PWI Siapkan Pendidikan Jurnalistik Jarak Jauh

PWI Siapkan Pendidikan Jurnalistik Jarak Jauh
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal S Depari. (Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih)
Radesman Saragih / JEM Senin, 18 November 2019 | 15:13 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kini menemukan femomena pemberitaan yang buruk dalam perkembangan digitalisasi media di Indonesia. Fenomena tersebut, yakni seringnya media online menyiarkan berita yang serupa persis seperti berita copy paste (foto kopi) dalam waktu bersamaan , padahal berita tersebut tidak bersumber dari satu kantor berita.

Keseragaman berita yang semakin sering mewarnai pemberitaan media massa online tersebut cenderung membuat penghargaan masyarakat terhadap media berkurang. Banyaknya media yang menyiarkan berita serupa persis tersebut berpotensi membuat pembaca semakin enggan membaca berita yang ditayangkan media online.

“Saya juga kurang paham kenapa belakangan ini banyak media online menayangkan berita yang sama persis. Berita tersebut bukan kutipan dari kantor berita. Pemberitaan seperti itu merugikan media online sendiri. Minat masyarakat membaca berita yang sama persis tersebut biasanya rendah. Kemudian pihak google juga biasanya hanya membayar media yang lebih dulu menyiarkan suatu berita. Jadi bila ada media online yang menyiarkan berita sama persis dengan media online lainnya yang telah lebih dulu menyiarkan suatu berita, media tersebut tidak akan mendapat imbalan dari pihak google,” kata Ketua PWI Pusat, Atal S Depari kepada Suara Pembaruan seusai acara syukuran perbaikan kantor PWI Cabang Jambi di Kota Jambi, Sabtu (16/11/2019).

Turut hadir pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun dan Wali Kota Jambi, Syarif Fasha.

Atal S Depari menilai, meningkatnya pemberitaan media online yang bersifat copy paste tersebut berkaitan erat dengan kurangnya kualitas wartawan dan rendahnya kepatuhan wartawan terhadap etik pers. Pemberitaan yang sama persis di beberapa media online menunjukkan wartawan media online tersebut kurang berkualitas. Para wartawan tersebut hanya mengejar penayangan berita untuk memenuhi keperluan berita media mereka.

Menurut Atal S Depari, menyikapi fenomena pemberitaan copy paste tersebut, PWI terus berusaha meningkatkan kualitas wartawan anggota PWI di seluruh Indonesia. Peningkatan kualitas wartawan tersebut dilakukan melalui pendidikan dan latihan, uji kompetensi wartawan dan peningkatan pengetahuan maupun pemahaman wartawan mengenai kode etik jurnalistik.

“Peningkatan kualitas wartawan di era digitalisasi saat ini dan masa mendatang penting agar kualitas berita yang disajikan media semakin berkualitas dan memenuhi norma-norma jurnalistik, bukan berita asal jadi,”ujarnya.

Pembinaan dan pelatihan wartawan anggota PWI, lanjut Atal S Depari tidak hanya dilakukan PWI, tetapi juga perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan PWI. Pihak Astra misalnya sudah mengadakan program pendidikan dan pelatihan wartawan. Namun peserta, waktu dan tempat pelatihan dan pendidikan wartawan tersebut ditentukan sendiri oleh pihak Astra.

“PWI Pusat juga terus berupaya meningkatkan pembinaan dan pelatihan wartawan ke seluruh daerah di Indonesia. Untuk tahun depan, kami mencoba mengadakan pendidikan jurnalistik jarak jauh. Pendidikan jurnalistik jarak jauh tersebut dilakukan memanfaatkan media digital. Pengajar tidak perlu lagi datang ke daerah. Materi pendidikan jurnalistik disampaikan melalui media digital ke kelompok-kelompok belajar wartawan PWI di daerah,”katanya.

Sementara itu, Wali Kota Jambi, Syarif Fasha pada acara syukuran kantor PWI Cabang Jambi tersebut mengatakan, pihaknya juga memiliki perhatian besar melakukan pembinaan wartawan di Kota Jambi. Salah satu program pembinaan tersebut, mengirimkan wartawan melakukan studi banding ke beberapa daerah lain.

“Baru-baru ini kami mengirimkan puluhan wartawan Kota Jambi melakukan studi banding ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau dan Singapura. Melalui studi banding tersebut para wartawan tersebut diharapkan semakin memiliki kemampuan menyajikan berita yang baik dan benar-benar bermanfaat bagi daerah dan masyarakat,”katanya.

Dikatakan, pemberitaan media yang baik dan konstruktif sangat dibutuhkan untuk memajukan pembangunan daerah. Melaluiliputan-liputan wartawan, berbagai kekurangan pembangunan daerah dapat diperbaiki pemerintah dan prestasi pembangunan daerah bisa disiarkan lebih luas.

“Saat ini pemerintah dan masyarakat semakin membutuhkan good news (berita baik), bukan bad news (berita buruk). Karena itu wartawan diharapkan kini semakin perlu menanamkan prinsip the good news is the good news, bukan lagi the bad news is the good news,”katanya.

Sementara itu, acara syukuran kantor PWI Cabang Jambi itu, PWI Cabang Jambi juga memberikan “PWI Jambi Award 2019” kepada Wali Kota Jambi, Syarif Fasha dan mantan Gubernur Jambi, Abdurrahman Sayoeti (alm). Syarif Fasha dianugerahi penghargaan pers tersebut karena dinilai cukup banyak memperhatikan pembinaan wartawan dan konsisten merawat tugu pers yang dibangun tahun 2012 di Kota Jambi. Kemudian mantan Gubernur Jambi, Abdurrahman Sayoeti (alm) mendapat anugerah pers dari PWI Cabang Jambi sebab kantor PWI Cabang Jambi dibangun pada Abdurrahman Saoeti menjadi Gubernur Jambi di era Orde Baru.

 



Sumber: Suara Pembaruan