan.

Ucok menyampaikan, dirinya baru melihat wajah pelaku bom bunuh diri itu dari berita televisi pascakejadian bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.

"Jujur saya mengakui, anak saya Aris, Adri dan Fadli itu ikut dalam satu perkumpulan pengajian dengan temannya bernama Dedek (Rabbiak) itu. Kegiatan anak saya dalam pengajian itu berjalan sekitar satu tahun. Pelaku bom bunuh diri itu datang kemari dalam tiga bulan terakhir ini. Saya sangat terpukul, sedih dan malu atas kejadian ini," katanya.

Ucok menaruh rasa curiga atas keterkaitan anak - anaknya setelah melihat Andri yang pada sore hari itu pulang ke rumah setelah balik dari lokasi tambak. Saat itu, Andri hendak mengambil nasi untuk makan. Ucok melihat Andri secara sekilas melihat siaran berita di televisi itu. Andri langsung bergegas balik menuju kolam.

"Andri kemudian kembali ke rumah saat saya kembali mengurusi kambing di ladang. Dia mengambil pakaian dan sampai saat ini tidak lagi kelihatan. Saya semakin menaruh rasa curiga ketika melihat Kepala Lingkungan (Kepling) Jehadun Bahar (52), datang menemui saya mencari keberadaan anak - anaknya," ungkapnya.

Ucok kemudian menginterogasi Aris dan Fadli. Dia melarang kedua anaknya ntuk keluar rumah. Ucok kemudian membawa kedua anaknya itu ke rumah kepling Jehadun. Tidak lama kemudian, kepling menghubungi aparat kepolisian. Keduanya pun akhirnya diboyong untuk menjalani proses pemeriksaan.



Sumber: Suara Pembaruan