Terdakwa Penyuap Aspidum Kejati DKI Dituntut 4,5 Tahun Penjara

Terdakwa Penyuap Aspidum Kejati DKI Dituntut 4,5 Tahun Penjara
Ilustrasi (Foto: BSMH)
Fana Suparman / WBP Senin, 18 November 2019 | 20:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Direktur PT Java Indoland, Sendy Pericho untuk dihukum 4 tahun dan 6 bulan pidana penjara serta denda sebesar Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan. Jaksa meyakini Sendy terbukti bersama dengan pengacaranya Alfin Suherman terbukti telah menyuap Agus Winoto selaku Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi (Aspdium Kejati) DKI dan Arih Wira Suranta selaku Jaksa pada Kejati DKI terkait penanganan perkara di Kejati DKI.

"Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini, menyatakan terdakwa Sendy Pericho dan Alfin Suherman terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata Jaksa KPK Wawan Yunarwanto saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (18/11/2019).

Perkara ini bermula saat Sendy, Hary Suwanda dan Raymond Rawung mendirikan perusahaan Chaze Trade Ltd yang berlokasi di apartemen Sahid Sudirman, Jakarta Pusat. Namun, perusahaan tersebut mengalami kerugian dan tutup karena Raymond terjerat masalah hukum. Sendy pun melaporkan Hary dan Raymond ke Polda Metro Jaya. Sendy kemudian menunjuk Alfin Suherman sebagai pengacaranya dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana yang diduga dilakukan Hary dan Raymond.

Arih Wira kemudian ditunjuk untuk mengikuti perkembangan perkara tersebut. Selanjutnya, Sendy dan Alfin menemui Arih Wira di Gedung Kejati DKI untuk berkenalan dan berkoordinasi terkait perkara Hary Suwanda dkk. Alfin Suherman pun disebut jaksa meminta bantuan kepada Tjhin Tje Ming alias Aming agar dikenalkan Agus Winoto dengan maksud berkas perkara Hary Suwanda dkk mendapat perhatian khusus.

Menindaklanjuti permintaan tersebut, jaksa mengatakan Aming meminta Alfin Suherman menemui Yuniar Sinar Pamungkas selaku Kasi Keamanan Negara Ketertiban Umum dan Tindak Pindana Umum Lain Kejati DKI Jakarta. Atas pertemuan itu, jaksa menyebut, Sendy dan Alfin memberikan uang sebesar Rp 150 juta kepada Arih Wira agar berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap dan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat serta memperberat tuntutan pidana Hary.

Namun, dalam perjalanannya, Hary bersepakat dengan Sendy untuk membayar kerugian sekitar Rp 11 miliar dan dibuatkan akta perdamaian. Pada tahap penuntutan Hary, Alfin menemui Aming untuk menghubungi Agus Winoto agar tidak dituntut dua tahun penjara.

Alfin kembali menyerahkan uang Rp 200 juta kepada Arif Wira agar diberikan keringanan tuntutan Hary karena sudah berdamai. Pada akhirnya, Alfin Suherman menyerahkan uang Rp 200 juta serta dokumen perdamaian kepada Yadi Herdianto yang disuruh Yuniar Sinar di Mall Of Indonesia, Jakarta. Uang tersebut untuk diserahkan kepada Agus Winoto di kantornya agar meringanhkan tuntutan Hary. "Berdasarkan uraian diatas, maka unsur memberikan hadiah atau janji terpenuhi secara hukum," tegas Wawan Yunarwanto.

Sementara itu, Alfin Suherman dituntut tiga tahun penjara serta denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan. Meski demikian, Jaksa KPK mengabulkan permohonan justice collaborator (JC) yang diajukan Alfin Suherman. Jaksa menilai, keterangan Alfin sejak penyidikan hingga penuntutan dapat mengungkap adanya pelaku lain. "Sikap terdakwa Alfin Suherman sangat kooperatif dalam memberikan keterangan di persidangan ini haruslah diapresiasi dan selayaknya menjadi alasan yang meringankan tuntutan pidana sehingga melahirkan tuntutan pidana adil," kata Jaksa Wawan.

Selain perkara suap kepada Aspidum Kejati DKI, Alfin Suherman diyakni bersalah memberikan suap kepada empat pejabat Kejati Jawa Tengah. Uang tersebut agar pejabat Kejati Jateng mengurus perkara pemilik PT Suryasemarang Sukses Jayatama, Surya Soedharma.

Empat pejabat tersebut adalah Kusnin selaku Aspidsus Kejati Jawa Tengah menerima Rp 1 miliar, SGD 325.000 dan US$ 20.000, Rustam Efendy selaku Kasi Penuntutan Tindak Pidana Khusus Jateng menerima US$ 10.000, Adi Wicaksana selaku Kasi Eksekusi dan Eksaminasi Tindak Pidana Khusus Kejati Jateng USD 10 ribu serta Benny Chrisnawan selaku Staf Tata Usaha Kejati Jateng menerima US$ 10.000.

Sendy dan Alfin diyakini bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP. (F-5)



Sumber: Suara Pembaruan