Tembak Mati Teroris Bukan Melanggar HAM

Tembak Mati Teroris Bukan Melanggar HAM
Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Agus Yohanes ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Senin, 18 November 2019 | 15:21 WIB

Medan, Beritasatu.com - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Agus Yohanes mendukung Polda Sumut dan Densus 88 Antiteror Mabes Polri untuk menumpas teroris sampai ke akar - akarnya, khususnya memberantas kelompok bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution.

"Tindakan tegas aparat kepolisian dengan menembak mati dua terduga teroris di Hamparan Perak, Sabtu akhir pekan lalu tersebut, bukan merupakan bentuk pelanggaran HAM.Tindakan aparat menembak mati terduga teroris itu patut diapresiasi," ujar Agus Yohanes kepada Suara Pembaruan, Senin (18/11/2019).

Agus yang juga mantan aktifis Kontras mengatakan, kelompok aliran keras yang menebar teror di ibu kota Sumut itu merupakan pelaku pelanggaran HAM berat. Kelompok radikal itu juga orang yang tidak beragama. Sebab, ajaran agama tidak pernah mengajarkan maupun membenarkan melakukan pembunuhan.

"Ledakan bom bunuh diri Rabbial Muslim Nasution merupakan momentum bagi aparat kepolisian untuk menumpas habis teroris di Tanah Air. Masyarakat dipastikan memberikan dukungan terhadap aparat, termasuk jika menembak mati kelompok teroris yang memberikan perlawanan," katanya.

Agus yang juga pemerhati kepolisian ini mengungkapkan, kawasan lingkungan yang kurang proaktif dengan pendatang baru merupakan lokasi strategis buat kelompok radikal dalam memperluas jaringannya. Mereka juga lebih muda untuk merencanakan aksi teror di tengah masyarakat.

"Kawasan Hamparan Perak maupun Belawan merupakan lokasi strategis bagi kelompok teroris dalam melebarkan sayapnya. Lokasi itu strategis karena sepi dan tidak jauh dari perairan. Sehingga, mereka bebas melakukan perencanaan termasuk merakit bom untuk menebar teror bom bunuh diri," ungkapnya.

Agus menduga, tidak sedikit warga yang sudah terpapar radikalisme. Indikasi ini terlihat dari aktivitas kelompok itu sudah berjalan lima tahun dalam melakukan perkumpulan pengajian di Medan. Oleh karena itu, aparat kepolisian harus bisa memberantas teroris sampai ke akarnya.

"Memberantas teroris bukan hanya tugas aparat kepolisian semata. Peran serta masyarakat juga dibutuhkan untuk mengawasi lingkungan sekitarnya. Pemerintah pun harus mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (Siskamling). Sediakan anggaran untuk mencegah berkembangnya teroris," imbuhnya.

Menurutnya, pengaktifan siskamling bisa mencegah serangan susulan dari kelompok teroris tersebut. Soalnya, tidak bisa dipungkiri, teroris mempunyai sasaran penyerangan. Selain kantor polisi maupun pusat keramaian, rumah ibadah seperti gereja menjadi incaran dalam menebar teror.

"Dalam waktu dekat akan memasuki bulan Desember. Semua pihak harus mengantisipasi dan mewaspadai serangan bom saat perayaan natal. Kelompok teroris ini selalu memanfaatkan kesempatan, dimana begitu pengamanan lemah maka teror itu dilaksanakan," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan